BEGITU GELOMBANG NIKMAT itu menghantam, Nares mulai ikut mendengar embusan napas Wilona, juga dengung suara dari pendingin ruangan mereka.
Isi kepalanya menjernih. Nares sedikit menarik diri, tak lagi menindih sosok di bawahnya. Dia menatap Wilona yang tampak sayu, bulir keringat menghiasi pelipis. Rambut panjangnya tampak berantakan. Sudut matanya memperlihatkan bekas air mata.
Nares cukup tertegun melihatnya. Dia membasahi tenggorokan, lalu berujar, "Kamu ada yang sakit?"
Wilona masih terdiam. Dia lalu mengerjap dan balas menatapnya.
Wilona terlihat seperti sedang mengingat keadaan dirinya yang sekarang, apa yang baru saja mereka lakukan.
Dia memperhatikan Nares, melihat sorot khawatir yang nyata, tak dibuat-buat.
Wilona tersenyum lelah. Dia mengulurkan tangannya. Kemudian, dia menangkup sisi wajah sang pria.
"I'm more than fine." Wilona membelai wajah Nares, mengusapkan ibu jari di pipinya. "Aku muasin kamu?"
Nares tak langsung membalasnya. Dia sempat terpaku. Kemudian, dia meraih telapak tangan Wilona. Dia mengusap pergelangan tangannya, merasakan bekas luka sayatan yang masih tertinggal di sana, sebuah bukti atas caranya menyerah pada kehidupan.
Nares mengusapkan ibu jari. Dia menarik pergelangan tangan Wilona ke wajah, mendekati indra pencium. Kemudian, dia menghirup dalam pergelangan tangan itu.
Gestur tersebut menyerupai momen pertama Wilona ketika mencoba menenangkan kegelisahan sang pria.
Wilona terpaku.
Dia tidak menyangka bahwa Nares masih mengingatnya. Dan kini dia kembali melakukannya—kali ini dengan intensi yang berbeda.
Nares mencium pergelangan tangan Wilona yang masih meninggalkan bekas luka. Dia mengecupnya.
Dan Wilona meremang dibuatnya.
Dia membasahi tenggorokan, mulai merasakan gejolak asing dalam dada.
"Nares ...."
Nares tidak mendengarnya—atau dia menolak untuk mendengarnya.
Dia masih mengusap pergelangan tangan Wilona dengan ibu jari. Kemudian, dia menunduk dan merengkuhnya. Hela napasnya menerpa sisi leher sang wanita.
Dia menyurukkan kepala di pundak Wilona. Tubuh jangkung itu memeluknya, seakan membutuhkan dukungan darinya.
Wilona hendak melontarkan candaan, sampai kemudian dia mendengar bisikan pelan sang pria.
Tubuhnya meremang. Dia mengeratkan pelukan.
"I love you," kata Nares, terdengar samar. "Udah pasti aku puas sama kamu. You don't need to ask. I love you so much that it starts to hurt me."
Wilona terdiam, bisu.
Dia merasakan lidahnya yang kelu.
Matanya tiba-tiba terasa panas.
Wilona hampir lupa cara untuk bernapas.
"Aku tau," katanya kemudian, terdengar normal, meski sebetulnya dia merasakan gejolak yang luar biasa dalam dada. Pernyataan itu membuatnya ngilu, membuatnya makin takut dengan hidup yang akan mereka jalani bersama.
Wilona mengusap kepala sang pria, membelai rambut gelapnya.
"Kalau gitu, kamu perlu kurangin perasaan kamu. Biar nggak sakit lagi."
"Udah kulakuin dari lama kalau emang bisa."
Wilona termangu atas balasan lugas itu. Dia mengusap sudut matanya, tidak sadar kalau ternyata ada air mata yang terselip keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomansaBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)