60 ; Dukungan

8.2K 938 57
                                        

DETIK YANG BERLALU terasa hampa. Wilona memang telah bangun dari koma. Namun, sorot mata dan pucat wajahnya menyerupai mereka yang tak lagi bernyawa.

Tatapan itu kosong. Pertanyaan yang terlontar jarang mendapatkan respons.

Wilona seakan membatasi dirinya dengan realita, supaya dia tak perlu lagi mengingat musibah menakutkan yang sempat menerjangnya. Dia menjauhkan diri dari kesadaran. Dia menulikan diri dan mencoba menutup mata. Indra di tubuhnya seolah tak lagi berfungsi. Dia merasa kebas. Mati. Dan mungkin, dia memang telah kehilangan sisa kewarasannya ini.

Benang rasionalitas itu terputus.

Dorongan untuk mengakhiri hidup kembali muncul, berseru di kepalanya, mengatakan bahwa hidupnya tak lagi berguna.

Wilona mungkin akan melakukannya lagi jika dia menemukan sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk kembali memotong denyut nadi.

Hanya saja, pihak rumah sakit sudah mengantisipasi. Tidak ada benda tajam yang berada dalam jangkauannya.

Dia tak bisa lagi lari.

Dia dipaksa untuk menghadapi hidup yang tak diinginkannya.

"Should I buy you another book?"

Suara itu menarik Wilona dari pikiran kosongnya.

"Apa yang mungkin bisa bikin lo lebih tenang?"

Wilona menoleh, mendapati Nares yang baru kembali dari kantor. Dia masih mengenakan pakaian kerja, kemejanya sedikit lusuh, wajahnya terlihat lelah. Namun, dia masih datang ke tempat ini, seperti hari-hari yang lalu.

Pembawaan diri pria itu tampak berbeda. Wilona tidak tahu pasti hal apa yang mengubahnya.

Yang dia tahu hanyalah usaha Nares untuk terus di sini, menemani.

Fakta itu tak membuatnya merasa lebih baik. Yang dirasakan adalah sebaliknya. Kehadiran Nares membuatnya sulit bernapas.

Dia tidak ingin dan tidak bisa terus-terusan berhadapan dengannya.

Wilona memalingkan wajah. Dia sedikit mengubah posisi duduk untuk kembali berbaring. Pertanyaan Nares hanya dibalas dengan gelengan pelan.

Wilona masih merasakan tatapan Nares padanya. Namun, dia telah berusaha menutup mata, berharap agar efek obat bisa mengantarkannya pada kegelapan yang sama seperti saat dia berstatus koma.

"Gue harap lo nggak nyerah," kata Nares, terdengar sayup di telinga Wilona. "I need you to live, for yourself." Nares menjeda perkataannya. Dia merasakan ganjalan menyakitkan di tenggorokan, menyulitkannya untuk terus berbicara. "Gue yang akan ngurus sisa masalahnya. Ada yang udah gue lakukan sekarang. Gue nggak akan kasih tau apa. Tapi, kita bisa bicarakan itu kalau lo udah siap."

Wilona telah berbaring ke arah samping, memunggungi sosok yang mengajaknya bicara.

Dia membuka mata, menatap nanar jendela kamar yang tertutup. Maniknya berkaca-kaca. Bibirnya mengatup.

Ucapan Nares tak dibalasnya.

"I won't leave you behind," tambah Nares, terdengar lebih pelan. "And I won't let you hurt yourself again."

Wilona memegang erat tepi selimutnya. Dia menarik napas pendek dan berusaha mengenyahkan ucapan Nares dari pikiran.

Dia tidak ingin Nares melakukan semua itu.

Dia tidak ingin Nares mengusahakan sesuatu yang sia-sia.

Tidak seharusnya pria itu bertahan untuk seseorang yang tak lagi berharga.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang