45 ; Akhir

8.4K 814 133
                                        

a.n.

chapter ini mengandung aspek yang cukup triggering bagi sebagian orang. mohon dibaca dengan bijak.


***

WILONA HARAP KEJADIAN buruk ini hanyalah mimpi. Dia harap, kehadiran Jonathan hanyalah teror yang selama ini bernaung di alam bawah sadar. Dia harap, dirinya masih memiliki kontrol atas tubuhnya, sehingga dia bisa segera terbangun dan menghentikan mimpi buruk ini.

Hanya saja musibah yang menimpanya bukanlah sekadar ilusi. Mimpi yang sering menghantui, kini bukan sekadar mimpi. Jonathan benar-benar kembali. Dan pria iblis itu kembali merobek luka lamanya. Dia kembali mengingatkan Wilona akan rasa jijiknya terhadap diri sendiri, dia yang berada di bawah kontrol kejamnya, mengerang dengan menyedihkan ketika pria biadab itu menyentuh dan merusaknya berkali-kali, hingga kehormatan dirinya tak tersisa lagi.

Kamar pribadinya ikut dinodai, seperti kamar lama mereka. Pakaian formal yang sopan, kini telah robek dan kusut dengan mengenaskan. Celana kain tergolek di atas lantai, disertai pakaian dalam. Kancing-kancing kemeja telah dibuka dengan paksa. Garmen yang menutup buah dada juga disingkirkan dengan semena-mena.

Wilona mencoba untuk tak menganggap kejadian ini sebagai realitanya. Dia mencoba meredam rasa sakit dengan berpikir bahwa musibah ini hanyalah ilusi belaka.

Kejadian di depannya terlihat buram. Kesadaran Wilona serasa timbul tenggelam. Tubuhnya hampir mati rasa, meskipun dia tetap mengenali sensasi menjijikan yang membuatnya mengerang dengan tidak berdaya, di luar kehendaknya.

Wilona membenci dirinya sendiri. Dia benci dengan reaksi tubuhnya yang seperti ini. Dia benci melihat seringaian puas di wajah kejam sang mantan suami.

Sakit yang menyerang tubuhnya seolah sudah sangat dikenali. Dan pria biadab ini seakan telah mengondisikannya agar dia bisa menikmati semua ini, memberi beban lebih yang membuat Wilona makin ingin melenyapkan diri.

Oh, dia sangat ingin menyudahi penderitaannya.

Dia ingin mati.

Mati.

Mati.

Jambakan keras kembali menamparnya dari anggapan bahwa semua musibah ini hanyalah ilusi.

Rambut kusutnya telah terkepal keras di tangan sang pria di belakangnya. Wilona tersedak napasnya sendiri ketika hunjaman menyakitkan kembali memenuhi.

Pekat keringat menyelimuti tubuh. Jejak luka gigitan di sudut bibirnya masih menyisakan warna merah darah.

Wilona ingin semuanya usai. Dia ingin cekikan Jonathan sekalian mendorongnya ke akhir kehidupan.

Hanya saja, saat itu jarum jam bergerak dengan sangat lambat.

Dan pria biadab ini tidak puas hanya dengan menyetubuhinya sekali. Dia serakah. Dia dibutakan oleh obsesi. Dan dia tidak peduli jika Wilona menangis selagi mengerang pilu.

Dia hanya ingin menghukumnya, menunjukkan kuasa dan kendali yang dia punya.

Dia tidak peduli jika sang wanita sudah terkulai tidak berdaya, tak sadarkan diri dengan kondisi berantakan; rambut yang lepek, maskara yang luntur akibat jejak tangis, juga sisa lipstik yang memudar dan tercampur dengan bekas luka merah akibat gigitan di bibirnya.

Jonathan tidak berhenti sebelum dia puas.

Dan Wilona telah jatuh ke dalam kegelapan.

Dulu dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bangkit dan menjalani kehidupan normalnya lagi.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang