VAREN ABIMANYU ADALAH seorang pengusaha biasa. Dia memang cemerlang dan jenius jika dibandingkan dengan lelaki seumurannya. Pada umur dua puluh empat, selagi menuntaskan pendidikan master, dia telah merintis sebuah perusahaan digital di Eropa. Latar belakang keluarganya bisa dibilang sangat berada. Privilese yang dimiliki juga tidak tanggung-tanggung, mengingat keluarganya yang merupakan pemilik perusahaan perbankan swasta terbesar di Indonesia.
Nares mengenal Varen sebagai anak pengusaha yang sama sepertinya. Dia bergelut di dunia bisnis, meskipun dia mengambil langkah ekstrem dengan merintis perusahaan sendiri alih-alih mengelola perusahaan keluarga.
Segala pencapaiannya, yang sempat tercatat pada Majalah Forbes, memang menyilaukan mata. Namun, mau dilihat dari sisi mana pun, Varen memiliki hidup yang normal dan ideal. Orang yang dicari Nares bukanlah sosok seperti Varen. Dia butuh seseorang yang mengenal kelompok bayangan, mereka yang mampu bergerak di bawah radar hukum.
Oleh karena itu, Nares sangat mempertanyakan isi pikiran kakaknya.
Bagaimana bisa Gala mengarahkannya untuk menggali informasi dari pria itu?
Apa pula yang diketahui Varen mengenai orang seperti Dewan?
Ditinjau dari riwayat pendidikan dan jenjang kariernya, Varen sama sekali tidak pernah berurusan dengan hal ilegal. Nares masih tidak tahu kekonyolan apa yang menaungi kepala Gala sampai asal menyebut nama pria itu. Ucapan Gala bagaikan lelucon aneh di telinganya. Nares tetap mengikuti ucapannya karena dia belum menemukan jalan keluar dari permasalahan ini.
Bernegosiasi lagi dengan Varen terdengar seperti mimpi buruk. Dia bahkan sudah gagal ketika terakhir kali mencobanya. Mengapa sekarang dia mau melakukannya lagi?
Menatap studio martial arts di depannya, Nares mengembuskan napas pelan. Dia sudah terlanjur ke sini. Mungkin, dia memang cukup mencobanya lagi.
Kapan terakhir kali dia berusaha sekeras ini demi orang lain?
Nares tidak ingat. Dia mungkin tidak pernah melakukannya.
Meyakinkan diri untuk terakhir kali, Nares pun keluar dari mobil. Dia memaksakan kaki untuk melangkah dan menyapa beberapa wajah yang familier, sesama pengunjung studio yang sering berlatih tanding dengannya.
Sisa lebam di wajah Nares memancing banyak tanya dari mereka. Nares tidak menggubrisnya dan malah bertanya mengenai Varen.
Ketika diberitahu bahwa sosok itu sedang mengunjungi kafetaria, Nares langsung beranjak. Dia mengunjungi kafetaria yang jauh lebih sepi dari biasa. Hari Senin memang bukan hari yang dipilih orang-orang untuk mengunjungi studio ini. Nares dapat menemukan Varen dengan mudah begitu dia sampai di sana.
Handuk kecil masih tersampir di pundaknya. Rambut gondrong sosok itu tengah digerai alih-alih diikat. Dia tampak segar dan menarik perhatian, bahkan ketika dia sedang memakan ketoprak yang merupakan makanan merakyat. Teman mengobrolnya ada di dalam ponsel. Dia sepertinya sedang melakukan panggilan video.
Nares mengernyit ketika melihatnya. Sesuatu mengenai Varen selalu terlihat asing. Dia kelihatan terlalu lepas, sampai membuatnya merasa awas, khawatir jika dia dijebak tanpa sepengetahuannya.
Hanya saja, ketika hendak mengurungkan niat, pandangan sosok itu sudah jatuh kepadanya. Varen menaikkan alis, dia lalu mengabaikannya untuk kembali bercengkerama dengan sosok yang berada di layar ponsel.
Ketika berjalan mendekat, Nares sempat melihat wajah seorang wanita yang juga pernah mengunjungi studio ini. Keberadaannya mungkin akan mengganggu panggilan video mereka. Akan tetapi, Nares tidak peduli. Dia sudah ingin segera mendapat jalan keluar yang jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomansaBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)