46 ; Ketakutan

9.7K 931 79
                                        

RASA MARAH DAN kecewa masih bergemuruh di dalam dada. Suasana hati Nares belum membaik. Namun, setidaknya sekarang dia sudah bisa bersikap tidak acuh atas kegagalan makan malam itu.

Berkeliling kota dengan ditemani embusan angin malam berhasil membantunya untuk meluapkan kemarahan dan kekecewaan. Samar efek alkohol juga mempermudahnya untuk sedikit melupakan penolakan seorang wanita.

Satu hal yang kini dibutuhkan Nares adalah istirahat. Dia akan tidur dengan puas tanpa gangguan. Bagaimanapun juga, esok hari adalah akhir pekan. Nares akan menggunakan hari itu untuk mengisolasi diri hingga rasa marah dan kecewanya reda. Dengan begitu, mungkin dia bisa lebih siap untuk kembali menghadapi Wilona.

Saat ini, menyendiri terdengar jauh lebih baik dibanding menghadapi seseorang yang menjadi pemantik rasa kecewanya.

Nares mengisap gulungan tembakau untuk terakhir kali. Dia lalu, membuangnya di tempat sampah terdekat sebelum lanjut berjalan menuju pintu apartemen.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Nares menatapnya sekilas, kemudian dia menutup pintu dan menguncinya.

Tempat tinggal yang sudah lama tak dikunjungi sudah mulai terlihat berdebu. Akan tetapi, sekarang Nares tak memiliki tenaga ataupun dorongan untuk membersihkannya. Lusa ... mungkin dia akan memanggil jasa pembersih untuk kembali merapikan tempat ini.

Menyalakan beberapa lampu ruangan, Nares melangkah lunglai menuju kamar. Dia melucuti pakaian dan menghampiri kamar mandi. Rambutnya tampak basah begitu dia keluar dari sana.

Ponsel di sakunya telah tergeletak di atas ranjang. Nares menaruhnya dengan sembarang, sementara dia mengambil sisa pakaian yang sengaja ditinggal di tempat ini.

Begitu merasa lebih segar dan nyaman, Nares menjatuhkan diri ke atas ranjang. Kepalanya masih terasa pening. Namun, guyuran air dingin tadi cukup untuk meredakan tumpukan letih di tubuhnya. Dia memejamkan mata selagi menikmati embusan ringan dari pendingin ruangan.

Getaran ponsel membuatnya membuka mata. Dia melirik benda tersebut dengan malas, kemudian kembali memejamkan mata lagi. Samar rasa kantuk membuatnya enggan memeriksa apa pun dari ponselnya. Lagi pula, siapa juga orang sialan yang menghubunginya tengah malam seperti ini?

Apakah mungkin Wilona masih mencoba meminta maaf padanya?

Apakah perempuan itu masih mengharapkannya untuk tidak marah setelah ditolak mentah-mentah? Padahal saat itu dia juga sudah rela menunggunya hingga lebih dari tiga jam.

Asumsi tersebut makin membuat Nares enggan untuk memeriksa ponsel.

Dia baru kembali membuka mata ketika ponselnya bergetar lagi, menandakan masuknya rentetan pesan baru untuk ke sekian kali.

Nares berdecak pelan. Dia mengulurkan tangan dan meraih ponsel guna mematikannya. Hanya saja, saat itu pesan-pesan dari sebuah nomor asing berhasil menghentikan niat awalnya.

Nares mengerutkan kening samar, dia kemudian membuka kunci layar alih-alih mematikan benda tersebut. Jemarinya membuka pesan baru yang muncul pada menu notifikasi. Manik matanya menatap lurus layar ponsel. Rasa kantuk yang sempat menerpa mulai memudar begitu dia melihat isi pesan-pesan itu.

Ada beberapa foto dan video yang dikirimkan padanya. Ada pula beberapa pesan ancaman dan cemoohan yang membuat ekspresinya mengeras.

Video pertama, Nares membukanya. Dia menatap kosong ketika melihat sebuah pergumulan yang terekam di sana, terdapat wajah seorang wanita yang sempat dikenalnya. Wanita itu ditemani oleh seorang pria yang tak lain adalah dirinya sendiri.

Nares tidak terlalu ingat siapa wanita itu. Namun, begitu melihat lima belas detik pertama dari video tersebut, dia langsung tahu siapa sosok yang tidur dengannya. Dia juga ingat, waktu spesifik ketika mereka melakukannya.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang