62 ; Keputusan

7.1K 889 96
                                        

SEPERTI YANG DIJANJIKAN oleh Nares, Tabita benar-benar datang ke rumah sakit keesokan harinya.

Wilona hampir lupa dengan rasa gembira. Rentetan musibah dan malapetaka membuatnya asing dengan suka cita. Wilona tak mengira bahwa dia akan kembali merasakannya.

Dia tidak tahu bahwa melihat sang putri, di hadapannya, dapat memberi kebahagian yang tidak terduga.

Sesaat, kepalanya sepi dari pikiran negatif mengenai kematian. Yang dirasakan Wilona hanyalah erat pelukan si kecil, juga suara nyaring yang sedang ikut terisak bersamanya.

"A-Aku kangen Mami," ucap Tabita di sela tangisan. Suaranya teredam oleh pelukan. "Aku nggak suka lihat Mami tidur lama. Aku nggak mau Mami ninggalin aku lagi."

Wilona hanya dapat mengeratkan pelukan. Dia mengelus pelan punggung putrinya. Air mata telah mengalir. Tenggorokannya tersekat, sulit untuk berbicara. Ucapan Tabita terasa begitu menohoknya.

"A-Aku nggak mau lihat Mami sakit lagi. Aku mau terus bersama Mami. Aku mau Mami membacakan dongeng buat aku lagi ...."

Tabita masih berbicara, mencurahkan perasaannya, menyampaikan pesan yang selama ini terhalang oleh ketidaksadaran Wilona.

Wilona hanya mendengarkan dan mengangguk. Tiap ucapan si kecil seolah menyayat batinnya. Tiap pinta dan permohonan yang terucap dari mulutnya, memberi pukulan besar di dalam dada.

Wilona sempat mencoba meninggalkan Tabita untuk mengejar kematian.

Dia sempat lupa dan luput pada kondisi sang anak jika ditinggalkan.

Dia menutup mata dan telinga agar tidak melihat ataupun mendengar kondisi dan juga permintaan sang anak.

Wilona menganggap Tabita akan baik-baik saja tanpa kehadirannya. Untuk melepaskan diri dari paku kehidupan, dia meyakinkan diri bahwa Tabita tak lagi membutuhkannya.

Padahal, inilah realita yang hadir di hadapannya; fakta bahwa Tabita masih menginginkan dan membutuhkannya.

Wilona terlalu tenggelam dalam rasa sakitnya sendiri sampai lupa pada kondisi sang putri.

Tangis Tabita tak berhenti dalam waktu singkat. Dia masih terisak-isak dan menolak untuk beranjak dari sisi ibunya.

Ketika Wilona menjalani sesi fisioterapi pun anak itu masih berada di sana. Dia benar-benar menemani. Wilona sampai membolehkannya untuk turut berbaring di ranjang yang sama dengannya.

Tempat tidur pasien itu cukup lebar sehingga bisa mengakomodasi keberadaan Tabita yang masih tergolong belia.

Mbak Tina ikut menemani Wilona dan Tabita di ruang pasien. Dia ikut menangis setelah melihat pertemuan ibu dan anak tersebut. Wilona sempat melihat pekerja rumah tangganya yang mengusap mata dengan sapu tangan. Momen itu, Wilona tersenyum lemah—senyum pertama yang diulas sejak dia terbangun dari koma.

Ketika Mbak Tina membantunya berpindah ke kursi roda, Wilona mengucapkan terima kasih, entah karena bantuannya di rumah sakit, ataupun karena Tina yang sudah merawat Tabita selama dia tidak ada.

Ucapan terima kasih Wilona dibalas dengan anggukan. Namun, perempuan yang sedikit lebih tua darinya itu juga turut memberi penjelasan lain. Dia tak ingin Wilona hanya berterima kasih padanya.

"Dibandingkan saya, selama ini Pak Nares yang mengurus kebutuhan Ibu," tuturnya. "Dia juga yang waktu itu bawa Non Bita pulang ke rumah. Saya memang merawat Non Bita seperti biasa, tapi Pak Nares juga selalu menyempatkan diri buat nengok dan nemenin Non Bita. Kadang, Bapak yang ajak Non Bita jalan-jalan pas akhir pekan."

Wilona perlu menengok ke arah Mbak Tina untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

"Dia ... yang bawa Tabita balik ke rumah?"

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang