82 ; Provokasi

5K 682 27
                                        

WILONA TIDAK TAHU alasan di balik ekspresi kaku Nares. Sorot mata awas dan air wajah keruh itu sudah lama tak dilihatnya. Ketika baru mengenalnya dulu, Nares hampir selalu memasang ekspresi itu. Dia jarang terlihat rileks. Jika tak terlihat siaga, wajahnya pasti tampak masam. Dia yang sekarang sudah jauh lebih santai dan tenang. Reaksi yang barusan dilihat Wilona bukanlah sesuatu yang menandakan ketenangan.

Ada pemicu yang mengganggu pikiran pria itu. Dan Wilona tidak bisa menebaknya.

Dia tak memiliki kesempatan untuk bertanya karena mereka sudah harus menghadapi tamu kehormatan sang ayah. Pak Herlambang langsung mengajaknya berbincang. Mereka membicarakan tentang Frimora dan juga ketertarikan Wilona untuk membuat gedung perbelanjaan khusus untuk produk pakaiannya.

Obrolan itu berputar pada urusan bisnis. Sepanjang perbincangan, Wilona mulai mengerti pada alasan mengapa ayahnya mempercayai orang ini. Pak Herlambang terdengar kompeten dan profesional. Penjelasannya mengenai bisnis properti amat mudah dicerna. Mereka sempat bertukar kartu nama sebelum mengakhiri pembicaraan.

Mengangguk dengan sopan, Wilona turut mengulas senyuman. Dia hendak berpamitan pergi ketika mendengar penuturan Nares pada si pengusaha properti.

"Dua orang yang tadi sempat mengobrol dengan Bapak itu siapa? Apakah saya boleh tau?"

Wilona menoleh dan mengerutkan kening samar, bertanya-tanya.

Bukankah dua orang tadi mengaku mengenal Nares? Tidakkah dia balik mengenal mereka juga?

"Oh, kamu belum kenal, ya? Saya lupa, kamu baru masuk Metro Karya belum lama ini," jawab Pak Herlambang. "Dia itu tamu undangan Metro Karya juga, perwakilan dari Swakarya Abdi, perusahaan konstruksi yang beberapa kali bermitra sama saya buat menggarap proyek Grand Metro," tambahnya, menjelaskan. "Dua orang tadi menggantikan Pak Purnomo, direktur yang biasanya datang. Namanya ... siapa tadi? Septian sama Aurel kalau tidak salah. Saya sering lupa nama orang," ungkap Pak Herlambang, dia lalu tertawa.

Wilona menatap Nares yang tampak mengerutkan kening. Ketika kembali berkontak mata dengan si direktur, Nares segera melengkungkan senyum. Dia mengangguk dan berterima kasih, kemudian menggandeng lengan Wilona untuk beranjak.

Saat jarak mereka dengan sosok tadi sudah lumayan jauh, Wilona pun pada akhirnya bertanya.

"Kamu kenal dua orang itu?"

Nares mengambil gelas minuman yang sempat ditawarkan pelayan. Dia meneguk jus anggur itu sebelum merespons Wilona.

"Nggak seharusnya mereka di sini," ungkap Nares, tidak menjawab pertanyaan Wilona. "Panitia acara kelihatannya kecolongan. Ada tikus-tikus kota yang nyusup—"

"Whoa, sekarang kita cuma dianggap jadi tikus kota?"

Suara lain tiba-tiba ikut menimpali. Baik Wilona maupun Nares menoleh ke sumber suara. Wilona mengerjap ketika mendapati dua orang yang sedang mereka bicarakan. Pria berpostur tinggi besar itu kata Pak Herlambang bernama Septian, sedangkan perempuan cantik yang menemaninya bernama Aurel.

Mereka berdua memakai pakaian formal. Septian dengan setelan jas dan celana kain berwarna kelabu, sedangkan Aurel mengenakan gaun satin berwarna perak. Gaun itu memiliki belahan yang cukup tinggi, dari sisi paha hingga tungkai. Bibirnya dipoles dengan lipstik kemerahan yang cukup mencolok.

Penampilan itu terlihat sangat berani, tetapi tetap pas dan modis di waktu bersamaan.

Tak seperti Wilona yang terfokus pada penampilan mereka, Nares tidak terkesan dengan hal yang dilihatnya. Alih-alih terkesan, dia justru tampak terganggu.

"Ngapain kalian di sini?" todong Nares secara langsung, tak mengindahkan komentar yang sempat dilontarkan dua orang itu untuk menyapanya. "Gimana bisa kalian di sini?" tambah Nares, lebih menekankan pertanyaan.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang