NARES BARU SAMPAI di taman belakang rumah ketika ponselnya bergetar. Rafael dan Tabita masih tampak dalam pandangan. Dia menaruh wajan pipih yang dibawanya, kemudian menerima panggilan begitu mengetahui identitas dari nomor yang menghubungi.
"Bos, lo udah sampai?" ujar suara perempuan muda dari seberang telepon sana.
Nares sedikit mengernyit ketika mendengarnya. Ini adalah pertama kali mereka berbicara. Panggilan apa yang barusan didengarnya?
"Udah," jawab Nares kemudian, tak begitu memikirkan cara anak buah Cakra menyebutnya. "Gimana tadi? Kalian apain penguntitnya?"
"Belum diapa-apain. Gue cuma bikin keributan supaya kalian punya waktu buat pergi. Barusan sempat ada polisi juga karena gue bikin jalanan macet. Tapi, so far udah aman. Dia kayaknya udah tau kalau kalian masih kami pantau. Setelah tau, dia langsung pergi dan nggak mau memperpanjang masalah."
"Lo lepasin dia?" todong Nares, mulai tak habis pikir. "Gimana kalau dia berulah lagi?"
"Mahesa udah gue kasih tau. Nanti dia yang urus," timpal sosok di seberang sana, perempuan yang kalau tidak salah bernama Elma. "Gue masih di bengkel, mobil yang gue pakai bagian sampingnya ancur. Kalian di sana berapa lama?"
"Mungkin sampai agak malam. Nanti gue kabarin kalau udah mau cabut," jelas Nares. Dia memandang anak-anak yang sedang berceloteh di depan akuarium yang cukup besar. "Cakra titip pesan ke lo? Gimana progres penyidikan bajingan itu? Kalian belum kasih kabar ke gue."
Ada suara berisik samar di seberang telepon. Suara berisik itu perlahan memudar. Elma sepertinya sedang berjalan menjauh.
"Bukti dari kita udah kuat. Kalau hukum di negara ini bener, udah jelas kasusnya langsung lanjut ke pengadilan," terang Elma dengan blak-blakan. "Sayangnya, orang-orang berduit kayak kalian suka ngotorin badan hukum. Terakhir gue denger dari Mahesa, orangnya Jonathan masih ngelobi polisi. Mereka lagi tawar menawar, cari harga yang pas biar kasusnya nggak dilanjut ke pengadilan."
Sindiran Elma tak sedikit pun memengaruhi Nares. Dia hanya mengerutkan kening samar, kemudian bertanya, "Terus, kalian bakal gimana kalau dia berhasil dapat kesepakatan sama polisi?"
Elma mendengkus pelan. Dia lalu tertawa.
"Tenang, Bos. Dia nggak akan dapet," balasnya ringan. "Mau berapa triliun juga nggak akan tembus. Emangnya ada duit yang bisa buat bayar nyawa?"
Nares terpaku. Dia makin mengerutkan dahinya.
"Lo pada mau bunuh polisi—"
"Ah, gue udah dipanggil montir," potong Elma, tak membiarkan Nares meneruskan ucapannya. "Nanti lo berkabar aja kalau udah mau balik. Gue tutup dulu."
Dan panggilan telepon pun disudahi.
Nares melihat layar ponsel dengan ekspresi kosong. Apa-apaan isi obrolan tadi? Apakah Cakra dan orang-orangnya sama sekali tidak memiliki sopan santun? Bukankah sekarang posisinya adalah klien? Pihak yang perlu dihormati?
Nares berdecak pelan. Dia hendak berbalik ketika mendapati sang kakak yang baru saja datang. Pria itu membawa alat panggang portabel yang cukup besar. Dari caranya melihat, tampaknya dia sempat mendengar pembicaraan telepon Nares.
"Siapa?" tanya Gala langsung, tak repot menutupi fakta bahwa dia baru saja mendengarnya.
"Orang yang ngawal gue," jelas Nares. "Tadi kami sempat dibuntuti. Dia yang ngurus penguntitnya."
"Dia masih nyuruh orang buat nargetin kalian?" Gala menatap heran, meski tak terlalu kentara. "What kind of person is he?"
"Jauh lebih buruk dari gue," tandas Nares. Dia mengembuskan napas pelan. Kemudian mengerutkan dahi, mengingat-ingat Jonathan dengan orang lain yang mungkin dikenalnya. "Mungkin sebelas dua belas sama Fendy. Bedanya, dia lebih gila dan nggak mikirin konsekuensi nama keluarga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)