KETIKA JARUM JAM menunjukkan pukul lima pagi, Wilona sudah tidak berada di sofa. Sosok itu pergi entah sejak jam berapa. Satu hal yang pasti, Nares tak melihat keberadaannya ketika dia membuka mata.
Kantuk yang mendatangi berhasil membuatnya terlelap sehingga dia tak bisa memantau keadaan Wilona. Nares melihat pojok sofa yang sempat ditempati sang wanita. Beberapa detik kemudian, dia mengembuskan napas rendah.
Wilona yang beranjak mungkin menandakan kondisinya yang telah membaik. Nares cukup tergelitik dengan alasan yang mendasari keadaan perempuan itu. Namun, dia tak memiliki landasan yang cukup untuk bertanya. Bagaimana jika Wilona balas mempertanyakannya? Misalkan saja, pertanyaan mengenai dorongan apa yang membuatnya tiba-tiba jadi sok peduli dan ingin tahu begini?
Pagi itu, alih-alih kembali ke tempat tidur, Nares memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Kejadian dini hari tadi masih terasa asing dan tidak nyata.
Dia perlu menyegarkan diri sebelum memulai aktivitas pagi.
Wilona mungkin memang tidak sekuat yang dia duga. Dia mungkin memiliki kerentanan yang selama ini ditutup-tutupi.
Nares tidak tahu harus bereaksi apa dengan informasi baru yang didapatnya. Saat ini, dia hanya tidak ingin melihat Wilona berada di kondisi genting seperti itu lagi. Mungkin saja bukan karena dia yang telah menjadi lebih peduli, tetapi lebih karena dia benci perasaan yang datang ketika melihat Wilona terpuruk dan terlihat ingin mati. Dia membenci perasaan yang mengingatkannya pada keadaan dirinya sendiri.
oOo
Wilona sudah terlihat baik-baik saja ketika mereka kembali berpapasan.
Air wajah perempuan itu masih lesu. Namun, pucat wajahnya cukup tersamarkan oleh polesan kosmetik. Dia tak lagi terlihat terguncang ataupun dilanda kepanikan. Sorot tak terbaca dan wajah datarnya telah kembali. Jika dini hari tadi Nares tak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dia tidak akan tahu bahwa Wilona baru saja mengalami keterpurukan besar.
Wilona mungkin memang pandai menyembunyikan emosi. Dia sudah terbiasa memasang topeng yang membuat orang lain sulit menebak keadaan dirinya yang sebenarnya.
Pandangan awam Nares menyulitkannya untuk memperkirakan isi pikiran Wilona. Dia hanya dapat bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban. Apalagi ketika Wilona mengajaknya bicara dengan intonasi yang kelewat biasa saja, seolah dini hari tadi dia tidak baru saja menyaksikannya yang gemetar ketakutan dan meringkuk sendirian di sebuah ruangan gelap nan sepi.
"Mau kubuatkan kopi sekalian?" kata Wilona saat itu, mereka kebetulan sedang sama-sama berada di dapur. Wilona tengah menyeduh kopi dari sebuah mesin.
Nares menatapnya yang sudah terlihat rapi. Perempuan itu telah mengenakan setelan kerja, sebuah celana high waist yang dipadukan dengan blus panjang. Rambut yang biasa diurai kini telah diikat di belakang, membentuk gelungan sederhana yang tetap terlihat rapi.
Wilona terlihat sudah siap untuk pergi, meskipun jam dinding masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
Nares kembali menatap seduhan kopi sang wanita. Harum kopi itu menggelitik hidungnya.
"Kalau lo mau buatin," dia mengawali, "Sure."
Wilona meliriknya sekilas. Dia lalu mengambil gelas yang lain dan mulai menyeduhkan minuman panas itu untuk Nares.
Nares mengamatinya dari dekat konter dapur. Dia terang-terangan menatapnya, sama sekali tidak berusaha untuk menyamarkan fokus perhatian itu.
Wilona pasti menyadari tatapannya. Namun, dia tak mengomentari apa pun. Sorot mata Nares tak begitu memengaruhinya. Dia seolah sudah mengantisipasi hal yang demikian dari sang pria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)