67 ; Pendirian

6.7K 903 176
                                        

SANG IBU MERTUA memeluknya dengan hangat. Hardana Caturangga, selaku ayah mertua, juga menyambut jabatan tangannya.

Awal dari pertemuan mereka malam ini terlihat baik. Wilona merasakan beban yang meluruh dari pundak. Dia turut meminta Tabita menyalami kakek dan nenek baru-nya, kemudian dia mempersilakan mereka masuk.

Obrolan ringan dimulai dari mereka yang menanyakan kondisi kesehatannya. Wilona menjelaskan bahwa dia sudah dapat beraktivitas normal. Kesehatan fisiknya mulai pulih dan dia hanya perlu melakukan check-up di akhir bulan nanti.

Hardana dan Dianti tampak memahami ucapan Wilona. Dianti kemudian menyarankannya untuk lebih berhati-hati ketika berada di kamar mandi supaya tak lagi terpeleset. Ucapan tersebut memantik tanya dalam benak. Wilona baru memahaminya setelah teringat ucapan Nares beberapa saat lalu. Pria itu tidak memberi tahu alasan asli Wilona masuk rumah sakit. Kemungkinan besar Nares beralasan bahwa Wilona jatuh di kamar mandi alih-alih dia yang mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.

Orang tua sang suami tampaknya percaya-percaya saja dengan alasan tersebut. Wilona merasa lebih lega ketika mereka tak mencurigainya dan memilih untuk lanjut mengobrolkan hal lain.

Dianti menanyakan aktivitas sekolah Tabita, sementara Hardana lebih berfokus pada Nares. Dia menanyakan kesibukan sang anak dan dinamika kerja di tempat barunya.

Wilona menatap Nares dari sudut mata. Selagi memperhatikan Tabita yang sedang makan dengan lahap, dia turut menunggu jawaban dari sang pria.

Nares menjawab pertanyaan itu dengan nada datar, seakan dia tak begitu tertarik dengan obrolan ringan. Entah karena malas membahas pekerjaan atau karena dia yang memang enggan berbincang. Wilona tak tahu pasti. Dia hanya mampu menangkap kebosanan dalam nada bicara sang suami.

"Cuma pekerjaan biasa, nggak ada yang terlalu menarik di sana. Tapi, nggak seburuk itu juga," ujar Nares, memberi jawaban seadanya. "Setahun lagi mungkin masih bisa tahan. Tapi, lebih dari itu ... kita lihat nanti."

"Satu setengah tahun lagi," balas Hardana. Ketika Nares mengerutkan kening, dia menambahkan, "Kondisi yang diminta kakekmu, dua tahun. Sekarang sudah jalan setengah tahun."

"Kakek sempat ngomong sesuatu tentang perusahaan baru Dikara?" tanya Nares kemudian.

"Baru merencanakan. Perusahaan ritel yang mau kami buat akan berada di bawah cabang Limo Development," jelas Hardana, dia memandang sang anak bungsu, "Perusahaan lamamu."

Wilona mengamati Nares, melihatnya yang mengerutkan kening semakin dalam.

"Kenapa harus ada di bawah LMT?" Nares bertanya, nada bicaranya terdengar menuntut.

Hardana melirik putranya sekilas, dia lalu menghela napas.

"Tanya ke kakakmu," ungkapnya dengan enggan. "Dia yang bernegosiasi dengan Kakek Dierja. Kamu tahu sendiri, dia bisa membujuk kakekmu dengan baik."

"Lebih tepatnya menipu," timpal Dianti, kentara sekali terdengar sinis. "Kemungkinan besar, dia masih ingin mengontrol kamu lewat perusahaan itu lagi. Selain papamu dan cucu dari Keluarga Rajendra, dialah pemegang saham besar lain yang ada di sana. Biar sekalian terbebas dari dia, sebaiknya kamu bersabar.

Tunggu sekitar empat tahun lagi, sepupumu—Dhani—sebentar lagi mewarisi perusahaan utama dari keluarga istrinya. Posisi eksekutif di Dikarindo akan kosong. Kamu bisa menggantikan dia dan bekerja dengan Fendy. Kalau kamu masih nggak sabar, kamu bisa mulai mengakrabkan diri dengan Atmaja lagi. Pamanmu itu lebih suka ke kamu ketimbang kakakmu yang kurang ajar itu."

"Ah, benar, Atmaja sempat menawarkan ini," tambah Hardana. "Dia mau bernegosiasi sedikit dengan kamu kalau kamu mau bergabung ke perusahaannya."

Nares menatap kedua orang tuanya sekilas.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang