PENGUMPULAN BUKTI KASUS Jonathan akan memakan waktu dari satu hingga tiga bulan. Sang pengacara berujar bahwa dia akan mencoba mempercepat prosesnya. Namun, Wilona mempersilakan Retno untuk tidak terburu-buru. Dia memberi tim pengacaranya keluangan waktu agar mereka bisa menyiapkan seluruh bukti dengan maksimal.
Kejadian tempo hari juga sudah tak lagi membuatnya ketakutan. Wilona sempat kembali menghubungi Renata, terapis pribadinya, untuk berkonsultasi ringan. Dia juga sudah dapat menjalani aktivitas seperti biasa di kantornya. Hari ini pun dia mulai kembali menghadiri kelas pilates yang sempat mandek karena kesibukan kerja dan persiapan pernikahan.
Berolahraga nyatanya amat direkomendasikan oleh sang terapis. Kata Renata, kegiatan ini dapat membantunya dalam mengelola stres. Wilona sudah mencobanya sejak satu setengah tahun lalu. Dan hasilnya memang tak bisa dibantah. Kondisi mentalnya menjadi lebih stabil dan dia bisa menguasai dirinya dengan lebih baik.
Wilona merasakan tubuhnya yang menjadi lebih bugar setelah mengikuti kelas hari ini. Dia mengangguk sopan pada beberapa peserta lain ketika keluar dari ruang ganti.
Mengambil barang bawaannya dari loker, Wilona meneguk pelan minuman yang dia bawa. Dia mengambil ponsel dari saku ketika mendapati adanya pesan masuk. Pagi tadi, dia memang diantar oleh Cakra. Jadi, siang ini dia memprediksi pesan lain dari pria yang akan menjemputnya.
Hanya saja, alih-alih Cakra, pesan baru yang didapat berasal dari suaminya, Nareswara.
Pria itu memberi tahu bahwa dia sudah berada di lobi studio. Wilona mengerutkan kening samar ketika mengetahuinya.
Tanpa membalas pesan singkat itu, dia segera beranjak ke lobi untuk menemui Nares.
Benar saja, di sana dia melihat keberadaan sosok itu. Nares tengah duduk di sebuah sofa selagi membaca-baca brosur dengan iseng. Dia terlihat santai dengan mengenakan pakaian kasual, setelan celana kargo panjang dan kaus polos berwarna gelap.
Nares mengalihkan pandangan pada Wilona ketika mendengar langkah kaki yang mendekatinya.
Wilona menatapnya dengan heran. Ada sorot bertanya yang pekat di matanya.
"Kenapa kamu yang ke sini?" tanyanya tanpa basa basi.
Nares menaikkan alis dengan spontan.
"Lo kecewa karena dijemput suami sendiri?"
Wilona menatapnya sedikit lebih lama. Dia balas menaikkan alis.
"Jadi, sekarang kamu mencoba mendalami peran sebagai suami?"
Nares menyipitkan mata. Dia meletakkan brosur kembali ke wadahnya, kemudian menjawab tanpa perlu kembali menatap Wilona.
"Kelihatannya lo ngebet banget diantar jemput Cakra. Gue perlu panggil dia ke sini?"
Nares terdengar malas ketika menyebutkan nama pria itu. Wilona mengamatinya cukup lama. Beberapa detik kemudian, dia mengulas senyum tipis dan memperbaiki posisi tali tas di pundaknya.
"Nggak perlu. Biar dia tetap menunggu Tabita di tempat les."
"Bocah itu nggak ngambek lagi karena cuma ditemenin ART buat les renang?"
"Dia udah dekat sama Mbak Tina," jelas Wilona. "Udah mau tiga bulan sejak dia mulai les renang. Sejauh ini dia nggak marah kalau aku lagi nggak bisa menemani dia."
Nares mendengkus pelan. Dia lalu ikut berdiri.
"Beneran anak penurut," komentarnya selagi mereka mulai berjalan keluar. "Pantesan dia mau-mau aja buat langsung ditunggu sama orang asing semacam Cakra."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)