68 ; Kedekatan

8K 931 156
                                        

ADALAH BOHONG JIKA Wilona mengaku bahwa dia tak sempat mendengarkan perdebatan Nares dengan kedua orang tuanya.

Setelah membawa Tabita pergi, Wilona tak serta-merta tinggal di kamar sang putri. Dia sempat beranjak untuk memantau keadaan Nares dan sang mertua. Hampir semua pembicaraan mereka dapat didengar Wilona. Wilona juga mulai memahami akar pertikaian anak dan orang tua ini.

Perlawanan Nares bukan hanya karena masalah anak kandung belaka. Kemungkinan besar, Nares memiliki konflik terpendam dengan mereka, sesuatu yang mendasari buruknya hubungan Nares dan orang tuanya. Wilona menangkap indikasi mengenai Nares yang sering dibandingkan dengan sang kakak, dia yang dijadikan alat untuk mencapai ambisi ayah dan ibunya, juga dia yang dikecam kurang ajar tiap kali melawan, padahal ayah dan ibunya sudah sangat memfasilitasi segala hal dalam hidupnya.

Secara tidak langsung, Nares sering disalahkan. Dia seolah dikontrol tanpa sadar. Semua tindakan itu berdasarkan pada anggapan bahwa pilihan orang tua adalah yang terbaik buatnya.

Selama ini, sepertinya Nares selalu menuruti kemauan mereka. Baru beberapa kali terakhir ini dia mulai membangkang. Entah karena realisasi atas kontrol sang orang tua atau karena hal lain. Wilona tak tahu pasti. Namun, apa pun alasannya, dia tetap melihat fakta bahwa Nares membelanya. Dia menjadi tameng untuknya, bahkan ketika Wilona tidak mampu membalas budi.

Nares tak mengubah pendiriannya meski diancam untuk menanggalkan nama keluarga besar. Dia memegang ucapannya supaya Wilona tidak terpaksa untuk mengikuti kemauan sang orang tua.

Semakin mengenal Nares, makin dihadapkan pula Wilona dengan kepedulian dan ketulusannya. Citra buruk sosok itu melebur dengan perlahan. Jati dirinya yang tertutup berbagai kesalahan dan kelemahan kini mulai terbuka. Wilona dapat melihat kesungguhan Nares. Dia mulai melihat potensi untuk terus mempercayainya.

Dan mungkin, dia memang harus mulai menaruh kepercayaan pada sang pria.

Wilona beranjak begitu melihat ayah Nares yang hendak pergi. Dia tak mendapati Nares yang dilema dan frustrasi sampai melempar pukulan pada dinding.

Walaupun begitu, Wilona sudah tahu pada kemelut emosi sang suami. Dia paham betul pada arti nama keluarga bagi Nareswara. Ancaman ayahnya pasti sangat memengaruhinya. Wilona merasa sangat bersalah padanya. Dia merasa bersalah karena membuatnya harus berpihak dan memperburuk hubungan Nares dengan sang orang tua.

Pada pukul sembilan malam, Wilona menutup buku dongeng yang sempat dibacakan untuk Tabita. Dia merapikan selimut yang dipakai putrinya, lalu beranjak keluar.

Ketika memasuki kamar, Wilona mendapati Nares yang telah menyalakan komputer. Dia sedang mengerjakan sesuatu di layar monitornya. Wilona tak sampai hati untuk menyela.

Saat itu, dia hanya menawarkan diri untuk membuatkan minuman. Akan tetapi, tawarannya ditolak halus.

Nares sepertinya masih membutuhkan ruang untuk menenangkan diri. Wilona cukup memahami. Dia pun membiarkan Nares menyelesaikan kegiatannya, sementara dia menghampiri ranjang dan mencoba untuk membaca buku yang dulu sempat dibelikan Nares untuknya.

Selama membaca buku tersebut, pikiran Wilona mengelana. Dia masih memikirkan Nares, bahkan ketika pria itu selesai dengan pekerjaannya dan ikut bergabung dengannya ke atas ranjang.

Kala itu, Nares tak mengatakan apa pun selain meminta persetujuan untuk mengganti lampu utama dengan lampu tidur.

Wilona hanya bergumam mengiakan. Dia lalu melihat Nares yang mulai berbaring, memunggungi, dan seolah menutup akses bagi mereka untuk kembali berinteraksi.

Wilona mengembuskan napas pelan dan segera menaruh buku ke atas nakas. Dia ikut berbaring dan menarik selimut miliknya sendiri.

Detik jarum jam terdengar nyaring di telinga.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang