"CUACA MALAM INI bagus. Lo bakal menyia-nyiakan suasana enak ini kalau mutusin buat maki-maki gue lagi." Nares berkata demikian begitu mereka menghampiri balkon. Segelas jus anggur di tangannya. Dia memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di sana, sementara Ayesha berjalan menjauh, mendekati terali yang berhadapan langsung dengan pemandangan malam.
Dengan posisi ini, Ayesha tak perlu bertatap muka dengan sang lelaki. Dia memunggunginya, seakan dia memang tidak ingin kembali menatap wajahnya.
"Suasana malam ini udah rusak sejak gue lihat lo," timpal Ayesha, di tengah keheningan yang meliputi mereka. "Harusnya gue nggak sekalian datang. Biar orang lain yang menggantikan."
Nares mendengkus ketika mendengarnya. Dia menyesap pelan minuman.
"Lo setakut itu ngadepin orang lama?"
"Bold for you to assume that I'm scared," tandas Ayesha. Dia menoleh dan meliriknya tajam. "Gue enek, istilah itu yang benar. Nampar lo aja bahkan nggak cukup."
"Lo mau idup gue ikut ancur juga?" tembak Nares.
Ayesha telah kembali menatap pemandangan malam di hadapannya. Dia menarik napas kasar dan meneguk minuman. Ekspresi wajahnya kaku, apatis, dan tak memperlihatkan secercah kebahagiaan, meski malam ini merupakan salah satu malam besarnya.
"I hope so," balas Ayesha, kering di lidah. "Lo yang bikin hidup gue berantakan. Seharusnya, lo ikut berantakan juga. Life is so unfair. I fucking sick of these."
Nares menatap tubuh semampai sosok itu, mendengar keputusasaan dan kemuakan pekat dalam suaranya.
"I don't think you know me that well," ungkap Nares kemudian. "Gue udah ngerasain neraka selama hampir dua tahun ini. Sayangnya lo belum sempat lihat gimana gue waktu itu."
Ayesha mendengkus kasar setelah mendengar penuturan Nares.
"Oh, sangat bisa dipercaya," ujarnya sinis. Dia berbalik dan bersandar pada pagar balkon, mengamati penampilan seorang pria yang jauh dari deskripsi 'udah merasakan neraka'. Segala hal yang melekat pada diri sosok ini tak bisa diasosiasikan dengan kata rusak. Nares tampak baik-baik saja, dia kelewat baik-baik saja. Alih-alih berantakan, dia bahkan terlihat lebih prima. Padahal, ketika terbawa bujuk rayunya dulu, Ayesha sudah tahu betapa atraktifnya si bungsu Caturangga.
Nares mempunyai daya tarik yang mirip dengan mantan kekasih Ayesha.
Dan Ayesha benci untuk mengakui hal ini.
"Look at you." Ayesha kembali membuka mulut. "You look like someone who has never tasted a bit of misery. Gue sama sekali nggak bisa nangkap intensi asli lo," Ayesha menambahkan, "married sama perempuan yang sempat digagalkan sama laki-laki, pura-pura berperan jadi ayah yang baik buat anaknya, padahal lo sendiri sempat merusak hidup perempuan lain. Apa yang sebenarnya lo lakuin ke Wilona? Manipulasi dia lagi seperti yang lo lakuin ke gue dulu?"
Ketenangan di mata Nares memudar. Tuduhan Ayesha cukup memprovokasi. Dia yang dulu akan langsung menyentak marah dan memberi pembelaan diri dengan kasar.
Untuk sekarang, dia hanya menatapnya sesaat, kemudian meneguk minuman dan meletakkannya di atas meja.
"Lo marah sama apa yang dulu gue lakuin, atau lo beneran khawatir ke Wilona?" Nares balas bertanya. Dia memangku kedua lengan di atas paha, kemudian mendongak untuk memandang gejolak emosi yang terpancar di mata sang lawan bicara. "Kalau jawabannya itu yang kedua, lo nggak perlu repot-repot khawatirin dia. Gue sama sekali nggak berniat buruk ke Wilona. Pandangan gue ke dia itu jauh dari yang lo bayangkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)