87 ; Asa

3.9K 573 74
                                        

BELANJA KEBUTUHAN SEHARI-HARI kini menjadi rutinitas baru mereka. Wilona tidak tahu pasti kapan dia memulainya. Yang jelas, dia mulai mengajak Nares berbelanja tiap mereka mempunyai waktu luang.

Rutinitas yang dijalani sendiri, kini jadi melibatkan orang lain. Wilona tak lagi mengecualikan Nares dari hidupnya, berbanding terbalik dengan kesepakatan mereka di awal pernikahan. Dia mulai terbiasa dengan keberadaan Nares. Dan dia tidak menyangka bahwa mereka bisa membuat pernikahan bisnis ini terasa normal dan natural, seolah sejak awal mereka memang sudah lama mengenal dan saling menyimpan perasaan.

Alunan musik populer menggema di sepenjuru ruang. Wilona berjalan selagi memantau Tabita yang sedang asyik memilih camilan, sedangkan Nares berada di sampingnya selagi mendorong kereta belanja.

"Mami, aku mau beli ini lagi," ucap Tabita. Dia memegang sebungkus makanan ringan. Makanan itu mengandung bahan pewarna yang lumayan mencolok.

Wilona tak perlu banyak waktu untuk menjawab perkataan sang anak. Dia mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya. "Minggu ini dan dua minggu berikutnya nggak boleh. Kamu udah beli itu kemarin. Sebulan cuma boleh satu kali."

Tabita sudah menebak jawaban ibunya. Akan tetapi, dia tetap mengerucutkan bibir dengan sebal.

"Sekali ini aja, Mam," kata anak itu. Dia berjalan menghampiri orang tuanya. "Habis itu enggak." Tabita menaruh bungkus makanan ringan tadi ke atas keranjang belanja.

"Tetap no. Bita bakal bilang seperti ini lagi minggu depan." Wilona mengambil bungkus makanan ringan itu.

"Mommy, please ...." pinta Tabita. Dia kembali merengut dan memandang ibunya dengan sorot memohon. Mata bulatnya tampak jernih. Dia kelihatan akan menangis kalau ditolak.

Wilona sedikit goyah dengan tatapan polos itu. Namun, dia tetap harus tegas demi kesehatan anaknya.

Wilona menggeleng. Dia lanjut mengambil bungkus makanan ringan itu.

Di hadapannya, Tabita masih tidak rela. Dia menahan tangan ibunya, kemudian menoleh pada sosok yang mendorong keranjang belanja.

"Papa," panggilnya tiba-tiba. Dia memasang ekspresi memohon yang sama. "I want to buy snack."

Nares tidak langsung menjawab, dia hanya melirik pada Wilona yang memperingatinya lewat tatapan.

"Please, Papa ...." pinta Tabita, kembali mencoba.

Nares kini menatap sorot memohon putrinya, mendapati pipi tembam yang sedikit merengut karena tidak diizinkan membeli camilan. Mata bulatnya begitu jernih. Wajah polosnya begitu mirip dengan Wilona.

Nares mengembuskan napas pelan. Dia menegakkan diri.

"Makan snack dua kali sebulan pasti masih aman—"

"Kamu langsung nurutin Bita cuma karena dipanggil Papa?" potong Wilona, lanjut memperingatinya. "Kalau digampangkan, nanti dia akan minta lagi. Dan akhirnya nggak terbiasa buat disiplin. Kamu mau dia jadi terbiasa buat—"

"Oke, aku tau," sergah Nares kemudian. Dia berdeham, lalu menatap putrinya. "Listen to your Mom, Bita. Coba kamu bujuk dia lagi."

Tabita mengerucutkan bibir dengan sebal. Dia masih tidak rela, tetapi dia membiarkan Wilona mengambil camilan dari keranjang belanja. Suasana hati sosok kecil itu langsung mendung. Walaupun begitu, dia tak mengutarakan protes ataupun kemarahan yang menggebu-gebu. Hanya ekspresi masam dan mata jernihnya yang memperlihatkan kekecewaan.

Wilona sekalipun jadi goyah ketika melihatnya. Menghadapi seorang anak yang merajuk jauh lebih sulit dibandingkan menghadapi orang dewasa yang marah.

"Gimana kalau Mami bolehin sekali ini aja, tapi sebagai gantinya minggu ini kamu harus makan sayur lebih banyak?" tawar Wilona kemudian.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang