51 ; Realisasi

7.9K 904 64
                                        

KETIKA TERBANGUN, NARES masih merasakan pegal di sekujur tubuh. Obat tidur dan pereda nyeri yang sempat dia konsumsi pagi tadi ternyata sudah tak berefek. Dia perlu kembali meminum obat selama masa pemulihan.

Menurut Dokter Frans, dia beruntung karena tak mengalami patah tulang ataupun cedera parah setelah dipukuli belasan orang. Pergelangan kakinya hanya terkilir. Lengan yang berkali-kali menahan pukulan senjata tumpul pun hanya dihiasi memar. Organ dalamnya tak ada yang bermasalah. Hanya luka lecet dan lebam yang sangat jelas terlihat.

Luka-luka itu akan hilang paling cepat dalam dua minggu. Kondisi tubuhnya baru akan sembuh total setelah satu bulan. Selama rentang waktu itu, dia tak boleh terlibat perkelahian lain, kecuali dia ingin tubuhnya remuk sekalian.

Nares menatap kosong langit-langit ruangan yang bukan miliknya.

Pagi tadi, setelah mengantarnya ke kediaman Dokter Frans, Gala membawa Nares ke rumahnya alih-alih ke apartemen atau ke rumah Wilona. Keputusan itu sempat Nares tentang habis-habisan. Namun, dia tak bisa berbuat banyak karena dia sudah terlanjur masuk ke dalam mobil. Tubuhnya sudah sangat lemas dan dia tak memiliki sisa tenaga untuk melawan kehendak sosok tersebut.

Alhasil, di sinilah dia sekarang, terdampar di rumah seseorang yang amat dihindarinya.

Nares masih tak mengetahui intensi sang kakak tiri. Akan tetapi, untuk sekarang, dia akan mencoba untuk sedikit mengabaikannya.

Kepalanya masih berdentum-dentum dan dia masih sulit mencerna realita di sekitarnya. Dadanya nyeri oleh sesuatu yang bukan disebabkan luka fisik.

Nares memilih untuk bergelung di kamar itu, sedikit lega dengan tirai jendela yang masih ditutup. Dia tidur hampir seharian di sana, meski beberapa saat lalu dia sempat mendengar pintu kamar yang terbuka.

Saat kembali terbangun, hari sudah hampir sore. Jarum jam menunjukkan pukul tiga.

Nakas di sebelahnya tak lagi kosong. Sudah ada makanan dan obat-obatan yang disiapkan di sana.

Nares mengusap kasar wajahnya. Dia hampir melempar nampan dan peralatan makan itu ke atas lantai kalau saja pintu kamar tidak terbuka. Figur familier sang kakak muncul di depannya. Dia berdiri di ambang pintu ditemani oleh seseorang, sosok wanita yang sudah dikenalnya sejak setahun lalu, sosok yang hampir selalu mengulitinya dengan perkataan.

Nares menyipitkan mata. Dia refleks menopang tubuhnya dengan siku, memaksakan diri untuk bangkit dari posisi tidur.

"Kenapa dia ada di sini?" sentak Nares langsung, suaranya serak, tenggorokannya kering.

"Karena kamu sedang tidak stabil, Mas Nares," balas si wanita, Lydia. Dia menoleh pada Gala, kemudian mengangguk. "Terima kasih sudah mengantar saya langsung ke sini. Biar saya yang menemani Mas Nares sebentar."

Nares mengatupkan mulut rapat-rapat. Kepalanya masih pening. Telinganya serasa berdenging. Dia memijat pelan pelipisnya dan menatap tajam ke arah sang kakak.

"Lo sengaja manggil dia ke sini?!" tuduhnya terang-terangan.

Gala melebarkan pintu, memberi ruang bagi sang terapis untuk masuk.

"Dia lebih memahami kondisi lo dibandingkan orang lain," jelas Gala, final. Dia lalu kembali menoleh pada tamu yang diundangnya. "Silakan panggil saya kalau ada yang dibutuhkan. Pintu ini akan tetap saya buka, mengantisipasi kalau dia macam-macam—"

"Oh, tidak perlu, Mas Gala. Dibuka sedikit saja," timpal sang terapis. Dia tersenyum simpul. "Saya sudah cukup lama mengenal Mas Nares. Dia ... tidak akan memukul perempuan."

Gala terdiam sesaat, kemudian dia mengangguk dan beranjak dari sana.

Nares menatap sang terapis cukup lama. Ketika sosok itu berjalan mendekat, dia segera mengalihkan pandangan, melihat tirai jendela yang masih tertutup rapat. Matanya kembali melihat Lydia ketika wanita paruh baya itu menghampiri tirai dan membukanya, membiarkan cahaya matahari sore memasuki ruangan.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang