80 ; Kenalan Lama

6.5K 724 24
                                        

SPANDUK ACARA BERTULISKAN Wastra Nova Collection, sebagai representasi tema produk pakaian kolaborasi Frimora dan Eluxa, segera tampak dalam pandangan setelah Wilona memasuki ruangan.

Lokasi yang bertempat di salah satu ballroom hotel mewah di Yogyakarta ini terlihat lebih luas dari yang Wilona bayangkan. Gabungan pelaksanaan tiga acara sekaligus mungkin menjadi alasan dipilihnya lokasi yang luas ini. Ketika baru memasuki ruangan, Wilona langsung disambut oleh sebuah panggung utama dengan dua layar digital di masing-masing sisinya dan juga tiga buah stand yang berbeda.

Masing-masing stand ini berada di area samping ruangan. Tiap stand digunakan sebagai media pengenalan produk pakaian dan kosmetik milik Frimora dan Eluxa, pengenalan produk peralatan rumah tangga, dan juga ruang pemaparan khusus mengenai acara amal yang melibatkan organisasi nonprofit yang bekerja sama dengan Metro Karya.

Meja dan kursi tamu disusun melingkar. Tempat duduk itu juga dibagi menjadi empat kategori, yakni untuk tamu eksekutif dari ketiga perusahaan dan perwakilan organisasi nonprofit, para selebriti atau influencer yang menjadi mitra produk terbaru, kursi untuk para pelanggan VIP, serta tempat khusus untuk para awak media yang diundang guna meliput acara.

Ketika Wilona datang, meja dan kursi itu belum banyak terisi. Dari sekitar dua ratus tamu undangan, mungkin baru dua puluh lima orang yang hadir. Mereka masih mempunyai waktu sekitar satu jam lagi hingga acara dimulai.

Wilona ikut mengisi daftar hadir tamu saat pertama kali memasuki tempat ini. Nares melakukan hal yang sama. Mereka beranjak menuju meja dan kursi yang sudah ditempati tamu-tamu eksekutif. Selain perwakilan dari tiga perusahaan yang berbeda dan juga organisasi nonprofit, acara ini turut mengundang investor dari tiap perusahaan.

Wilona langsung menyapa Diandra yang sudah standby untuk menyambut tamu besar mereka. Nares mengangguk sopan dan menjabat tangannya begitu mereka berpapasan. Walaupun begitu, dia tak sempat bercengkerama dengan kolega Wilona karena sudah harus menghampiri Christian, partner sekaligus direktur departemennya.

Wilona menyalami para investor Frimora yang sudah sempat ditemani Diandra. Salah seorang dari mereka turut meraihnya ke dalam pelukan. Perempuan paruh baya itu menepuk pelan punggung Wilona, menanyakan kabarnya, dan juga ikut menyapa putri kecilnya.

Wilona menoleh pada Tabita yang setengah bersembunyi di sampingnya. Dia memegang gaun sang ibu, kemudian menunduk ketika sang tamu mengajaknya bicara.

Wilona melengkungkan senyum. Dia mengusap pelan pundak Tabita, menenangkan sekaligus mengenalkan wanita paruh baya itu pada putri kecilnya.

"Salim dulu, Tabita. Ini Tante Windy, kenalan Mami. Ayo, nggak perlu malu-malu."

Tabita menoleh padanya. Dia masih tampak ragu.

Perempuan yang dikenalkan Wilona ikut tersenyum. Dia sedikit menunduk agar bisa berdiri lebih dekat dengan si anak.

"Wah, kamu udah besar ternyata. Terakhir kali Tante lihat kamu, kamu baru bisa jalan. Iya 'kan, Wilo? Aku udah lama banget nggak lihat putrimu ini."

Wilona balas tersenyum. Dia mengangguk mengiakan.

"Betul, Ibu. Dulu saya cuma bawa Tabita sekali waktu kami mengadakan acara ulang tahun Frimora. Setelahnya, sebisa mungkin saya nggak bawa dia, kecuali memang rumah sedang kosong," jelas Wilona panjang. Dia kembali mendaratkan pandangan pada putrinya. "Kebetulan hari ini acaranya di luar kota, jadi sekalian saya mengajak dia. Buat jalan-jalan juga."

"Nah, harus, dong. Di sini 'kan yang hadir bukan cuma maminya, tapi kakek sama om dan tantenya," timpal kenalan Wilona. "Tabita sekarang kelas berapa, Nak?"

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang