Malam minggu, malam yang identik dengan menghibur diri dari penatnya bangku sekolah ataupun tempat kerja. Jika biasanya Romy akan abai dengan sabtu malam, tapi tidak dengan malam ini, setelah shalat isya dia sudah memakai pakaian yang baru saja di beli saat pulang dari rumah sakit sore tadi.
Kemeja bermotif yang dominan berwarna cream dia biarkan terbuka tak terkanci, di dalamnya pria mengenakan kaos polos hitam. Lalu celana jeans yang berwarna senada dengan kaos hitamnya juga nampak cocok di kaki jenjang miliknya.
Nampak tak terlihat bahwa sosok Romy yang sekarang adalah seorang ayah anak satu, tampilannya masih bisa disandingkan dengan para bujang diluaran sana.
Setelah beberapa kali menyemprotkan parfum dan merapikan rambutnya, Romy mencobaba menenangkan diri sendiri kala kegugupan datang menghampirinya sejak tadi.
Dia sangat senang, tentu saja. Tapi perasaan gugup, sebab ini kali pertamanya mereka akan jalan bersama setelah Salsa memaafkan dan menerimanya kembali.
Membayangkan bagaimana dia akan menghabiskan malam bersama Salsa dan juga Aca sudah membuat perasaan bahagianya bertumpak meleber kemana-mana.
Subuh tadi, dia dan Salsa sepakat untuk tak memberi tau Aca dulu, sebab menurut mereka Aca perlu waktu dan tempat yang pas untuk di beritahu kebenarannya.
"MasyaAllah, ganteng banget gue. Pantesan punya istri dan anak pada cantik-cantik" monolog Romy
Setelah merasa cukup tenang, dia keluar lalu memasuki mobil dan mengeluarkannya dari garasi rumah. Selanjutnya mobilnya dia arahkan mendekat kearah rumah Salsa yang berada tepat di depan rumahnya.
Tak ingin membuat Salsa buru-buru, Romy hanya menunggu istrinya itu di dalam mobil tanpa membunyikan klakson sebagai tanda bahwa dia sudah menunggu diluar. Membiarkan Salsa memanfaatkan waktunya untuk memanfaatkan diri, kali saja wanitanya itu juga sama gugupnya dengannya.
Sekitar sepuluh menit Salsa keluar, lalu tersenyum kala melihat mobil Romy sudah terparkir tepat didepan rumahnya.
Sebelum Salsa mengetuk kaca jendela, Romy sudah lebih dulu turun menyapa Salsa yang nampak sangat cantik malam ini.
Lihatlah, seperti pasangan yang sebelumnya telah janjian, baju mereka pun berwarna senada sebab Salsa juga menggunakan dress dengan dominan berwarna cream, walau ada warna hitam yang mencampuri, namun tetap saja keduanya tampak serasi malam ini.
Romy terpana melihat penampilan istrinya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta, Salsa dengan segala magic nya bisa membuatnya tertarik tanpa ampun.
"Kakak udah nunggu lama?" Tanya Salsa
"Nggak ko, kamu udah siap?"
Salsa hanya tersenyum sebagai jawaban, wanita yang sudah melahirkan satu anak itu nampak seperti remaja yang memasuki butterfly eranya, Tangannya saling bertaut, juga kepalanya terus menunduk tak berani menatap Romy yang dalam pandangannya sangat tampan malam ini.
"Ayo kalau gitu kita berangkat. Aca sama Paul katanya masih di playground" ajak Romy pada Salsa, berusaha untuk menjadi pihak yang agresif sebab melihat Salsa yang masih saja tertunduk malu, padahal Romy pun tak kala gugupnya.
"Iya kak"
Romy membukakan pintu mobil untuk Salsa, mempersilahkan sang pujaan hati masuk dengan hati-hati.
Lalu dia memutar dan memasuki kursi pengemudi dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Beberapa menit di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta, keduanya sama-sama tak ada yang membuka suara padahal sangat ingin.
Salsa masih mencoba beradaptasi menjadi istri Romy kembali, sedangkan Romy selain fokus pada jalan di depannya, pria itu juga fokus melirik tangan kanan Salsa karena sangat ingin dia genggam
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romansa"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
