61 ; Ketulusan

7K 878 112
                                        

WILONA SUDAH MEMUTUSKAN untuk bertahan. Namun, ketetapan hati yang demikian tetap sulit dijalankan.

Gagasan untuk menyudahi hidup masih sering menghampiri. Orang yang sehat tidak mungkin memikirkan hal semacam ini. Menyakiti diri sendiri, apalagi sampai mencoba mengakhiri hidupnya, bukanlah sesuatu yang normal. Wilona mencoba merasionalkan diri. Dia tahu dan sadar betul betapa salahnya gagasan negatif itu. Namun, dia tak bisa sepenuhnya menghalau bisikan tersebut. Tiap kali teringat insiden di malam itu, kepalanya langsung keruh. Dia kembali menyalahkan diri. Dan tumpukan rasa bersalah itu membuatnya ingin mati.

Kembali mendapatkan kehidupan normal terdengar tidak memungkinkan dengan kondisinya yang sekarang.

Wilona masih merasa hilang. Dia belum sepenuhnya menggenggam harapan.

Iming-iming untuk bertemu Tabitalah yang memaksanya membuka mata setiap pagi, memakan menu hambar yang disediakan rumah sakit, menelan berbagai pil yang terasa pahit, hingga mengikuti sesi fisioterapi agar dia bisa kembali berjalan setelah terbaring koma selama satu setengah bulan.

Langkah menuju pemulihan itu masih sangat panjang. Wilona tidak tahu, sampai kapan dia bisa bertahan, apakah dia bisa melalui masa-masa ini. Mimpi buruknya masih terus datang. Dia masih sering terbangun di tengah malam, dengan napas terengah, dan pandangan kosong.

Matanya berair, tetapi dia selalu menahan tangis. Bukan karena dia yang kuat. Namun, karena dia tidak ingin ikut membangunkan orang yang juga bermalam di ruangan yang sama dengannya.

Nareswara ... pria itu lebih sering menginap di rumah sakit alih-alih pulang ke rumah.

Wilona tidak tahu alasan kekukuhan Nares untuk tetap di sini. Selama hampir seminggu, Wilona masih jarang mengajaknya bicara. Orang yang sering dia mintai bantuan bukanlah sosok itu, melainkan Mbak Tina, pekerja rumah tangga yang juga selalu menunggunya di rumah sakit.

Nares seolah hanya ingin melihatnya, memastikan bahwa dia masih bertahan, dan tidak lagi melarikan diri ke dalam tidur panjang.

Wilona sedikit menangkap perubahan dalam tabiat pria itu. Pembawaan dirinya terlihat lebih tenang. Ucapannya jauh lebih terkontrol. Kilat tajam di matanya tampak lebih netral.

Dia tak lagi terlihat gegabah atau seperti seekor anjing liar yang langsung awas dan bersiap untuk menyerang tiap berhadapan dengan orang asing.

Sesuatu dalam diri sosok ini ada yang berubah, tetapi Wilona tak bisa menyebutkan dengan pasti perubahan itu.

Dia juga tidak ingin bertanya. Dia tidak ingin makin mengenal Nares yang sekarang.

Dia tidak mau menelan lebih banyak rasa bersalah jika mengetahui dengan pasti intensi kebaikan sosok tersebut.

Oleh karenanya, dia selalu menahan isak tangis ketika terbangun di tengah malam akibat mimpi buruk. Dia tidak ingin Nares tahu. Dia tak mau sosok itu kembali melihatnya yang masih jauh dari kata stabil. Cukup satu malam itu saja ketika dia kehilangan pertahanan diri. Dia tidak ingin Nares melihatnya yang membutuhkan kenyamanan nyata seperti ini.

Sayangnya, Wilona memang tidak memiliki keberuntungan hidup yang besar.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.

Mimpi buruk yang barusan menghampirinya terasa sangat nyata dan menyakitkan. Cekikan Jonathan seolah berbekas di lehernya. Tamparan dan berbagai kekerasan lain di tubuhnya kembali terngiang. Cemooh dan kalimat-kalimat merendahkan dari mulutnya masih terbayang.

Napas Wilona terasa tak beraturan begitu dia membuka mata. Suara pendingin ruangan berdengung pelan di telinga. Namun, sejuk ruangan tidak berhasil menghambat keringat yang mengaliri pelipisnya.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang