Salsa memilih duduk di kursi santai yang berada di dekat kolam, mengamati suami dan anaknya yang nampaknya sedang asyik berenang, tak ada lagi kecanggungan sebab Aca terlihat lepas bermain air dengan ayah biologisnya itu.
Hati Salsa menghangat terlebih melihat Romy yang memperlakukan Aca dengan sangat baik. Ah, memang seharusnya seperti itu kan, namun karena baru melihatnya di usia Aca yang sudah hampir empat tahun membuat Salsa baru pertama kali merasakan kebahagiaan seperti ini.
"Permisi" Seorang pria duduk disamping tempat duduk yang di tempati Salsa, mencoba menyapa Salsa namun tampaknya wanita itu tidak mendengarnya
"Kamu bukan orang asli sini yah?"
Salsa mencari sumber suara yang nampaknya sedang mengajaknya berbicara, lalu menemukan seorang pria yang sedang duduk di kursi santai disebelah kursi yang ditempati Salsa sekarang
"Bukan" jawabnya singkat
"Kesini sendiri atau sama teman?" terdengar sok kenal, pria itu terus saja membuka obrolan walaupun Salsa sangat terlihat enggan
Padahal sangat terlihat sekarang bagaimana sorot mata Salsa memperhatikan seorang pria dewasa yang sedang main air dengan anak kecil perempuan, namun nampaknya pria asing yang berada didekatnya saat ini tidak sadar "Sama suami dan anak"
'Oh, sudah berkeluarga?"
Dan Salsa tak lagi menjawab, dia rasa ucapannya tadi sudah menjelaskan tanpa harus dia ulang lagi.
Berbeda dengan Salsa yang kesal terhadap pria sok asik yang mendekatinya, Romy dan Aca masih menikmati air dengan sangat seru.
"Sayang, air kolamnya jangan diminum yah" Romy hampir setiap menit mengingatkan hal tersebut pada Aca, pasalnya sejak tadi putrinya itu nampak sangat penasaran dari rasa air kaporit ini.
Setelah itu, Aca kembali dibawah Romy mengelilingi kolam renang dengan pelampung yang bergambar bebek itu. Sangat lucu, apalagi saat Aca akan selalu berteriak kala Ayahnya itu menjahilinya dengan menggoyang-goyangkan ban pelampung gadis kecil itu.
"Aca seneng nggak?"
"Seneng, terima kasih yah om dokter" Agaknya Aca belum terbiasa dengan perubahan panggilan untuk Romy, namun perasaan Romy tidak bisa menunggu Aca untuk beradaptasi lebih lama lagi.
Dia sangat tak suka dengan panggilan itu sekarang,
"Ko om dokter lagi Aca?" protesnya dengan nada merajuk
Aca yang baru menyadari kesalahannya seketika menutup mulutnya merasa bersalah apalagi melihat wajah Romy yang ngambek dan membelakanginya, untung saja saat ini Aca sudah duduk di pinggir kolam.
"Maaf Ayah, Aca kan Lupa"
Sebenarnya Romy tak marah sama sekali, namun melihat nada bersalah Aca sekalian saja dia jahili anak perempuannya itu.
"Tau ah, Ayah mau main sama Kala aja" ucapnya, masih dengan posisi membelakangi Aca.
Kali ini Romy sudah mempunyai senjata, mengingat bagaimana posesifnya anak perempuannya itu tadi pagi Saat Kala hendak mendekatinya.
Aca tak terima, dengan cepat gadis kecil itu memeluk leher Romy dari belakang "Jangan main sama Kala ayah, walaupun Kala nggak punya ayah tapi Kala punya papi"
"Ayah cuma bisa main sama Aca doang, soalnya Aca itu anak ayah yang cantik kaya ibu"
"Emang ibu cantik?" Romy berbalik menatap Aca dengan gemas
"Cantik, kata om fajar juga ibu cantik banget ko"
Hanya dengan begitu, yang awalanya hanya pura-pura kesal, sekarang malah benar-benar merasakannya, entah pada siapa, intinya dia tak suka wanitanya dipuji oleh pria lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
