88 ; Konklusi

5.6K 679 74
                                        

MEMANDANG GEDUNG YANG dihiasi berbagai spanduk berjargon pemerintah, Nares keluar dari mobil dan melangkahkan kaki menuju tempat tersebut.

Di dekat pintu masuk, dia menghampiri petugas wanita yang berjaga. Dia mengutarakan maksud kedatangannya, baru kemudian dua petugas lain datang menghampirinya. Sama seperti petugas wanita sebelumnya, dua pria ini memakai seragam yang serupa. Mereka adalah anggota kepolisian khusus di bagian pemasyarakatan. Tempat yang didatangi Nares adalah salah satu rumah tahanan di daerah Jakarta Pusat.

Maksud kedatangannya kemari yakni untuk menemui salah satu penghuni rutan ini. Dia mengikuti langkah petugas yang membawanya ke ruang kunjungan. Ruangan tersebut terbilang cukup luas, mirip kafetaria. Di sana terdapat meja dan kursi yang saling berhadap-hadapan. Ruangan tersebut sudah diisi oleh beberapa pengunjung lain. Sama sepertinya, mereka juga datang untuk menemui dan mungkin menjenguk penghuni rumah tahanan ini.

Dua petugas rutan berdiri di dekat pintu untuk berjaga, sedangkan dua orang lain yang sempat mengantar Nares kini telah pergi. Salah satu dari mereka memintanya duduk. Nares disuruh untuk menunggu selagi si petugas membawa tahanan yang hendak ditemui.

Nares melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Dia membuka ponsel dan menyempatkan diri membalas pesan masuk dari Wilona. Ketika merasakan kedatangan orang lain, dia segera menutup dan mengantongi ponsel. Seseorang yang hendak ditemui kini tampak dalam pandangan—seorang pria yang sekitar enam bulan lalu sempat menjebak dan mengeroyoknya hingga babak belur. Lelaki bajingan yang sempat menghancurkan hidup sosok yang dia cinta.

Jonathan muncul dengan wajah kusut. Ekspresinya kaku, rambutnya jauh lebih panjang dari sebelumnya. Rahangnya dihiasi bulu-bulu kasar. Manik matanya tampak merah, kantung matanya terlihat gelap, seolah mengindikasikan bahwa dia kesulitan untuk beristirahat.

Nares mendapati sorot geramnya begitu pandangan mereka bertubrukan. Walaupun begitu, Nares tak terpengaruh. Dia hanya menahan senyuman puas setelah mengetahui betapa tertekannya sosok ini akibat proses peradilan yang panjang. Penampilannya yang sekarang sudah memperlihatkan cukup banyak penderitaan.

Dia duduk di hadapan Nares. Petugas yang membawanya kemari telah mundur. Dua orang itu memantau si tahanan dan tamu dari dekat pintu.

Kepergian dua petugas itu memberi sedikit kebebasan untuk Jonathan. Dia segera membuka mulut begitu memastikan suaranya tak lagi berada di jangkauan dengar si petugas rutan.

"Gue tau, semua ini beneran kerjaan lo," awalnya, langsung berbicara tanpa menyempatkan diri untuk menyapa. "Harusnya, waktu itu lo gue bunuh sekalian, sebelum ada bajingan lain yang dateng ikut campur."

Nares menaikkan alis. Dia menegakkan badan.

"Faktanya lo nggak mampu, kan?" Dia mendengkus pelan. "Lo udah bawa belasan preman amatir. Lo juga ngejebak gue di bekas pabrik terpencil. Tapi, nyatanya lo tetep nggak bisa ngapa-ngapain. Sampai sekarang ini lo udah kalah. Kenapa lo nggak nyerah sekalian? Tinggal di dalem sel jauh lebih cocok buat psikopat kayak lo. Baju orange itu kelihatan lebih bagus lo pake dibanding jenis baju yang lain."

Jonathan menyipitkan pandangan. Telapak tangannya mengepal.

"Gue bakal tetep menang di Pengadilan Tinggi. Lo nggak usah banyak omong," tekannya, geram. "Sekarang gue cuma ditahan sementara. Setelah gue menang, orang suruhan lo bakal gue tuntut balik. Abis itu, lo yang harus hati-hati. Gue udah pegang semua record kriminal lo di tahun-tahun sebelumnya."

Nares tak tampak terpojok. Dia malah mendengkuskan tawa.

"Record apa yang lo pegang? Bekas kasus pemakaian sabu gue?" tantangnya.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang