50 ; Pertolongan

8K 954 196
                                        

NARES TERLIHAT KAKU begitu mereka bertatapan. Pandangannya menajam, tubuhnya menegang. Dia mengalihkan pandangan dan kembali menoleh pada Dewan, membuka mulut dan memintanya melanjutkan suntikan.

"Cepat suntik," ujarnya dengan penuh penekanan. "Atau gue sendiri yang pakai."

Dewan ikut mengalihkan pandangan. Kini kembali mengurus kepentingan yang sempat tertunda. Dia sempat melirik tamu baru mereka, tetapi sama-sama ikut mengabaikannya.

"Sure," balasnya singkat. Dia kembali menjentikkan jari, memeriksa jarum yang akan dipakai. "Ini kesepakatan kita berdua. Pihak ketiga nggak berhak memutuskan ini buat lo."

"Lakukan itu dan kalian berdua yang akan saya seret langsung ke penjara," tandas tamu itu, Sagala. Suaranya kaku, sarat akan kemarahan. Dia mendekat dengan langkah lebar. Ekspresi marah tercetak jelas di wajahnya. Dia menatap Nares lurus-lurus, kemudian melirik pada Dewan. "Gue ngomong sama lo, Nares. Dan kamu, Dewan." Gala telah berdiri di dekat mereka, tanpa aba-aba, dia telah menarik tangan Nares dari genggaman si bandar narkoba, menjauhkan tangan yang hampir tertusuk jarum suntik. "Peringatan saya yang dulu seharusnya kamu dengar. Jangan ikut campur lagi dengan urusan keluarga saya."

Dewan, dengan tak disangka-sangka, tidak menahan Nares yang telah ditarik paksa oleh kakak tirinya. Dia membiarkan Gala begitu saja.

"Ah, jadi Nareswara itu bagian dari keluarga lo?"

Gala mengerutkan kening dalam-dalam, tak menyukai cara bicara sosok di hadapannya.

"Saya tahu seluk beluk kamu dan seluruh jejak kriminalitasmu," Gala menekankan, "kamu salah satu gembong narkoba terbesar di Asia Tenggara. Saya tahu orang-orang yang bekerja untuk kamu. Beberapa dari mereka ada yang menjadi rekan bisnis perusahaan kami. Itulah kenapa dulu kamu gencar buat dapat akses bisnis lewat Nares," jelas Gala panjang lebar. "Investor terbesarmu ada yang bisnisnya bergantung ke Dikara. Kalau kamu nggak mau kehilangan salah satu sumber terbesar pendapatanmu, sebaiknya kamu nggak ikut campur lagi sama urusan Caturangga."

"What the fuck?! Lo nge-bullshit apa lagi?" sela Nares di antara percakapan dua orang di hadapannya. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang kakak. "Kenapa lo selalu ikut campur urusan gue?! Dan ini, lo pikir gue bisa ditarik-tarik paksa—"

"I'm saving your ass!" tukas Gala, kentara sekali termakan kesal. Kaku di wajahnya telah menunjukkan rasa frustrasi. Dia berusaha keras menahan kemarahannya. "Kita bicara nanti. Sekarang, gue cuma mau ngingetin satu orang ini."

Gala kembali menatap Dewan, lelaki yang kini telah mendengkus pelan dengan senyuman malas di wajahnya.

"Heh, ini yang bikin gue males berurusan sama kakak lo, Res," ujarnya lugas. Dia mengembuskan napas panjang, seakan terdengar kecewa. "Dia tau terlalu banyak."

"Kamu nggak akan dapat akses buat mencampuri bisnis Dikara Group lagi," timpal Gala kemudian, mengabaikan omong kosong yang dikatakan Dewan. "Nggak ada keuntungan lain yang bisa kalian curi dari kami. Kalau kamu masih kukuh melakukan itu, tempat ini adalah tempat pertama yang akan saya tutup akses operasionalnya."

Dewan menatapnya lurus-lurus. Dia kemudian tersenyum samar.

"Ada orang semacam gue yang berpihak ke lo?" tanyanya blak-blakan. "Orang yang selama ini gantiin gue buat nyetok sabu buat dia? Si Dokter Gila?"

"Itu bukan urusanmu," sergah Gala. Dia kemudian menatap Nares, memintanya berdiri dan mengikutinya untuk pergi.

Nares berusaha untuk menyentak cengkeraman di tangannya, tetapi dia tak memiliki sisa tenaga setelah dipukuli oleh belasan orang.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang