69 ; Informan

8.9K 933 101
                                        

KETIKA PAGI TIBA, Nares masih berada di sisinya. Dia masih terlelap. Sebelah tangannya merangkul sisi tubuh Wilona, memeluk dan mendekapnya.

Wilona tak terkejut ketika mendapati kehadiran sang pria. Dia ingat dengan kejadian malam tadi. Dia juga sadar ketika Nares kembali ke dalam kamar. Pria itu tak melepasnya begitu saja. Dia kembali membagi kehangatan dengan Wilona. Dan Wilona tak keberatan untuk kembali dipeluknya.

Dekapan sosok itu terasa nyaman. Wilona tak begitu yakin dengan apa yang dia lakukan. Perkembangan intimasi ini mungkin bukan karena dia yang ingin memberikan balasan pada Nares. Namun, karena dia yang turut menikmatinya.

Dia yang mungkin sedang memanfaatkan perasaan sang pria.

Wilona termangu ketika gagasan tersebut menghampiri kepala. Dia mendongak dan memperhatikan mata yang masih terpejam rapat. Sebelah tangannya terulur. Dia mengusap pelan sisi wajah Nares, merasakan garis rahang sosok itu di bawah telapak tangannya, mengekspektasikannya untuk segera membuka mata.

Nares adalah sosok yang mudah terbangun oleh intrusi kecil sekalipun. Sentuhan Wilona sudah pasti akan membangunkannya. Hanya saja, Wilona melihat matanya yang masih terpejam. Hela napasnya juga masih teratur, tak menunjukkan tanda bahwa dia sudah terbangun.

Wilona mengamatinya sedikit lebih lama. Dia lalu menoleh pada jam dinding dan memutuskan untuk segera bangkit.

Dengan hati-hati, dia mengalihkan lengan yang melingkar di pinggangnya. Lagi-lagi memperkirakan Nares yang akan membuka mata. Akan tetapi, dia tak merasakan sedikit pun respons darinya.

Wilona mengembuskan napas lega. Dia sedikit menyisir rambut paginya dengan jari, kemudian beringsut turun dari ranjang.

Pertikaian dengan sang mertua masih terbayang di kepala. Wilona mengerutkan kening ketika mengingatnya. Seperti yang diperkirakan, dia tak bisa mengabaikan pertikaian itu begitu saja. Haruskah dia menanyakan saran pada Gema terkait hal ini?

Wilona menggelung rambut panjangnya dengan sembarang. Dia hendak melangkah keluar kamar ketika mendengar getaran ponsel. Saat menoleh, dia mendapati layar ponsel Nares yang menyala. Mengikuti dorongan refleks, dia menghampiri nakas di samping ranjang.

Wilona tidak membuka ataupun mengambil ponselnya. Dia hanya memeriksa layar ponsel dan mendapati notifikasi sebuah pesan pada ponsel sang suami.

Nama kontak si pengirim masih terlihat pada layar.

Lydia (Citra Harapan), baca Wilona dalam benak.

Jadwal saya kosong setelah makan siang. Silakan reschedule seperti yang ....

Wilona terdiam, dia menatap Nares sesaat, kemudian beranjak meninggalkan kamar.

Ketika tak lagi berada di kamar, Wilona menyempatkan diri untuk mencari nama kontak yang menghubungi Nares. Dia termenung lama begitu mengetahui identitas sosok tersebut.

Ketika menyadari siapa orang yang berkirim pesan dengan suaminya, Wilona menghela napas panjang. Dia mengusap wajahnya pelan selagi merasakan remasan asing yang kembali menghampiri dada, perasaan yang muncul tiap kali dia menyadari bahwa ternyata Nares adalah sosok yang jauh lebih baik dari yang dia pikirkan.

Lydia Christiana adalah seorang praktisi psikologi dari Pusat Rehabilitasi Citra Harapan. Seingat Wilona, tempat tersebut adalah panti rehabilitasi yang sempat disinggahi Nares.

Sosok bernama Lydia ini mungkin adalah seorang pendamping yang selama ini membantu Nares lepas dari adiksi narkoba. Prediksi Wilona, sosok itu juga merupakan terapis pribadi sang pria, sosok yang berperan sama seperti Renata bagi dirinya.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang