83 ; Kejanggalan

5.1K 678 39
                                        

"MEREKA BUKAN ORANG penting," jawab Nares singkat, tidak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai dua orang yang memiliki hubungan rumit dengannya. "Kamu nggak perlu repot-repot cari tau tentang mereka."

"Mereka kelihatan penting di mataku," timpal Wilona, masih memancing penjelasan dari Nares. Dia berhenti berjalan, tepat di dekat pintu yang menghubungkan mereka dengan lantai bawah. Samar suara musik hiburan mulai terdengar. Wilona sedikit mendongak, menatap sang pria dengan sorot yang cukup menuntut. "Mereka kenal kamu. Lebih banyak dari aku. Aku mau dengar siapa orang yang bikin kamu bereaksi seperti dulu lagi."

Nares hendak langsung membantah. Membahas tentang Dewan dan Laura hanya memperlihatkan sisi terburuknya pada Wilona. Dia tidak ingin itu. Dan dia mulai merasakan kecenderungan defensif yang merayapi dada. Jika dia membuka mulutnya, dia bisa saja kelepasan untuk menyentak, seperti dulu ketika mereka menyia-nyiakan banyak waktu dengan berdebat.

Dia tidak ingin mereka kembali pada suasana tidak menyenangkan itu lagi, sebesar apa pun keinginan Nares untuk berhenti membicarakan ini.

Nares mengalihkan pandangan sesaat. Dia menarik napas pelan, berusaha agar tidak tertelan kebiasaan buruknya yang dulu, dia yang sering terpancing emosi.

"Laura ngomong apa aja ke kamu?"

"Nggak banyak," timpal Wilona, suaranya masih terdengar jauh dari kata ramah. "Apa pun yang dia bicarakan, semua itu udah cukup menunjukkan kalau dia kenal kamu lebih banyak dari orang lain." Wilona merasakan lidahnya yang entah mengapa ... kelu, juga rasa tidak nyaman yang menggerogoti benak. "She knows your vulnerable side—all your little stories, things you'd never share with anyone else. She knows you so well, and she used that to toy with you."

Nares merasakan gumpalan rasa muak pada dirinya sendiri. Dia mencoba menafsirkan kilat emosi pada sorot mata sang istri. Namun, kali ini dia tak bisa mengenali emosi itu, meski dua bulan terakhir ini dia sudah merasa mampu membaca suasana hati perempuan itu dengan baik.

Nares masih merasakan nada kaku di ucapan Wilona. Namun, di saat yang sama, dia juga tidak tahu, kalimat apa yang dapat menenangkannya? Mengapa Wilona terlihat lebih marah dibandingkan dia? Padahal, dialah yang sengaja diganggu oleh si Dewan Sialan itu.

"Kamu bahkan nggak ngelak?" tambah Wilona setelah menyaksikan Nares yang tutup mulut. "Kamu beneran pernah se-jatuh itu ke dia, padahal dia udah nunjukkin niat aslinya ke kamu?"

Nares mengerutkan kening samar atas kalimat yang cukup bernada tuduhan itu. Dia kembali menarik napas pelan, kemudian berujar dengan lebih lugas, "I have plenty of reasons to hate myself. My past relationship is one of them."

Nares menatap Wilona dari sudut matanya. Dia lalu segera meraup telapak tangan sosok itu, menggandeng dan menariknya untuk kembali berjalan.

"Mereka berdua bukan orang yang mau kubicarakan. Satu hal yang pasti, mereka bukan orang baik. Sekarang, mereka lagi cari proksi kerja lain buat bisnisnya karena mereka udah nggak bisa lagi mengandalkan aku. Kemungkinan besar, Pak Herlambang jadi salah satu targetnya. Kamu harus hati-hati semisal mau bekerja sama dengan perusahaannya. Setelah ini, aku juga bakal pantau dan kasih tau Ayah kamu tentang ini."

Wilona berjalan sedikit di belakang Nares. Dia melihat genggaman tangan sang pria.

"Kelihatannya mereka memang mencurigakan," balas Wilona. Mereka mulai berjalan menuruni tangga. "Aku masih nggak tau kenapa kamu bisa berasosiasi sama mereka. Kamu nggak pernah cerita apa pun tentang diri kamu. Kamu juga nggak kasih tau apa yang kamu lakukan buat nolong aku." Suara Wilona sedikit tenggelam oleh suara musik hiburan. "At this point, aku cukup nggak nyangka ternyata kamu udah sadar kalau mereka itu orang yang perlu dihindari."

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang