SATU SETENGAH MINGGU berikutnya Wilona sudah bisa kembali berjalan, meskipun kakinya masih cukup kaku digerakkan.
Selama hampir dua pekan itu, dia juga beberapa kali telah menjalani psikoterapi dengan Renata. Kondisi psikisnya belum sepenuhnya baik, tetapi keadaan emosinya sudah lebih stabil. Dia tak serta-merta terkena serangan panik hanya karena mendengar nama mantan suaminya. Dia juga sudah lebih jarang terbangun di tengah malam karena mimpi buruk.
Obat yang dikonsumsi mulai membantunya terlelap hingga pagi. Dosis yang diberikan sudah berkurang, meskipun dia masih dianjurkan untuk mengonsumsinya.
Secara keseluruhan, keadaannya yang sekarang sudah membaik sehingga dia diperbolehkan pulang. Psikoterapi dengan sang psikolog memang masih berjalan, begitu pula kontrol lanjutan dengan dokter umum dan psikiater rumah sakit. Hanya saja, dia tak lagi diharuskan untuk menetap.
Wilona memiliki sedikit kebebasan, sampai dia ingat tempat yang kini akan kembali ditinggali—sebuah rumah yang menjadi saksi atas seluruh malapetaka yang menimpanya, entah di masa lalu ataupun kejadian baru-baru ini.
Ketika mengingatnya, Wilona langsung menegang. Dia merenung hampir semalaman, sampai dia mendapatkan jalan tengah atas kondisinya yang sekarang.
Pagi harinya, dia segera berpesan pada Mbak Tina untuk memindahkan seluruh barang di kamarnya ke dalam gudang yang telah dijadikan ruang CCTV.
"Boleh ditaruh di sana dulu, untuk sementara," ungkap Wilona, menyampaikan keinginannya. "Kosongkan kamarku, sama seperti kamar utama yang dulu. Sebisa mungkin, siang ini sudah diangkut semua."
Tina memandangnya dengan sorot penuh pertanyaan. Akan tetapi, dia tetap menyanggupi dan tak bertanya lebih lanjut. Rasanya tidak sopan jika dia terlalu mencampuri urusan pribadi atasannya. Selama ini, dia tidak berani bertanya alasan Wilona dan Nares pisah ranjang, apalagi mengenai permintaan Wilona yang sekarang, dia lebih tidak berani untuk menanyakannya.
Wilona mengangguk singkat setelah mendengar Tina mengiakan.
Dia lalu melanjutkan makan. Pada akhirnya, memiliki kesempatan untuk menyampaikan selamat tinggal pada menu makanan rumah sakit yang terasa hambar.
Hampir dua bulan Wilona tinggal di ruang inap ini. Pemandangan di sekelilingnya mulai terlihat familier, termasuk bunga segar yang hampir selalu bertengger indah di dalam vas.
Tak seperti hari-hari lalu, hari ini Wilona melihat bunga yang tampak layu. Dia pun dengan spontan kembali menanyakannya pada Tina.
Jawaban sosok itu sedikit memantik keterkejutan dalam benak Wilona.
"Ah, kemarin sore saya sempat bertanya juga," jelas pekerja rumah tangga itu. "Biasanya Pak Nares membeli bunga yang baru, tapi kemarin dia nggak datang dengan bawa bunga. Katanya, karena Ibu hari ini mau pulang, jadi nggak perlu beli bunga lagi buat mengisi vas itu."
Wilona mengerjap pelan. Dia menoleh untuk menatap bunga lily putih yang sudah mulai layu. Tiap hari, dia selalu mengamatinya, merasa nyaman dengan dekorasi yang memoles kamar inapnya. Dia kira, pihak rumah sakitlah yang menempatkan bunga ini.
Dia tidak tahu bahwa Nares yang membawa dan rutin mengganti bunga itu.
Apalagi, ketika diperhatikan, bunga tersebut merupakan bunga yang sama seperti bunga yang dibawa pada upacara pernikahannya—pernikahan mereka.
Wilona termenung ketika menyadarinya.
Dia mengerjap dan merasakan panas di kedua mata.
Dia mendengkus pelan begitu merasakan remasan asing dalam benaknya.
Pagi itu, Wilona tak mengatakan apa-apa. Dia melanjutkan makan selagi memandang bunga lily putih yang hampir mati. Tanpa sadar, dia membayangkan Nares yang membelinya dan rutin menggantinya tiap pagi ataupun sore ketika Wilona tidak melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)