64 ; Kenyamanan

8.6K 990 106
                                        

LAYAR TABLET MEMPERLIHATKAN kanvas putih berisi sketsa dari beberapa desain pakaian. Wilona menggoreskan stylus pen di sana, membuat desain-desain lain hingga tiap sudut kanvas penuh dengan coretan gambar busana.

Televisi di hadapannya tampak mati. Wilona sedang duduk di sofa ruang tengah. Perhatiannya hanya tertuju pada torehan gambar yang dibuat. Dia baru menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang.

Ketika mendongak, dia mendapati Nares yang menghampiri. Pria itu memandangnya sesaat, kemudian melirik pada layar tablet di tangan Wilona.

"Lo baru pulang dari rumah sakit dan langsung diminta buat kerja?" tanyanya langsung.

Wilona menjauhkan tablet yang dipegangnya. Dia menggeleng pelan.

"Ini bukan kerjaan. Aku cuma menuangkan ide yang kebetulan lagi muncul."

"Bukannya tadi lo teleponan sama Diandra? Kalian bahas apa kalau bukan kerjaan?"

"Bukan sepenuhnya kerjaan," jawab Wilona. Dia kini meletakkan stylus pen di atas layar tabletnya. "Aku janji akan segera masuk kantor, tapi Diandra melarang dan minta aku istirahat total sampai beneran sembuh. Kami sedikit ngobrol tentang keadaan kantor. Cuma itu."

"Gue denger lo bilang tetap bakal berangkat minggu depan. What was that?"

Wilona terdiam sesaat. Dia lalu tersenyum lemah. Tablet di pangkuan segera diletakkan di atas meja. Wilona mengambil remote televisi dan menyalakannya.

"I need to be there," balasnya singkat. "Dari beberapa bulan kemarin, kami lagi ada proyek kerja sama. Dua minggu lalu seharusnya ada deadline peluncuran produk. Tapi, ternyata peluncuran produknya masih mandek karena satu dua hal."

Nares tampak masih mendengarkan. Dia turut bergabung duduk dengan Wilona di sofa ruang tengah.

Pandangan Wilona kini beralih pada layar televisi. Tanpa perhatian lebih, dia menekan remot untuk melihat-lihat acara yang sedang ditayangkan.

"Kerja sama itu dengan Eluxa," tambahnya kemudian, ucapannya makin menarik perhatian sang pria. "Ayesha is my old acquaintance. Kami sudah kenal lama sejak masa kuliah. Aku nggak begitu tahu masalah kamu dengan dia. Tapi, kurasa kamu perlu minta maaf secara langsung ke dia."

Wilona tak melihat ekspresi Nares. Namun, dia mendengar helaan napasnya.

"Dia mempersulit kerja sama bisnis kalian karena gue?" tembaknya langsung. Dia berdecak pelan. "She's so childish. Dari dulu nggak bisa memisahkan masalah pribadi sama urusan profesional."

"Kamu memperalat dia buat kepentinganmu sendiri. Respons dia bukan sesuatu yang aneh. Dia berhak marah meskipun dia juga ikut bersalah."

"Permintaan maaf gue ke dia bakal ngebantu lo dan Frimora?"

"Belum tentu," timpal Wilona tanpa ragu. "Ayesha itu keras kepala. She rarely changes her mind over something. Dia nggak mudah memaafkan."

"Then what's the point?"

"Buat pembelajaran biar kamu nggak lagi memperalat orang lain dan memperlakukannya dengan semena-mena." Wilona menoleh, melihat Nares yang melihatnya dengan sorot berkonflik. Keningnya mengerut samar. "Do it for yourself. Not me. Aku tau, kamu ada sedikit rasa bersalah ke dia."

Wilona tak mengatakannya secara langsung, tetapi dia seolah mengingatkan Nares atas responsnya sendiri ketika di acara pernikahan mereka dulu, dia didatangi langsung oleh Ayesha. Nares membiarkan Ayesha menamparnya meskipun jelas-jelas dia bisa menahan wanita itu untuk tak melakukannya.

Apa pun alasan di balik tindakannya. Wilona yakin, Nares masih memiliki secuil rasa bersalah atas berbagai perilaku buruknya.

Dia harap, sosok itu masih memiliki sisi tersebut.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang