70 ; Kerelaan

9.6K 998 127
                                        

WILONA TAK BISA berhenti memikirkan kemungkinan bahwa Nares mempekerjakan Cakra untuk mengurus penangkapan Jonathan, dan dia mengeluarkan kocek hingga satu juta dolar hanya untuk menuntaskan masalahnya.

Bagian mempekerjakan Cakra dan membayar biaya hingga miliaran rupiah itu memang baru sekadar asumsi. Namun, Wilona merasakan firasat yang kuat, apalagi setelah bertemu langsung dengan si mantan pengawal. Cakra terdengar lebih mencurigakan dari biasa. Pemutusan kontrak sepihak yang bertepatan dengan momen Nares mengambil alih kasus Jonathan juga terlalu pas. Terlebih suaminya itu juga tak mau memberi penjelasan apa pun terkait cara menyeret Jonathan ke penjara.

Wilona hanya dapat menebak-nebak. Dia juga tidak yakin Nares akan buka suara jika kembali ditanya.

Mengesampingkan benar tidaknya prediksi itu, ada satu hal yang sudah pasti. Biaya untuk mengusut kasus itu sangatlah besar. Bagaimanapun juga, menjebloskan Jonathan ke penjara tidaklah mudah. Proses pemeriksaannya bisa sangat alot. Jonathan memiliki banyak koneksi dan bantuan yang membuatnya memiliki impunitas hukum. Dia bisa melakukan segala cara untuk menghindari tuntutan kriminal. Tayangan berita yang sedang dilihat Wilona adalah bukti dari besarnya pengaruh yang dimiliki si Candrakusuma.

Tak seperti seminggu yang lalu, kali ini Wilona berusaha untuk melihat tayangan berita tentangnya. Dia mencoba mengesampingkan ketidaknyamanan saat melihat wajah sang pria. Perhatiannya difokuskan pada konten berita, liputan yang sedang menampilkan wawancara kuasa hukum Jonathan kepada media.

"Bukti yang tersebar 'kan hanya video singkat dari CCTV. Isi videonya juga belum jelas. Bagaimana bisa kita langsung mengambil kesimpulan dari situ?" ungkap si kuasa hukum di tengah kerumunan reporter yang menyodorkan perekam suara padanya.

"Bagaimana dengan bocoran foto-foto dari dalam kargo itu, Pak? Pada foto itu terlihat jelas ada banyak karung berisi narkoba—"

"Dari mana kalian tahu isi karung itu?" potong si pengacara. "Berita seperti ini yang menyebabkan banyak hoaks. Begini, kalian pasti tahu kalau sekarang foto-foto semacam itu sangat gampang dibuat, kan? Sekarang sudah marak yang namanya foto-foto AI, regulasinya belum jelas. Jadi, masih banyak kasus-kasus begini, apalagi banyak pihak yang juga mau menjatuhkan perusahaan ini," jawabnya panjang lebar.

"Pokoknya untuk sekarang semua bukti masih dalam pemeriksaan. Di sini kami juga menuntut keadilan. Bukti-bukti yang mereka tunjukkan juga nggak pasti. Masa cuma karena dapat akses bebas di pelabuhan, mereka langsung menuduh ini itu? Gimana dengan perusahaan lain yang dapat akses yang sama? Kenapa mereka nggak diperiksa juga?" Dia menambahkan.

"Perusahaan apa yang sekiranya butuh diperiksa juga, Pak?"

"Bah, ada banyak! Kalian bisa tanya ke Kemenhub atau Bea Cukai. Kalau minta nyebut nama, contoh yang paling besar itu Dikara Agro. Selain perusahaan tambang, perusahaan-perusahaan sawit itu, terutama Dikara Agro, juga dapat free pass di pelabuhan. Siapa yang tahu kalau justru mereka yang menyembunyikan sesuatu? Kenapa mereka nggak dicurigai juga?"

Pengacara itu tiba-tiba menyebutkan nama perusahaan induk Dikara Group, bisnis utama yang dimiliki Keluarga Caturangga.

"Saksi yang dikumpulkan polisi juga belum komplit. Kami masih punya banyak suara buat membuktikan kalau Mineral Cargo dan Jonathan itu nggak bersalah," tambah si pengacara. "Di antara banyak saksi, ada satu orang terdekat Jonathan yang belum diperiksa. Dia akan memberi kesaksian kalau Jonathan dan perusahaannya itu bersih dari tuduhan ini. Dia juga akan sekalian kami minta hadir di pengadilan kalau perlu."

"Kira-kira siapa calon saksi yang dimaksud ini, Pak?"

Wilona menatap layar televisi. Tubuhnya menegang untuk suatu alasan. Dia mulai mengantisipasi jawaban dari pengacara itu.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang