KETIKA WILONA DATANG, putri bungsu sang kakak ipar sudah berdiri di ranjang bayi. Mata bulatnya menyipit karena tangis. Pipi tembamnya dihiasi linangan air mata. Kedua tangan kecilnya berpegangan pada crib rail, pagar penyangga yang melengkapi ranjang.
Tangisannya terdengar nyaring. Namun, tangisan itu mulai reda begitu melihat kedatangan seseorang.
Wilona ditatap dengan mata bulatnya. Dia masih terisak, tetapi tak lagi menjeritkan tangis. Sekilas, caranya menatap terlihat awas. Wilona pun mengulas senyum. Dia berusaha mendekat tanpa menimbulkan rasa takut bagi si kecil.
"Senara baru bangun, ya?" Wilona mencoba mengajaknya bicara. "Bunda kamu sedang masak di dapur. Senara mau ikut Tante dulu? Nanti kita susul bunda."
Tangis sosok kecil itu sudah sepenuhnya reda. Dia mengerjap, kembali memperhatikan orang asing yang menyebut dirinya sebagai tante. Dengan suara pelan yang terdengar serak, dia bertanya, "Bunda? Dapur?"
Suaranya terdengar cadel, tetapi masih dapat dipahami oleh Wilona. Senara seolah mulai terlatih untuk berbicara meski masih dengan kata-kata yang terbatas.
Wilona mengangguk.
"Betul, bunda kamu lagi di dapur. Senara sama Tante dulu, ya?"
Wilona mengulurkan tangan, hendak membopong anak berusia satu tahun itu. Senara masih tampak awas, tetapi dia bersedia mengangkat tangan dan dibopong oleh sang bibi.
Wilona mengelus punggung mungil itu. Dia tersenyum simpul ketika merasakan Senara yang langsung bersandar di pundaknya. Pipi tembamnya menumpu di bahu sang bibi. Dia kembali menguap ketika Wilona mengusapkan jari di bawah matanya, mencoba menyapu bekas air mata yang ada di sana.
Mata yang habis menangis kini terlihat mengantuk. Wilona mengusap pelan surai lembut sang bayi. Dia berjalan ke dapur untuk menghampiri Gema.
Selagi bergegas ke sana, dia sempat berpapasan dengan Nares. Pria itu membawa dua buah kursi lipat di satu tangan dan sebuah meja lipat di tangan yang lain. Langkahnya terhenti begitu mendapati sang istri. Apalagi ketika melihat rekahan senyum di bibirnya.
"Nares, lihat," ucap Wilona dengan spontan. Dia mengelus surai lembut keponakan barunya. "Senara ternyata selucu ini."
Saat itu, tak hanya Wilona yang menyadari kehadiran sang pria. Si kecil juga melihatnya. Dibandingkan Wilona, Nares adalah sosok yang sudah dikenali Senara. Senara juga tak lagi takut atau malu kalau sudah melihat adik dari sang ayah.
Telunjuk kecilnya tertuju pada Nares. Selagi masih bersandar nyaman pada bahu sang bibi, dia berujar, "Om Nares," dengan nada bicara mengantuk yang terdengar cadel, sulit dipahami oleh orang dewasa.
Nares menatap sang bayi, kemudian mendengkus pelan.
"Sama Wilona aja langsung mau digendong lo. Kalau sama gue maunya turun terus," ujar Nares dengan nada bicara yang terlampau kasual, seakan dia tidak sedang mengajak bicara anak satu tahun yang mungkin belum terlalu memahami makna ucapannya.
Senara kembali mengerjap. Dia lalu makin bersandar nyaman di pundak bibi barunya.
"Berisik," kata si anak.
Wilona tak tahu pasti makna dari ocehan itu. Namun, dia bersumpah kata yang barusan terlontar dari mulut sosok kecil ini menyerupai kata berisik.
Nares sepertinya mendengar hal yang sama. Wilona melihatnya yang tersenyum geram.
"Bapak, kakak, sama adek sama aja," komentar Nares. Dia lalu menatap Wilona dan mengedikkan dagu ke arah keponakannya. "Mukanya doang yang lucu. Dia aslinya nyebelin. Mirip bapaknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
Roman d'amourBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)