59 ; Penantian

8.6K 991 96
                                        

BISIK YANG MEMINTANYA membuka mata terdengar semakin jelas.

Wilona tidak tahu bagaimana rupa dan kondisi alam bawah sadar. Dia tidak tahu adanya ruang ada dan tiada ketika seseorang berada di ambang kematian.

Dia tidak ingat kejadian terakhir yang membuatnya terlelap dan jatuh ke dalam kegelapan total.

Yang dirasakan adalah dingin embusan angin yang terkadang menghampiri, meski dia lebih sering merasakan hangat dan genggaman nyaman di tangannya.

Wilona tak sepenuhnya mendengar keadaan sekitar. Dia hanya menangkap dengung alat-alat medis yang menopang tubuhnya, samar suara obrolan entah siapa, atau bisikan rendah yang lagi-lagi memintanya membuka mata.

Wilona tak memahami keadaannya yang sekarang. Dia tidak tahu bahwa dirinya masih terbujur kaku di ranjang sebuah rumah sakit. Di kepalanya, dia merasa dapat bergerak dengan bebas, di bawah isolasi dinding-dinding gelap. Ketika tak merasakan atau mendengar apa pun, dia akan menganggap dirinya tidur. Ketika mendengar samar suara-suara itu, dia merasa sedang terbangun.

Pendengarannya sedikit berfungsi, berbeda dengan indra penglihat yang tak dapat menatap apa pun selain kegelapan pekat.

Wilona tak tahu dengan keadaan yang sedang menimpanya.

Dia susah mengingat kehidupan yang selama ini dijalani.

Sampai kemudian, dia mulai mendengar samar suara anak perempuan yang familier. Ucapannya tak terdengar jelas. Namun, Wilona menangkap kata sederhana itu, panggilan yang ditujukan seorang anak kepada ibunya.

Saat pertama kali mendengar, Wilona hanya dapat tercenung, mulai merasakan kekosongan di dalam dada, sesuatu yang mungkin dilupakannya.

Hari berikutnya, suara anak itu kembali menghampiri.

Makin sering dia mendengar, makin jelas kalimat yang diucapkan.

Memori yang memudar oleh ketidaksadaran pada akhirnya muncul ke permukaan.

Wilona merasakan basah di pipinya ketika dia mengingat Tabita, putri kandung yang belum ditemuinya.

Dia kembali merasakan sesak saat rentetan ingatan menyakitkan—yang berusaha dikunci rapat-rapat—kembali bermunculan, mengenai mimpi buruk yang terjadi di malam itu.

Wilona kembali bergelung selagi menahan gejolak emosi, rasa pilu atas kehormatan yang kembali dirampas oleh sosok itu.

Kesedihan, rasa bersalah, dan kemarahan kembali mencekam dada.

Wilona ingin bergelung lebih lama di sana, melupakan semuanya, dan menunggu gerbang kematian terbuka.

Namun, dia memimpikan seorang anak yang menghampiri dan memeluknya.

Dia memimpikan anak perempuan yang menangis dan mengutarakan keinginan untuk tetap bersamanya.

Wilona memimpikan Tabita, yang datang menemuinya, dengan dituntun oleh seorang pria yang hampir dia lupakan.

Mimpi itu memudar dengan cepat.

Wilona memeluk Tabita erat.

Dan ketika melepaskannya, dia mendapati kekosongan.

Ada dengung suara alat-alat medis yang lebih nyata di telinga.

Ada sejuk udara yang terpasang langsung di hidungnya, memudahkannya bernapas.

Ada hangat selimut yang menutupi sebagian tubuh, juga genggaman familier yang terasa nyaman di telapak tangan.

Wilona melihat samar cahaya kekuningan, terlihat redup, seperti lampu temaram.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang