BEGITU MEMASUKI KAMAR, Wilona segera menutup dan menguncinya dari dalam. Bahasa tubuhnya tampak terburu-buru. Dia merasakan hela napasnya yang masih tersekat. Rasa sesak itu baru mulai luruh begitu dia menghampiri kamarnya, sendirian, di sebuah ruang privat yang memberinya rasa aman.
Wilona mengembuskan napas panjang. Dia bersandar pada daun pintu, kemudian jatuh terduduk di depannya. Bayang kejadian tadi masih terputar jelas di kepala, mulai dari dia yang menginisiasi hingga dia yang menghentikan intimasi mereka. Perubahan suasana yang mendadak masih meninggalkan sedikit pening.
Wilona mengepalkan tangan, kemudian mengusap kasar wajahnya.
Rasa takutnya terhadap kontak fisik ternyata belum sepenuhnya sirna. Semua kekerasan dan perilaku biadab mantan suaminya masih diingat oleh tubuhnya, meskipun dia merasa sudah melupakan itu semua.
Jejak luka yang ditinggalkan Jonathan takkan pernah sirna.
Wilona teramat benci dengan fakta ini. Dia benci karena pada akhirnya, Jonathan masih menggenggamnya erat dalam kepalan tangan. Dia tak sepenuhnya bebas meskipun mereka tak lagi terikat. Jonathan telah meninggalkan banyak tanda kepemilikan yang membuat pikiran Wilona selalu kembali kepadanya sehingga dia tidak bisa menerima kehadiran pria lain di hidupnya.
Duduk meringkuk sambil memeluk kedua kaki, Wilona mencoba menghalau sengatan rasa bersalah kepada pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
Kejadian beberapa saat lalu seharusnya tidak perlu terjadi. Dia sudah tahu perasaan Nares padanya. Tidak seharusnya dia lanjut mempermainkan perasaannya. Wilona mengerti bahwa pada akhirnya dia juga takkan bisa memberi sesuatu yang diinginkan sang pria. Namun, pada momen itu, dia gagal menahan gerak refleksnya sendiri. Dia ingin melihat respons seseorang yang benar-benar menaruh rasa padanya, rasa yang membuat sosok itu ingin memiliki tetapi bukan dikarenakan oleh obsesi.
Wilona ingin kembali merasakan pendambaan itu.
Dan kecenderungan kecil ini membuatnya memperburuk suasana di antara mereka. Secara tidak sadar, dia telah mencoba untuk memanfaatkan rasa suka sang pria hanya untuk kepuasan dirinya.
Wilona mengembuskan napas dalam. Dia menenggelamkan wajah pada lipatan lengan.
Berat rasa bersalah masih memenuhi dada. Kemarahan Nares masih terngiang jelas di kepala. Adalah suatu keberuntungan bahwa sosok itu mau melepaskannya. Meskipun dia menganggap Nares lebih baik dari Jonathan, bukan berarti bahwa sosok itu memiliki kontrol diri yang sempurna.
Wilona sangat tahu, betapa sulitnya Nares menahan emosi.
Detik ketika dia meminta Nares menghentikan kegiatan mereka, dia sudah sangat waswas jika Nares takkan mendengarnya. Dia sudah sangat takut jika Nares mengulang tindakan buruk yang sering dilakukan Jonathan padanya.
Setelah rasa takut itu reda, kini yang menggerogoti dadanya adalah segumpal rasa bersalah.
Wilona mengepalkan tangan erat-erat.
Sepertinya, dia memang perlu menghentikan ini. Perilakunya terhadap Nares pasti akan kembali disalahpahami. Dia harus mulai menjaga perilakunya agar tak lagi melanggar batas yang tak seharusnya. Dia tidak ingin Nares makin mengharapkan sesuatu yang takkan mungkin dia berikan. Dia tidak ingin Nares menyia-nyiakan tenaga untuk mengejar sesuatu yang takkan didapatkan.
oOo
Seberapa besar pun usahanya untuk melupakan kejadian tadi malam, dia tetap tak bisa melupakannya, apalagi tubuh dan hormon sialan dalam dirinya.
Jatuh tertidur sangatlah sulit. Nares masih ingat betul penderitaan panjangnya malam tadi, ketika dia sudah terlanjur panas karena seorang wanita, dan wanita itu malah meninggalkannya begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)