38 ; Gejolak

10K 990 227
                                        

"DENGAN BEGITU, TUAN Rusa berhasil mengelabui ular-ular licik untuk menyelamatkan para kelinci."

Wilona membaca kalimat terakhir dari buku dongeng yang dipegangnya. Dia menutup buku tersebut, kemudian menoleh pada sang anak yang ternyata telah terlelap. Tabita kembali tertidur sebelum mendengar akhir cerita. Waktu yang telah menunjukkan pukul sembilan malam sepertinya menjadi batas baginya untuk terjaga. Tabita sudah mulai mengantuk sejak memasuki kamar. Tidaklah mengherankan jika dia cepat terlelap saat dibacakan dongeng oleh ibunya.

Wilona memperhatikan raut polos putrinya. Dia menaruh buku dongeng pada sebuah rak, kemudian kembali mendekati tempat tidur untuk mengusap pelan puncak kepala sang anak. Sebelum beranjak, dia juga sempat meninggalkan kecupan ringan di dahinya.

Lampu utama di kamar itu segera diganti dengan lampu tidur. Wilona menutup pintu kamar dengan hati-hati. Dia berjalan ke ruang tengah, hendak menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Hanya saja, suara dan cahaya televisi sedikit menarik perhatiannya. Dia menoleh dan berjalan mendekati sofa lipat.

Keberadaan seseorang di sana seolah mengonfirmasi dugaannya. Nares telah membuka lipatan sofa menjadi tempat tidur. Televisi yang menyala tampak diabaikan keberadaannya karena ternyata sosok yang sedang menonton kini telah terhanyut di alam bawah sadar.

Entah sudah berapa kali sejak Wilona menemukan Nares tidur di ruang tengah alih-alih kamarnya sendiri. Saat baru pertama kali melihatnya, Wilona tak begitu peduli. Namun, lama kelamaan, dia jadi heran juga. Apakah ruangannya sendiri tidak nyaman untuk ditinggali?

Wilona mengembuskan napas pelan. Tanpa berpikir panjang, dia beranjak ke kamar untuk mengambil sebuah selimut.

Akhir-akhir ini, cuaca di Jakarta sedang sangat tidak menentu. Hujan yang deras sudah mulai mengguyur kota. Akan cukup merepotkan kalau orang yang tidur di luar ruangan itu berakhir sakit karena kedinginan.

Wilona tidak ingin Nares sakit dan membuat seisi rumah ikut sakit juga.

Paling tidak, itulah alasan dasarnya memberi kain hangat ini pada sang pria. Dia tidak bermaksud untuk membangunkannya. Dia hampir menuturkan maaf saat kelopak mata Nares mengedip terbuka.

"Televisinya aku tutup aja?" tawar Wilona saat itu.

Nares tak repot-repot melihat ke arah televisi. Dia sudah langsung menggeleng.

Wilona mengangguk sekilas. Merasa tak punya kepentingan apa pun di sana, dia pun berbalik untuk beranjak.

Genggaman tangan seseorang menahan kepergiannya. Wilona menoleh, kembali menatap Nares. Dia mengembuskan napas pelan ketika sosok itu mengedikkan dagu ke sisi sofa yang lain.

"Temenin gue nonton."

Wilona tidak langsung menjawab. Dia masih menimbang-nimbang.

Nares menepuk pelan sisi kosong di sampingnya, lagi-lagi mengisyaratkan Wilona untuk bergabung.

Detik itu, Wilona menyerah. Dia melangkah ke seberang sofa dan turut bersandar menghadap layar televisi di hadapan mereka.

Nares sudah menegakkan diri. Kantuknya saat itu mulai sirna akibat kehadiran Wilona. Dia mengambil remot televisi dan mengganti salurannya, mencari tontonan yang bisa mereka lihat bersama.

Dengan keadaan Nares, yang sempat ketiduran, sebenarnya sudah menjadi pertanda bahwa lelaki itu tidak sedang mengantisipasi tontonan apa pun. Wilona bukan sosok yang luput melihat implikasi dari tindakan seseorang. Dia tahu, Nares memintanya tinggal bukan karena dia membutuhkan teman untuk melihat tayangan tertentu.

Bagaimanapun juga, Wilona sudah menebak pandangan sosok itu terhadapnya.

Dan perilaku Nares, semakin ke sini, juga makin mengonfirmasi dugaan Wilona. Pengakuan atau pernyataan apa pun memang tidak terucap dari mulutnya. Namun, tindakan dan perilakunya telah menyuarakan jawaban yang amat kentara.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang