66 ; Kunjungan

6.7K 801 61
                                        

"INGAT BAIK-BAIK, Wilo. Apa yang terjadi ke kamu nggak akan bikin kamu kurang berharga. Kamu adalah korban. Insiden yang menimpa kamu sama sekali nggak mengurangi value kamu sebagai perempuan."

Wilona menatap kosong kaca kamar mandi. Dia memperhatikan wajah pucat yang tak berenergi, memperlihatkan kehampaan dan kekosongan. Suara Renata terngiang. Obrolan dalam konsultasi mereka pagi tadi kembali terputar.

Wilona memperhatikan kaca, menatap nanar kulit wajah dan bibirnya yang tampak kering. Akhir-akhir ini rambutnya sering rontok, lebih banyak dari biasa. Tubuhnya mudah lelah. Dan proporsi badannya ... mungkin tak lagi sempurna.

Obat antidepresan akan segera memengaruhi fisiknya seperti dulu. Berat badannya akan naik. Dan dia tak ingin hal itu terjadi.

Haruskah dia memaksakan diri untuk berhenti mengonsumsinya?

"Ucapan Jonathan yang dulu masih sangat memengaruhimu?" Renata sempat menanyakan hal ini pada konsultasi lanjutan mereka pagi tadi.

"Salah satu alasan kamu sangat ketat menjaga pola makan itu karena dia, kan? Omongan dia terinternalisasi dalam diri kamu, membuat kepercayaan dirimu menurun. Kamu mulai melihat diri kamu nggak berarti dan terlihat buruk," jelas Renata, menunjukkan kesalahan pikir dalam kepala Wilona. "Kita sudah pernah mendiskusikan ini, Wilo. Kamu pasti tahu kalau cara berpikir yang begitu itu kurang baik. Dia memanipulasi kamu sampai membuat kamu merasa buruk, bahkan ke diri kamu sendiri."

"Aku desainer, Renata." Wilona mengutarakan hal itu pada terapisnya. "Aku memilih model untuk pakaian yang kubuat. Dan aku tahu betul tubuh yang terlihat menarik dan yang enggak. Sewaktu bersama Jo dulu, setelah aku melahirkan dan mulai mengonsumsi antidepresan, penampilanku memang seburuk itu-"

"Apa definisi buruk yang kamu sebutkan?"

Wilona mulai menjawabnya. Dia memberi tahu semua ciri dalam dirinya yang dianggap kurang. Entah itu berat badan yang tidak proporsional, kantung mata yang menghitam, rambut kusut dan bercabang, serta ciri fisik lain yang muncul ketika hormon tubuhnya sedang tak terkontrol akibat lelah ataupun tekanan stres.

Renata mengangguk pelan ketika mendengarnya. Dia tidak langsung menyalahkan kekhawatiran Wilona. Alih-alih menyalahkan, dia justru terlihat memahami kecemasan tersebut.

"Penampilan memang bisa menjadi poin yang penting bagi kita, para wanita," jelas sosok itu. "Dan di mataku, kamu masih berpenampilan baik. Kamu terlihat rapi, harum, dan bersih. Seperti yang kamu bilang, kamu itu desainer. Selera fashion-mu bagus, bahkan aku sering tanya rekomendasi pakaian ke kamu. Kamu itu menawan, Dear," ungkap Renata panjang lebar. "Satu hal yang juga penting, nilai diri seseorang nggak ditentukan cuma dari penampilannya, kan? Sebagian besar orang nggak berpenampilan seperti model, tapi mereka tetap menarik. Don't you think so?"

Wilona hanya mendengarkan. Dia mengangguk pelan tanpa memberi jawaban verbal.

"Penampilan fisik biasanya cuma jadi penilaian awal. Yang bikin seseorang terlihat menarik justru dari kepribadian," tutur Renata lagi. "There are a bunch of good looking people with boring or even bad personalities. Kepribadian buruk itu bakal bikin kita-kita ilfeel dan ingin menjauh. Sebaliknya, kalau mereka punya kepribadian yang baik, kita pasti lebih nyaman dekat dengan mereka. Hubungan yang dibangun akan lebih longlast. Gimana menurut kamu?"

Wilona tentunya setuju dengan ucapan Renata. Penampilan fisik hanyalah kesan pertama. Kepribadian dan tingkah laku seseoranglah yang nanti akan memberi kesan jangka panjang, sesuatu yang mendasari awet tidaknya suatu hubungan-entah itu pertemanan ataupun hubungan lain-bertahan.

Hanya saja, ketidakpercayaan dirinya lebih merujuk pada ketakutannya yang lain.

"I don't judge people solely by their physical appearance," ungkap Wilona pada akhirnya. "Aku sangat menghargai siapa pun yang berkelakuan baik, mau gimana pun penampilan mereka. Yang kukritisi di sini cuma diriku sendiri. Aku tahu, aku terlalu keras ke diri sendiri." Pada akhirnya, Wilona menyampaikan kekhawatiran aslinya. "If I don't look good enough, my partner would leave me. Aku nggak akan bisa kasih yang terbaik ke dia. I feel bad about myself because I'm not good enough. Apalagi setelah insiden itu ...."

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang