41 ; Langkah

7.9K 815 99
                                        

"KURIR YANG SEMPAT mengirimkan barang tadi bukan sembarang kurir. Saya sempat memeriksa wajah yang muncul di CCTV. Dia ternyata tidak berafiliasi dengan perusahaan pengiriman manapun. Data yang saya temukan dari pencarian fotonya adalah dia yang sempat menjadi asisten seorang direksi di Mineral Resource, perusahaan tambang milik Candrakusuma. Kecurigaanmu terbukti benar. Dia orang suruhan Jonathan," ucap Cakra panjang lebar, menjelaskan hasil pemeriksaannya.

Wilona memandang buket bunga yang tergeletak berantakan di atas lantai. Sorot matanya kosong. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasa. Akumulasi rasa lelah seharian ini bercampur dengan kekhawatiran baru yang mengisap habis sisa energinya.

"Kamu bisa mengetatkan pemeriksaan barang yang masuk ke kantor ini?" ucap Wilona dengan pelan.

Cakra masih berdiri. Dia mengamatinya, kemudian ikut memandang ceceran bunga dan juga gumpalan kertas di atas lantai.

"Akan saya perketat," balas Cakra singkat. "Untuk memastikan hal yang lain, kira-kira dalam enam bulan terakhir, apakah kamu sempat merekrut karyawan baru?"

Wilona menoleh. Dia mengerjap.

"Aa, ada beberapa karyawan kontrak yang masuk. Kenapa?"

"Saya minta data nama mereka dan fotonya," ujar Cakra. Dia menghampiri buket bunga dan gumpalan kertas yang berceceran di lantai. "Sekadar untuk memastikan, tidak ada orang dalam yang mengamati kamu diam-diam. Kelihatannya, Jonathan sudah merencanakan teror semacam ini dari lama."

Wilona mengerutkan kening samar.

"Dia keluar dari penjara belum lama ini, nggak sampai enam bulan. Mustahil dia merencanakannya dari lama."

"Kamu yakin?" timpal Cakra dengan segera. Dia mengambil buket bunga dan gumpalan kertas foto itu, memeriksa dan melihat fotonya. "Dia orang yang bisa memangkas tuntutan hukum dari belasan tahun jadi dua tahun saja. Kamu juga belum memastikan keadaan penjara yang dia tempati. Gampang aja buat dia menyelundupkan orang ke dalam perusahaanmu waktu dia masih di penjara."

Wilona merapatkan bibir ketika mendengarnya. Dia mengepalkan tangan pelan, menahan ketidakberdayaan yang menggerogoti.

"Teror-teror lain mungkin masih akan datang. Kamu perlu barang-barang bukti ini kalau mau kembali menyeret dia ke dalam bui," tambah Cakra. Dia merapikan gumpalan foto dan kertas berisi peringatan dari Jonathan. "Saya bantu simpan bukti-bukti ini kalau kamu nggak bisa menyimpannya sendiri."

Wilona merasakan berat di pundaknya. Dia membasahi tenggorokan dan mengucapkan terima kasih.

Cakra menanyakan ada tidaknya kantong plastik. Begitu mendapatnya, dia menyimpan barang itu ke dalam sana, lalu menanyakan agenda Wilona yang lain.

Wilona menggeleng tanpa memberi jawaban verbal. Dia merapikan meja kerja dan memasukkan barang bawaannya ke dalam tas. Cakra langsung tahu intensi Wilona untuk pulang. Dia ikut keluar dari kantor, berjalan bersamanya ke lobi hingga mereka menghampiri mobil di area parkir.

Sepanjang jalan, Wilona hanya diam selagi menatap kaca jendela. Raut wajahnya tampak pilu. Bibirnya mengatup, seperti menahan tangis akibat ketakutan yang mungkin kembali menguasai.

Tak ada sepatah pun kata yang terucap. Wilona tak repot-repot untuk mengisi kesunyian di dalam sana, meskipun selama ini dia selalu mengusahakan adanya obrolan untuk berbasa-basi.

Cakra sempat menatapnya dari sudut mata. Dia kembali menatap jalan raya.

Pekerjaan baru yang dia ambil ternyata cukup menantang. Dia perlu kembali menekan reaksi emosinya sendiri agar tidak mencampurkan profesionalitas dengan keinginan pribadi. Keadaan Wilona ternyata jauh lebih parah dari yang dia duga. Lagi-lagi dia kembali dihadapkan dengan klien malang yang mengusik rasa iba.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang