72 ; Awal Baru

9.9K 1K 188
                                        

SEPERTI BIASA, WILONA bangun lebih awal dibanding suaminya.

Mentari pagi masih terbenam. Suasana kamar masih temaram. Wilona bangkit selagi mengerjap pelan. Piyama satin yang dipakainya terembus pendingin ruangan. Dia mengusap lengan telanjangnya, sedikit merasa kedinginan. Kemudian, dia membenarkan posisi tali piyama yang tersampir di samping pundak.

Ketika melakukannya, dengan tak sengaja dia turut menyentuh lekuk leher yang berpotongan langsung dengan pundak. Samar rasa pegal membuatnya menyipitkan mata. Wilona kembali meraba area tersebut, kali ini dengan seksama, menggunakan jari. Beberapa titik yang disentuhnya ternyata memang terasa sedikit pegal. Wilona mengernyit, lalu mengembuskan napas pelan. Dia segera menurunkan tangannya dan hendak beranjak dari ranjang.

Tepat di sampingnya, seorang pria masih terlelap. Wilona menatapnya sesaat, kemudian menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos udara dingin. Nares tidur tanpa repot-repot kembali mengenakan kausnya. Dia mungkin memang benar-benar tahan dengan dinginnya udara, berbanding terbalik dengannya.

Wilona mengikat rambut selagi menuruni ranjang. Dia termenung sesaat ketika mengingat kejadian tadi malam. Intimasi mereka malam tadi memang tak bisa dibilang lancar. Wilona masih memiliki segumpal ketakutan yang sulit diatasi. Dia sempat hampir mengacaukan momen pertama ini. Untung saja, Nares dapat menenangkannya. Lelaki itu juga menuntunnya untuk membuka mata dan berhenti terpaku pada bisikan negatif di kepala.

Caranya melakukan itu memang sedikit memaksa. Namun, setelah mereka menyelesaikannya, Wilona tak sedikit pun merasakan penyesalan. Tak ada kesan pahit yang tertinggal. Tak ada rasa terhina yang menggerogoti benaknya.

Wilona merasa aman. Penilaian negatif terhadap hubungan badan kini mulai berkurang. Wilona tak setakut itu lagi, meski dia belum benar-benar nyaman untuk kembali melakukannya.

Percobaan pertama mungkin memang takkan bisa langsung mengenyahkan luka yang sudah terukir lama. Dia masih perlu membiasakan diri agar bisa lebih mengenal dan menerima sentuhan sang suami.

Wilona mengambil jubah handuk bersih dari lemari. Dia keluar kamar dan menapakkan kaki di lantai dingin kamar mandi. Begitu sampai di sana, dia segera menyalakan lampu dan menatap refleksi dirinya melalui cermin. Area leher yang terasa pegal ternyata memang meninggalkan bekas kemerahan.

Tanda cumbuan itu tercetak jelas di kulitnya. Ketika melihatnya, Wilona hanya dapat mengernyit dan mengembuskan napas pelan. Dia sudah mengekspektasikan ini. Namun, dia tidak tahu bahwa cumbuan itu akan berbekas sebanyak ini.

Ketika sudah diperbolehkan untuk menyentuh, Nares sepertinya tak lagi repot untuk menahan diri. Dia mungkin lupa bahwa hari ini masih termasuk hari kerja. Tidak mungkin jika Wilona bepergian dengan tanda yang ditinggalkan sang pria.

Kalau sudah begini, dia perlu memutar otak. Beberapa polesan make up mungkin bisa menyelamatkannya dari rasa malu.

Wilona menyugar rambut dan mulai mencuci wajahnya. Semoga saja dia masih mahir menutupi bekas semacam ini dengan sempurna.

oOo

"Nggak mau satu sekolah sama Keisha?" tanya Wilona, mengulangi penuturan Tabita. Dia mengambil sejumput rambut anaknya, kembali menata helaian rambut itu menjadi dua kepangan di masing-masing sisi kepala.

Di hadapan Wilona, Tabita mengangguk.

"Aku udah sering ketemu dia," katanya, memberi alasan. "Jadi, nggak usah ketemu lagi di sekolah."

"Mm, emangnya kenapa?" Wilona kembali bertanya. "Kamu nggak suka main sama kakak sepupu kamu?" Wilona memasang karet rambut kecil untuk mengunci kepangan. "Keisha nakalin kamu?"

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang