MELEPAS JAS FORMAL dan melemparnya ke bangku belakang, Nares menyalakan mobil dengan Wilona yang berada di sampingnya.
Seperti yang diminta sang wanita, mereka takkan langsung kembali ke hotel selepas acara. Wilona hendak mengunjungi festival tahunan di Malioboro sana. Nares telah meminta langsung untuk ikut dengannya. Dia tidak keberatan jika nanti harus berbaur dengan kolega kerja Wilona yang didominasi perempuan.
Selagi dia bisa memantau keberadaan sang istri, dia rela-rela saja.
Yang sekarang menjadi masalah adalah kalimat ambigu yang disampaikan sosok itu.
Beberapa saat lalu, Wilona mengaku bahwa dia sempat menolak ajakan Diandra untuk mengunjungi festival. Kalau sudah begini, sebetulnya dia ingin mengunjungi acara itu atau tidak?
"Mau balik ke hotel aja?" tanya Nares pada akhirnya. "Biar kamu bisa istirahat."
Wilona masih terlihat murung—atau mungkin lelah? Nares tak tahu pasti.
Perempuan itu telah memakai sabuk pengaman. Dia bersandar pada punggung kursi dan memejamkan mata perlahan.
"Di hotel kita tetap perlu nunggu Tabita pulang. Aku belum bisa istirahat."
"Aku yang tunggu dia. Kamu bisa istirahat," timpal Nares, memberi opsi lain.
Wilona tak langsung menjawab. Dia seperti sedang menimbang-nimbang.
Sesaat kemudian, Nares melihat gelengan.
"Ke festival aja. Aku belum mau balik ke hotel."
Nares menatap dengan skeptis. Keningnya mengerut. Dari gerak-geriknya, dia bisa melihat bahwa Wilona tak memiliki energi untuk bepergian lagi. Mengapa dia sangat bersikukuh untuk pergi?
Nares memiliki keinginan besar untuk bertanya. Namun, dia berusaha keras menahannya. Suasana hati sosok ini sedang buruk. Akan lebih baik jika saat ini dia tidak memojokkannya dengan bertanya.
Menyalakan mobil, Nares mulai membawa mereka keluar dari area gedung. Dia membiarkan sunyi mengisi.
Selama perjalanan, Wilona masih enggan berbicara. Padahal, biasanya perempuan itu selalu memantik obrolan. Hal tidak biasa ini meyakinkan Nares bahwa Wilona memang sedang marah. Nares berusaha menebak penyebab dari kemarahan itu. Hanya saja, dia belum terpikir apa pun, bahkan hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Nares mendapat parkiran yang terbilang jauh dari tempat festival. Tak seperti yang diperkirakan, tempat yang mereka kunjungi ini ternyata masih cukup ramai. Lampu-lampu jalan tampak menyala terang. Para muda-mudi dan pengunjung lain masih memenuhi jalan setapak. Beberapa dari mereka ada yang sedang duduk-duduk santai di bangku pinggir jalan. Tak jarang, ada pula orang-orang yang duduk di pelataran taman, saling mengobrol dengan keluarga, teman-teman, ataupun pasangan.
Keramaian ini menyulitkannya untuk mendapat tempat parkir yang lebih dekat. Dia terpaksa harus menyetir sedikit lebih jauh, baru kemudian dia menemukan area parkir yang cukup sepi.
Dibandingkan tempat yang berada di dekat lokasi festival, tempat ini hanya mendapat sedikit penerangan. Gerai toko di sana sudah banyak yang tutup. Di samping mobil Nares, hanya terdapat dua mobil lain yang terparkir.
Nares mematikan mobil begitu selesai memarkir. Dia melepas sabuk pengaman dan menoleh pada sosok di sampingnya.
"Kita harus jalan agak jauh ke sana. Cuma tempat ini yang masih kosong," jelasnya, memulai pembicaraan sejak mereka meninggalkan acara perusahaan.
"Nggak apa-apa," timpal Wilona, singkat. "Kebetulan aku lagi pengen jalan."
Nares sedikit menggulung lengan kemejanya agar tak terlihat terlalu formal. Mereka keluar dari mobil dan mulai berjalan bersisian menyusuri jalan setapak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
CintaBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)