71 ; Rasa

8.3K 802 36
                                        

TELAPAK TANGAN MERAMBAT ke atas pinggang. Tangan yang lain menangkup sisi wajahnya, membelai rahang selagi mempertahankan ciuman.

Wilona sudah beberapa kali bercumbu dengan Nares. Kali pertama adalah saat mereka kecolongan ketika berada di ruang tengah. Kali kedua adalah beberapa hari lalu saat dia mencoba untuk kembali membiasakan diri dengan sentuhannya.

Semua sentuhan mereka, untuk suatu alasan, hanya terbatas pada cumbuan ringan belaka. Wilona tak pernah membiarkan Nares bertindak lebih. Dia selalu membatasi kontak fisik itu. Nares juga sepertinya tahu, sehingga dia sendiri selalu berusaha untuk menahan diri.

Beberapa hari terakhir ini, Wilona hanya diingatkan dengan ciuman lembutnya. Dia hanya teringat betapa hangat Nares ketika memeluknya. Dia sedikit lupa dengan sentuhan pertama mereka di sofa ruang tengah dulu.

Dia lupa bahwa ciuman sang pria bisa sangat menuntut hingga dia ikut terengah tak keruan. Dia lupa bahwa sekarang Nares memiliki hasrat yang telah ditahan terlalu lama dan bisa langsung meledak jika Wilona memancingnya.

Syarat yang diajukan Wilona untuk bisa berhubungan intim adalah dia yang memegang kendali atas situasi ini. Wilona tahu betul apa yang perlu dilakukan ketika ingin memuaskan pasangannya. Dia telah banyak terekspos dengan kegiatan panas, sebesar apa pun keinginannya untuk melupakan semua pengalaman itu.

Hanya saja, ingatan tersebut telah memasuki alam bawah sadar sehingga secara refleks pun Wilona sudah tahu, apa yang harus dilakukan. Wilona tidak ragu untuk memulai ciuman dengan sang suami. Dia sangat yakin dan percaya diri dengan seluruh tindakannya.

Dia sedikit lupa bahwa seorang lelaki bisa sangat mendominasi kalau sudah kepalang berhasrat begini.

Wilona merasakan tubuhnya yang memanas, kepala yang mengeruh, dan kesadaran diri yang seakan mulai meninggalkannya. Lumatan bibir sang pria bercokol terlalu kuat di kepala. Gigitan kasarnya meninggalkan sengatan nyeri yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Wilona telah menutup mata. Dia mencoba untuk tetap memegang kendali, tidak ingin tenggelam terlalu dalam pada kegiatan panas ini. Ciuman Nares turut dibalasnya. Dia ikut melumat dan sesekali menyesap. Dia ikut mengalungkan kedua tangan di lehernya dan sedikit menariknya ke bawah supaya tinggi mereka lebih seimbang.

Wilona turut mendominasi ciuman. Sampai kemudian, Nares membelai sisi wajahnya dan dia memiringkan kepala selagi melesakkan indra perasa ke dalam rongga mulut sang wanita.

Telapak tangan Wilona merambat ke pundaknya. Dia berpegangan erat selagi meremasnya kuat. Gelitik lidah mulai membuat lututnya lemas. Sesapan di indra perasa kian membuat kedua kakinya goyah.

Nares mengusap pelan sisi pinggangnya. Dia membelai punggung Wilona melalui piyama satin yang dikenakan. Jejak sentuhannya meninggalkan gelenyar yang membuat Wilona hampir mengerang. Untung saja, dia masih bisa menahannya.

Kesadaran atas sentuhan itu, membuatnya mengulurkan tangan ke belakang. Dia meraup pergelangan tangan Nares dan menghentikannya untuk bertindak demikian.

Ciuman mereka disudahi. Wilona sedikit menarik diri dengan wajah yang kentara sekali merona karena panas. Basah ciuman tampak sangat jelas di bibir. Wilona sama-sama mendengar deru napas mereka. Dia turut merasakan hasrat yang memancar dalam diri sang suami.

Wilona hampir menggigil dibuatnya. Namun, dia memberanikan diri untuk tetap melihat. Hela napasnya sedikit tertahan di tenggorokan begitu dia mendapati manik gelap yang mengeruh oleh nafsu. Wilona hampir melangkah mundur ketika menatapnya. Untung saja, dia berhasil menahan keinginan itu.

Wilona mencoba menstabilkan napas selagi mencari keberadaan suaranya sendiri.

Nares masih diam di hadapannya. Dia tak bertindak macam-macam. Namun, tatapan itu sudah cukup untuk menelanjanginya. Wilona merasakan tubuhnya yang meremang dengan spontan. Dia meremas pergelangan tangan Nares yang sempat menyentuh punggungnya. Pegangan itu dieratkan ketika dia berbicara pada sang pria.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang