85; Keyakinan Diri

6.9K 772 67
                                        

RASA TAKUT WILONA terhadap hubungan asmara adalah buah dari pengalaman buruknya dengan sang mantan suami. Wilona sudah sadar akan permasalahan ini. Oleh karena itu, pada sesi terapinya bersama Renata, dia mulai membahasnya juga. Renata berujar bahwa Wilona perlu menghadapi ketakutannya jika dia benar-benar ingin menyeriusi pernikahannya yang sekarang.

Renata mendorong Wilona agar lebih terbuka pada suaminya. Dia juga memberi saran agar Wilona tak lagi takut pada kontak fisik yang diinisiasi oleh sang pasangan. Dimulai dari membiasakan diri berada di ruangan yang sama dengannya, tak lagi berjengit ketika tidak sengaja berkontak fisik, hingga mulai mencoba sentuhan dengan skala yang lebih luas, seperti pelukan dan cumbuan.

Langkah-langkah kecil semacam ini dilakukan untuk menghapus ilusi Wilona terhadap ketakutannya. Dengan mencoba menghabiskan waktu berdua dengan Nares, dia akan tahu bahwa lelaki itu rela menyisihkan waktu untuknya. Dengan berkontak fisik, bahkan sampai berbagi cumbuan, dia akan tahu bahwa Nares memperlakukannya dengan baik—tak memberi paksaan ataupun kekerasan seperti yang dulu dia dapatkan dari Jonathan.

Renata seolah sudah mempercayai pria yang kini berstatus sebagai suami Wilona. Dia membantu Wilona untuk sadar bahwa ketakutannya hanyalah ilusi belaka, bahwa Nares takkan menyakitinya. Dan kalaupun iya, dia masih memiliki daya untuk melawan, bangkit, dan tak lagi tenggelam dalam keterpurukan.

Tak seperti dulu, kini Wilona sudah mendapat lebih banyak dukungan, terutama dari keluarga sang suami. Renata mengingatkannya pada kehadiran orang lain seperti Gema dan Sagala. Dia juga menyebut tentang sang ayah yang pasti akan tetap berdiri di sisinya jika dia kembali jatuh. Dia memiliki Diandra, kawan sekaligus kolega kerja yang sebetulnya amat peduli padanya.

Wilona tak perlu lagi takut karena merasa sendiri. Renata mulai sering menyebutkan ini di beberapa sesi terapi mereka. Wilona juga telah tersugesti. Dia sudah percaya bahwa kalaupun dia kembali dikhianati, dia masih bisa membangun kembali hidupnya dengan seluruh dukungan yang dia punya.

Keberanian baru inilah yang membuatnya mau berhubungan lebih jauh dengan Nares.

Dia mulai menikmati kebersamaannya dengan sang pria. Sampai kemudian, dia sadar pada apa yang sebetulnya dirasakan. Perasaan baru yang tumbuh itu kembali mengingatkannya pada sakit yang hadir jika dia kembali dikhianati.

Rasionalisasi yang didapat dari konsultasinya bersama Renata tiba-tiba menguap dari kepala. Di tengah suasana hati yang kurang baik, dia kembali takut pada skenario jika dia ditinggalkan, dibuang, dan diperlakukan dengan tidak benar. Padahal, belum tentu juga Nares akan melakukan itu semua, apalagi dengan seluruh pengorbanan yang telah dilakukan untuk Wilona.

Selepas percintaan tadi, Wilona sedikit merenungkan ini. Sentuhan yang ditinggalkan Nares seolah mengingatkannya bahwa dia memang takkan pergi. Dekapan erat yang diberikan, seolah menunjukkan bahwa dia akan bertahan. Dia takkan langsung menyerah ketika mereka menghadapi kendala entah apa yang menghadang mereka di masa depan.

Wilona memaksa diri untuk menatap realita, bukan sekadar mendengar bisik ketakutan di telinga. Realita di hadapannya memperlihatkan keberadaan suami yang mencintainya. Dan segala kekhawatiran itu hanyalah bekas trauma, jejak yang ditinggalkan Jonathan agar dia tak bisa hidup dengan tenang.

Wilona tentunya tidak ingin hidup dengan didikte oleh pria bajingan itu. Jonathan pasti akan sangat senang jika dia melihat Wilona takut untuk mencintai orang lain. Dia akan kembali merasa berhasil jika trauma yang ditinggalkan ternyata benar-benar membuatnya terpuruk dan tidak mampu memulai kehidupan baru.

Anggapan tersebut mendorong Wilona untuk merangkul perasaannya kepada sang suami.

Dia memang mulai menyayanginya. Dan dia akan turut berusaha mempertahankan pernikahan mereka, apa pun kendala yang akan mereka hadapi di depan sana.

Broken Glasses [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang