65 ; Laporan

8.9K 946 117
                                        

WILONA HAMPIR TERHENYAK ketika mendapati keberadaan orang lain yang tidur seranjang dengannya.

Sinar matahari belum menyingsing. Gelap ruangan hanya diterangi oleh cahaya lampu temaram. Wilona masih sedikit diliputi kantuk. Dia lupa pada persetujuannya untuk tinggal sekamar dengan seseorang—sosok yang merupakan suami sahnya yang sekarang.

Ketidaknyamanan untuk berada terlalu dekat dengan lelaki hampir membuatnya berteriak. Wilona berhasil menahan impuls tersebut setelah sadar bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya sendiri. Ruangan ini adalah milik Nareswara. Dan pria yang tertidur di sampingnya sudah pasti adalah pria itu.

Kepanikan di benak Wilona sontak mereda. Dia mengembuskan napas pelan dan sedikit menegakkan diri. Dia menoleh dan beringsut mendekat, tanpa sadar ingin melihat dengan jelas sosok yang masih menutup mata.

Samar lampu malam hanya memberi sedikit penerangan untuknya. Namun, cahaya samar itu sudah cukup untuk memperlihatkan raut damai sang pria, sebuah ekspresi yang cukup jarang dilihatnya.

Selama ini, Wilona tak begitu memperhatikan paras Nares. Yang dia tangkap hanyalah figur tinggi dan jangkungnya, juga rambut yang sedikit lebih panjang dari kebanyakan orang, tetapi tidak sampai membuatnya gondrong.

Diharuskan tinggal di panti rehabilitasi mungkin saja membuat Nares mengabaikan penampilan, termasuk panjang rambutnya sendiri. Wilona masih ingat betapa kacaunya sosok itu ketika mereka pertama kali bertemu. Mulai dari rambut yang tampak tak tersisir rapi, ekspresi yang masam, tubuh yang kurus kering, hingga kulit yang terlampau putih pucat.

Kalau dilihat dari penampilan yang dulu, sudah pasti Wilona tak melihat sedikit pun keatraktifan. Sesuatu mengenai Nares sudah menyuarakan kekacauan sampai Wilona tak repot-repot memperhatikan wajahnya dengan seksama.

Dia tak pernah menatap Nares dengan lekat hanya untuk mengamati wajahnya.

Dia tak pernah tahu bahwa Nares memiliki garis rahang yang tajam, sepasang alis yang sempurna di mata para wanita, bulu mata lentik, dan juga garis wajah yang membuatnya tampak boyish—terlihat muda dan dewasa di waktu bersamaan.

Rupanya memang berbanding terbalik dengan sang kakak tiri yang cenderung terlihat tegas. Hanya saja, kalau lebih diperhatikan, mereka memang memiliki garis wajah yang cukup mirip.

Kakak beradik Caturangga nyatanya memang sama-sama atraktif.

Nares akan populer di kalangan wanita kalau dia bisa lebih hangat pada mereka.

Parasnya mendukung itu semua. Hanya saja, dia memang sulit didekati. Pembawaannya selalu marah, entah pada sesama lelaki ataupun perempuan. Sentimennya kepada orang lain tidak berbatas gender.

Nares mungkin memang secara adil tidak menyukai orang lain.

Wilona menatap kelopak mata yang masih tertutup. Dia termenung selagi mendengar helaan napas sosok yang merupakan suaminya. Pikirannya melayang pada berbagai tindakan yang telah dilakukan pria ini untuknya, termasuk kesediaannya untuk tetap tinggal meskipun Wilona sudah berkali-kali menolak karena rasa takut atas suatu hubungan.

Ketulusan sosok ini dapat dirasakannya. Dan dia belum dapat membalas itu semua.

Wilona merasakan jiwa-nya yang masih mati. Jauh dalam hatinya, dia masih merasa tidak pantas untuk mendapat semua perlakuan ini.

Detik jarum jam berdetak pelan. Wilona masih memperhatikan sosok di sampingnya. Telapak tangannya terulur. Tanpa sadar, dia sedikit menyibak helaian rambut yang menutupi dahi sang pria, mengusapnya pelan dan terpaku ketika merasakan sedikit pergerakan.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang