GEDUNG MEWAH YANG dia tapaki sudah mulai sepi. Lantai utama yang menjadi lokasi restoran juga hanya diisi oleh beberapa pelanggan.
Wilona memandang area sekitar, melihat cahaya lampu temaram yang menyerukan nuansa hangat dan manis. Kedua matanya memindai ruangan itu, mencoba melihat keberadaan seorang lelaki yang mungkin sedang menunggunya.
Ketika tidak melihatnya, dia hampir bernapas lega. Gumpalan rasa bersalah sedikit terkikis.
Paling tidak, itulah yang Wilona kira. Dia tidak tahu bahwa ada seorang pelayan yang tengah mengamatinya. Pelayan itu kemudian mendekatinya dan menanyakan namanya. Setelah mengonfirmasi sesuatu, dia mengarahkannya ke lantai lain, sebuah tempat di atas lantai ini.
Wilona mengikuti pelayan tersebut dengan segera. Begitu sampai di tempat yang dituju, Wilona berjalan melewati meja barista, terus berjalan hingga dia mendapati ruangan yang ternyata telah dipesan secara khusus untuk acara malam ini—acara makan malam yang gagal karena dia sempat melupakannya.
Kedua kaki terasa terpaku di atas lantai.
Wilona merasakan jantungnya mencelis ketika melihat keberadaan seorang pria yang masih ada di sana, menunggunya, setelah tiga jam berlalu dengan sia-sia.
Kemeja yang dikenakan Nares tak lagi terlihat rapi, kedua lengannya telah digulung hingga siku. Jas berwarna biru gelap tersampir dengan sembarang di punggung kursi.
Ketika pandangan mata mereka bertemu, Wilona ikut melihat raut lelahnya, rasa lelah yang juga dihiasi sirat kecewa.
Wilona mengekspektasikan Nares yang akan membentaknya. Akan tetapi, saat itu Nares hanya diam. Dia baru buka suara ketika Wilona berjalan mendekat.
"You're late," katanya dengan pasif, tak menyuarakan kemarahan. "They'll close in an hour."
Wilona melihat botol anggur yang terbuka, juga gelas yang masih menyisakan sisa minuman beralkohol.
Desakan rasa bersalah di dadanya kian mengencang. Dia mengalihkan pandangan sesaat, kemudian barulah dia kembali menatapnya.
"Kenapa kamu masih di sini?" ujar Wilona, balas bertanya. Suaranya pelan, sedikit serak.
Nares menaikkan alis. Dia mendengkus.
"Kenapa?" Dia mengulang pertanyaan Wilona. Kemudian, dia meraih gelas anggur dan menunjukkannya pada sang wanita. "'Cuz this fucking wine is too good to be left behind."
Wilona merasakan lidahnya yang kelu. Dia menarik napas pelan dan kembali berjalan mendekat. Kini berdiri tepat di samping meja makan.
"Maaf," kata Wilona tanpa basa-basi. Dia membasahi tenggorokannya. "Ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan di kantor. Aku juga sempat lupa sama acara ini, jadi—"
"Gue tau," timpal Nares singkat, tak repot-repot mendengar penjelasan panjang Wilona. "Sebelum lo ke sini gue udah telepon kantor, mastiin kalau lo emang masih di sana."
Wilona mengembuskan napas pelan. Dia masih merasakan rambatan rasa bersalah, terlebih ketika dia menyaksikan makanan yang telah tersaji di meja makan, juga ruangan besar yang kini teramat lengang karena keseluruhan lantainya dipesan untuk mereka saja.
Nares bukan sekadar membual ketika dia berjanji untuk menyiapkan makan malam. Dia tidak hanya memesan kursi dan makanan untuk mereka. Akan tetapi, dia turut memesan seluruh ruangan ini supaya mereka mendapat lebih banyak privasi.
Pakaian yang dikenakan bahkan bukan pakaian kasual yang biasa. Wilona tahu betul keengganan Nares mengenakan pakaian formal ataupun semi formal, mengingat cuaca panas Jakarta. Namun, lihatlah dia sekarang ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)