Romy beranjak meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya, Setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat kedua orang tuanya serta Paul cukup terkejut. Bagaimana tidak? Bukannya menerima penolakan dari Salsa, Romy malah memajukan tanggal pernikahan yang sebelumnya dua bulan lagi menjadi minggu depan
Diantara ketiganya, Paul yang sangat dibuat bingung dengan tingkah plinplan abangnya, dia mulai berfikir bahwa ucapan Romy tadi hanya semakin menambah rasa bersalah Salsa kepada Nadila, Salsa tak akan mau jika harus merebut milik dari kembarannya itu.
***
Sekitar pukul 09.30 Malam, Paul baru saja sampai di depan rumah Salsa, mereka berdua akan menghadiri kondangan teman jurusan mereka yang akan melangsungkan resepsinya malam ini.Setelah memberi kabar tentang keberadaannya yang sudah berada diluar rumah salsa, Paul memilih menunggu Salsa diteras, tidak masuk kerumah karena ayah Abi yang tak ada didalam, Pria parubayah itu sedang nonton bareng sepak bola di pos ronda. Alasan lainnya adalah Paul yang belum siap bertemu Nadila.
Hingga kedatangan Nadila yang baru saja sampai dan memarkirkan motornya dekat mobil Paul mematahkan Dugaannya, dia mengira jika kembaran sahabatnya itu sudah ada didalam.
Sial, bagaimana pun paul menghindar, dekupan jantungnya tetap berdetak hebat di dalam sana, apalagi setelah Nadila yang menghampirinya dengan senyum manis gadis itu.
"Paul" Sapa hangat Nadila
Paul hanya merespon dengan senyum tipisnya, walaupun dirinya yang sangat ingin mengobrol panjang lebar mengenai hari ini pada perempuan dihadapannya itu, tapi dia sebisa mungkin menahan, walaupun kesal pada abangnya, Paul masih menghargai Nadila sebagai milik Romy sekarang.
"Kamu nunggu Er?" tanya Nadila yang hanya dijawab anggukan oleh Paul
Lalu Paul mengambil handphone yang berada di kantongnya untuk dimainkan, malam ini Nadila bukan lagi objek indah yang akan Paul tatap seperti sebelum-sebelumnya
Sama seperti Romy, Nadila juga dibuat bingung dengan sikap Paul yang nampak seperti menghindarinya, bahkan semalam Nadila menurunkan gengsinya untuk mengirimkan pesan pada Paul dan sampai saat ini tak ada balasan dari pria itu.
Benarkan Paul seperti ini karena melihatnya pulang bareng dengan Romy kemarin malam? Tapi bukannya terlalu berlebihan jika sampai marah hanya karena perihal itu.
"Ada yang ingin aku berikan ke kamu" ucap Nadila, bagaimana pun Paul tak meresponnya, menurutnya dia tetap harus memberikan barang itu.
Tatapan paul beralih dari handphone canggihnya ke Nadila, dia tampak tertarik dengan ucapan Nadila barusan, jika dia tak salah dengar maka hal itu menjadi pemberian pertama dari perempuan itu kepadanya.
Tapi baru saja hendak meminta, kehadiran salsa membatalkan pemberian itu.
"Ayo ul, anak-anak udah pada sampe katanya" ujar Salsa yang sementara masih sibuk memakai sendal pestanya.
"Eh, udah sampai El, temenin ibu yah, ayah lagi nobar Bola di pos Ronda" lanjut Salsa pada Nadila
Kehadiran Salsa membuat Paul teringat kembali bahwa Nadila saat ini sudah tak dapat dia gapai lagi, lagipula jika perempuan itu ingin memberikan sesuatu padanya, bukankah itu akan semakin membuat Paul susah lupa.
"Ayo Sal" ujar Paul beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju mobil, begitupun dengan Salsa yang mengikut dibelakang.
Raut wajah kecewa tak bisa di sembunyikan Nadila, Entah karena Paul yang tak menghiraukan kehadirannya seperti hari-hari yang lalu atau karena Salsa yang jalan bersama dengan Paul yang tampak serasi dimata Nadila malam ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You