"APA YANG KAMU coba sembunyikan dari dirimu sendiri?" Lydia sempat menanyakan sesuatu semacam ini kepadanya. "Apa yang membuat kamu terus-terusan lari dan dengan putus asa mencoba untuk diakui oleh orang-orang? Kenapa kamu sangat ingin menjadi bagian dari sesuatu?"
Nares masih terngiang tiap pertanyaan yang terlontar secara retoris.
"What did you seek, Nareswara? Apakah kamu nggak tahan buat berdiri sendiri? Apakah kamu merasa kurang dengan dirimu sendiri? Mengapa kamu terus mengasosiasikan dirimu dengan orang-orang itu ketika kamu tahu mereka adalah orang yang merugikanmu?" Lydia pernah mencecar pertanyaan ini, rentetan pertanyaan yang tak pernah dijawabnya. "Do you feel incomplete? Kamu merasa inferior dari seseorang sehingga kamu menutupi kekurangan itu dengan bergabung bersama kelompok yang tak seharusnya? Rela merangkul sesuatu yang berbahaya, selagi mereka memberimu kenyamanan?"
Lydia bertanya.
Akan tetapi, Nares merasa bahwa perempuan itu sedang mengulitinya.
"Kamu merasa tidak cukup dengan diri kamu? Atau justru kamu membenci dirimu sendiri?" Pertanyaan menusuk itu pun pernah ditodongkan padanya, akibat dia yang terlalu lama bungkam. "Kamu tahu, Mas Nares? Sekarang ini, semua tindakan kamu sudah mengarah pada tindakan merusak diri, singkatnya self-destruct behavior. Kamu mungkin belum menyadari, tapi tindakan repetitif dengan terus mengonsumsi sabu dan memosisikan diri dengan bertindak ekstrem sampai hampir dipenjarakan, hanya akan merusak dirimu. Apakah kamu sadar? Atau kamu memang nggak peduli karena tujuanmu memang ingin menghukum dirimu sendiri?"
Nares selalu bungkam sepanjang masa-masa konsultasi dan terapi. Tindakannya mempersulit pekerjaan sang psikolog. Dia seolah menolak untuk pulih. Dia tidak mau sisi rapuhnya terlihat.
"Kamu nggak akan bisa melangkah lebih jauh dari titik ini kalau kamu tetap begini. Menyangkal kekurangan dirimu hanya akan membuat hidupmu lebih buruk. Try to understand yourself first. Rangkul kekuranganmu. Setelah itu, pikirkan setitik kelebihan dalam dirimu. Apresiasi diri, biar kamu bisa merencanakan hidup yang lebih baik. Narkotika hanya akan makin menenggelamkanmu."
Terang nyala lampu terasa menusuk mata. Nares mengernyit sakit ketika merasakan pegal dan nyeri di sekujur tubuh, tepat setelah dia terbangun dari pingsan.
Kepalanya pening dan berdentum-dentum. Kerongkongannya kering bukan main. Persendian tubuhnya juga meraung sakit ketika digerakkan.
Sekujur tubuhnya kaku. Dia terlalu sibuk merasakan sakit sampai terlambat menyadari adanya potongan-potongan es batu yang diletakkan di atas pundak, menyender hingga menyentuh rahang dan pipi. Es batu tersebut dibungkus plastik dan kain handuk. Dinginnya tidak menyengat, tetapi cukup membantu meredakan nyeri bekas pukulan di rahangnya.
Nares mencoba menggali ingatan yang sempat pudar. Dia mengulang kronologi tadi malam di kepalanya, momen ketika dia mendatangi Jonathan, hingga dia yang hampir terbunuh akibat keroyokan orang suruhan si bajingan.
Ingatannya terasa samar. Namun, sebelum benar-benar pingsan, dia masih sempat melihat kedatangan Dewan, menyaksikannya yang menuntaskan sisa keributan di sana, dan bahkan sempat membuat Jonathan melolong kesakitan setelah terkena pukulan.
Nares tak begitu ingat kapan Dewan membawanya pergi. Namun, dari posisinya sekarang, tampaknya pria itu memang telah mengangkutnya keluar dari gedung rusak itu. Dia lagi-lagi menolongnya yang hampir sekarat. Dia seolah sengaja menjeratnya dengan utang budi semacam ini.
Keberadaannya di sini hanya akan membawanya pada masalah lain.
Nares memaksakan diri untuk duduk. Dia mendesis sakit saat tubuh kakunya terasa menjerit-jerit, menolak untuk digerakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomantikBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)