57 ; Kontrak

6.3K 700 21
                                        

PROSES PERTEMUAN DAN penandatanganan kontrak dengan Direktur Mapa sedikit berbeda dari yang Nares pikirkan.

Dua hari berlalu sejak dia mengunjungi rumah Gala. Pada hari itu, dia bertemu Cakra untuk membicarakan penandatangan kontrak dengan sang direktur. Alih-alih disuruh mengunjungi perusahaan, Nares diminta berkunjung ke Bandung dan mendaftarkan diri sebagai anggota VIP sebuah resor golf. Tempatnya berada di area pariwisata yang asri. Sebelum menyetujui kontrak, dia sudah harus membayar biaya pendaftaran awal sebagai anggota VIP.

Prosedur yang demikian menuai tanya dalam benaknya. Ketika mendengar penjabaran itu, dia kembali ragu dan memutuskan untuk bertanya pada Varen. Pria yang menjadi informannya itu meminta Nares untuk mengikuti saja prosedur tersebut. Dia bahkan rela bertanggung jawab jika Nares berakhir dijebak.

Ucapan Varen cukup meyakinkannya untuk mengikuti arahan Cakra. Tiga hari sebelum jadwal pertemuan, dia menghubungi Gala untuk memberitahukan rencana ini. Mereka menemui Dokter Frans dan seorang pengacara yang akan mendampinginya ke Bandung. Sehari berikutnya, dia berangkat ke kota itu.

Resort yang mereka kunjungi terbilang cukup megah. Lokasinya berada di area pegunungan. Udaranya masih sangat asri. Pepohonan rindang menghiasi jalan dan area penginapan. Ketika baru datang, Nares langsung diarahkan kepada resepsionis. Mereka mencatat keperluan Nares dan segera menyerahkannya ke seorang staf lain begitu dia menyebutkan pendaftaran sebagai anggota VIP.

Pria dengan seragam bak pelayan hotel menuntunnya ke kantor yang berada di gedung lain. Tak seperti bangunan awal tadi, tempat ini jauh lebih sepi. Dia tak melihat adanya resepsionis atau pekerja yang berlalu-lalang di koridor. Pria yang mengantarnya segera menunjukkan ruang kantor di lantai dua. Nares memasuki ruangan sendiri, sementara si pengacara disuruh menunggu di lobi.

Begitu melangkahkan kaki di sana, dia segera disuguhi dengan ruang kantor yang luas dan tampak penuh. Tiga buah rak besar memakan luas ruangan. Buku-buku koleksi saling berjajar, memenuhi rak bersama dengan kotak-kotak dokumen. Seakan masih belum cukup, buku dan dokumen-dokumen lain ada juga yang ditumpuk di atas lantai. Jumlahnya terbilang banyak karena tampak menggunung.

Pada meja utama, terdapat sebuah monitor berlayar lebar. Meja itu tidak selamat dari tumpukan dokumen yang memenuhinya.

Alih-alih ruang kantor, tempat yang dilihat Nares sekarang lebih menyerupai perpustakaan yang kelebihan muatan.

Namun, Nares memilih untuk tutup mulut begitu dia melihat seseorang yang berada di sana. Seorang pria berkemeja putih melirik ke arahnya. Dia menaruh dokumen yang sedang dibacanya ke dalam rak, kemudian langsung mengonfirmasi kedatangannya dengan bertanya, "Kiriman Cakra?"

Sebutan itu terdengar janggal di telinga. Akan tetapi, Nares tetap mengiakan.

Dia melihat lelaki berkacamata itu yang mengangguk. Dia memperbaiki lipatan lengan kemeja di sikunya, kemudian menunjuk kursi di depan meja untuk menyuruh Nares duduk.

Rambut gondrongnya sedikit mengingatkan Nares pada Varen. Wajah datarnya mengingatkan dia pada Cakra. Kesan berantakan di kantor ini dan juga gurat lelah di bawah matanya membuat dia terlihat seperti karyawan yang terlalu banyak bekerja.

Ketika melihat sosok ini, Nares mengasumsikan bahwa dia memiliki posisi yang sama seperti Cakra dan Varen. Meskipun tak terlihat setangkas Cakra, ataupun selicik Varen, Nares tetap merasakan kesan asing yang serupa, sesuatu yang menyuruhnya awas dan tak menanggalkan kewaspadaan.

Kesan tersebut tak terlihat secara langsung, tetapi orang-orang ini memancarkan aura yang tak menyenangkan. Mereka seolah bisa mengancam keselamatanmu kapan saja.

"Atas nama?" tanyanya langsung selagi menatap layar monitor. Tangannya telah menggenggam tetikus.

"Nareswara Caturangga," jawab Nares spontan.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang