TSK-57

46.6K 2.7K 521
                                    

Vote dan komen yaa

Setelah menghabiskan beberapa jam dalam permainan dan candaan bersama teman-teman Alden, Liona mulai merasakan kejenuhan. Meskipun awalnya menikmati kebersamaan dan keakraban yang tumbuh di antara mereka, perasaan bosan perlahan mulai menggelayuti dirinya. Dia merasakan lelah, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena suasana yang terlalu ramai dan penuh interaksi. Dia membutuhkan waktu untuk menyendiri, untuk menenangkan pikirannya.

Keenan yang duduk di sampingnya menyadari perubahan pada Liona. "Lo kenapa, Liona? Kelihatan bosen," tanyanya dengan nada perhatian.

Liona menoleh padanya dan tersenyum tipis. "Gue mau keluar bentar, cari angin aja. Kepala gue agak pening," jawabnya dengan nada ringan, meski ada sedikit kelelahan yang tersirat dalam suaranya.

Keenan mengangguk mengerti. "Mau gue temenin?"

Liona menggelengkan kepala. "Gak perlu, gue cuma mau sebentar kok."

Keenan mengangkat bahu, menerima jawaban Liona tanpa mendesak lebih jauh. "Oke, kalau gitu hati-hati ya."

Liona mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Teman-teman Alden yang lain memberikan isyarat setuju ketika dia menyatakan niatnya untuk keluar sejenak. Tanpa banyak kata, Liona berjalan keluar dari ruang tamu, melewati pintu depan rumah. Angin malam yang sejuk langsung menyambutnya begitu dia melangkah keluar. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba melepaskan segala ketegangan yang sempat menyelimutinya.

Setelah beberapa saat berdiri di area depan rumah, Liona merasa dorongan untuk bergerak lebih jauh. Dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah, namun kali ini dia mengambil jalan lain. Dia menyelinap keluar melalui pintu belakang yang mengarah ke area kolam renang, tempat yang lebih tenang dan jauh dari keramaian.

Di tepi kolam renang yang gelap dan sepi, Liona duduk di tepi, membiarkan kakinya tenggelam dalam air dingin. Sentuhan air yang dingin di kulitnya memberikan sensasi menyegarkan, sedikit meredakan kepenatan yang dia rasakan. Dia menatap bayangan bulan yang memantul di permukaan air, pikirannya melayang-layang, memikirkan semua kejadian yang terjadi malam ini.

Namun, keheningan yang menenangkan itu tiba-tiba hancur ketika sebuah tangan kuat menariknya secara tiba-tiba. Liona terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan saat tubuhnya ditarik dengan paksa. Sebelum dia bisa bereaksi, tubuhnya didorong ke dinding, punggungnya menabrak tembok dengan suara lembut. Liona mengerjap, terkejut dengan tindakan mendadak itu.

Ternyata, orang yang menariknya adalah Arion. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara marah, frustasi, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang dia coba sembunyikan. Tanpa memberi Liona kesempatan untuk berbicara, Arion menekan bahunya, mengunci pandangan gadis itu dengan tatapannya yang tajam dan penuh intensitas.

"Liona," suara Arion terdengar serak, penuh emosi. Dia tidak berkata lebih banyak, hanya menarik tubuh Liona dengan satu tarikan lembut namun tegas. Liona, masih terkejut, tidak melawan ketika Arion menempatkan kepalanya di dadanya.

"Diam," bisik Arion dengan nada rendah, hampir seperti perintah, saat tangan satu lagi memeluk punggung Liona erat.

Liona terdiam, telinganya kini menempel di dada Arion. Dia bisa merasakan denyut jantungnya yang cepat, ritmenya tak beraturan seolah-olah mencerminkan kegelisahan yang tak bisa dia sembunyikan. Setiap detak mengirimkan pesan yang jelas meskipun tanpa kata—kecemburuan, ketakutan, dan keinginan untuk tetap memiliki.

"Kamu dengar?" tanya Arion, suaranya kini lebih lembut, nyaris berbisik. "Itu karena kamu."

Liona tidak menjawab. Dia hanya membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang mengalir dari tubuh Arion, mendengarkan setiap nada jantungnya yang berdegup cepat. Perlahan, dia mengangkat tangannya, meremas pelan punggung Arion, memberikan isyarat bahwa dia mengerti.

TRANSMIGRASI SANG KETUATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang