Hati yang Luas

1.8K 146 45
                                        

Sudah tiga hari berlalu sejak Salsa tersadar dari tidur panjangnya. Kondisinya kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Tubuhnya tidak lagi selemah kemarin, hanya sesekali rasa pusing masih datang mengganggu, mengingatkan bahwa ia baru saja melewati masa yang tidak mudah.

Selama tiga hari itu pula, kamar rawatnya hampir tak pernah sepi. Banyak yang datang menjenguk,mulai dari karyawan kantor Lian, rekan kerja Salsa, hingga teman-teman dekat mereka yang ingin memastikan keadaannya benar-benar membaik. Ruangan itu dipenuhi doa, perhatian, dan rasa syukur dari orang-orang yang menyayangi mereka.

Pagi itu, suasana terasa lebih tenang. Salsa duduk bersandar di atas brankar, bagian sandaran ranjang dinaikkan agar tubuhnya lebih nyaman. Di pangkuannya, putri kecil mereka tengah menyusu dengan tenang, sesekali mengeluarkan suara lembut yang membuat hati terasa hangat.

Sementara itu, Lian berbaring santai di sampingnya, kepalanya ia sandarkan di atas paha Salsa dengan posisi miring menghadap ke arah bayi mereka. Salah satu tangannya memegang ponsel, sesekali menggulir layar tanpa benar-benar fokus, seolah hanya mengisi waktu.

Namun, tangan yang lain justru bergerak ke arah tubuh Salsa, menyelinap masuk ke dalam bajunya. Jemarinya dengan santai menyentuh dan meremas salah satu dada istrinya, tidak diam, terus bergerak pelan dengan sikap seolah itu hal yang wajar.

Salsa langsung menunduk, menatap suaminya dengan ekspresi campur aduk antara kesal dan malu.

"Bisa nggak tangannya diem?" tegur Salsa dengan suara pelan namun penuh peringatan.

Lian hanya menggeleng ringan tanpa sedikit pun menghentikan gerakannya. Tatapannya tetap tertuju pada layar ponsel di tangannya, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. "Nggak mau... aku juga mau," jawabnya santai, bahkan terdengar sedikit manja.

Salsa mendengus pelan, menahan rasa gemas sekaligus jengkel. "Iya kan nanti bisa gantian sama anaknya. Udah ya, awas dulu tangannya," ucapnya mencoba menegur lagi, nadanya masih lembut tapi mulai terdengar tegas.

Namun Lian kembali menggeleng kecil, jelas menolak untuk berhenti. Tangannya tetap aktif, seolah sengaja menggoda istrinya yang sedang fokus menyusui.

Salsa menghela napas panjang, bahunya sedikit naik turun menahan kesabaran. Ia mendengus sebal, tapi di saat yang sama ada rasa geli yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Asinya netes loh ini..." gerutu Salsa pelan, nada suaranya berubah menjadi setengah mengeluh, setengah malu, wajahnya sedikit memerah.

Lian yang sejak tadi bersikap santai itu tiba-tiba menyeringai kecil, senyumnya penuh godaan saat ia sedikit mendongakkan wajahnya ke arah Salsa. "Biar nggak netes, aku isep aja, ya?" godanya ringan, nadanya dibuat seolah serius, padahal jelas hanya ingin menggoda istrinya.

Salsa langsung mendengus pelan, matanya melirik tajam ke arah Lian meski sudut bibirnya nyaris ikut terangkat. "Nggak usah, makasih. Biarin aja netes ASI-nya daripada kamu yang isep nggak bisa sebentar. Ngalah-ngalahin anaknya," balas Salsa sambil menggeleng kecil. Tangannya tetap mengelus rambut Lian dengan lembut, jemarinya menyisir perlahan seolah sudah terbiasa dengan tingkah manja suaminya.

Lian kemudian mengangkat kepalanya dari paha Salsa, menatap wajah istrinya dengan ekspresi yang dibuat-buat memelas. Tatapannya lurus, matanya sedikit menyipit, bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang sedang merengek. "Mau nenen aku juga, Ca..." ucapnya lirih, nada suaranya dibuat semakin manja, jelas-jelas sengaja mencari perhatian.

Salsa menatapnya datar beberapa detik, mencoba menahan tawa yang hampir keluar. "Ya sabar, gantian sama Syabil. Semaleman kamu terus yang nenen nggak ada puasnya," jawabnya sambil menggeleng pelan, suaranya terdengar setengah kesal tapi lebih dominan ke arah gemas.

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang