Romy menghembuskan nafasnya pasrah, saat mengendarai mobil dalam keadaan istri dan anaknya hanya sibuk diam tanpa mau mengobrol dengannya.
Awalnya dia kira sudah cukup banyak belajar perihal menjadi suami sekaligus ayah, namun ternyata dia masih banya kurangnya, terlebih dalam membaca perasaan kedua wanitanya itu.
Mencoba mengingat kejadian tadi dan tak menemukan dia yang kelewatan dalam memperlakukan wilda, Romy kira semaunya masih dalam tahap wajar.
Toh hanya tersenyum ramah dan berniat membantu rekan kerjanya, itupun tidak jadi karena Salsa datang lebih dulu.
Apakah cemburu wanita memang semurah ini?
"Aca marah yah sama ayah? Maafin ayah yah" ucap Romy mengelus lembut pipi anaknya.
Aca masih cemberut, tatapan matanya yang menurutnya menakutkan itu malah terlihat gemas dimata Romy.
"Coba bilang sama ayah, Aca marah gara-gara apa?" tanya Romy kembali, padahal sebenarnya dia sudah tau penyebabnya, tapi pria itu hanya ingin Aca bisa menceritakan hal apapun yang dia rasakan padanya.
Seperti pada Salsa, Romy sangat ingin Aca memperlakukannya sama dengan Salsa yang sudah menemaninya selama ini. Bukankah Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Walaupun telat membersamai, tapi Romy berjanji akan menghadiahkan kebahagiaan untuk sabarnya Aca selama empat tahun ini menunggunya.
"Ko Aca diam aja, Ayah lagi nanya ke Aca loh nak" sambung Romy saat melihat tak ada tanda-tanda anaknya itu akan cerewet seperti sebelum-sebelumnya.
"Aca nggak boleh gitu sama ayah, coba jawab pertanyaan Ayahnya dulu" Salsa menimpali, bagaimanapun kesalnya pada Romy, juga mengerti bagaimana perasaan Aca saat ini, namun dia sebagai ibu tetap harus memberikan contoh yang baik untuk anaknya.
Romy terpukau, padahal sudah seering melihat Salsa dengan mode keibuannya, namun tetap saja membuat dia selalu bangga dengan istrinya itu. Salsa yang ceroboh dengan ucapan absurdnya dulu, kini berubah menjelma menjadi malaikat bagi Aca.
Aca menoleh pada Salsa sebentar, lalu kembali menatap Romy yang melemparkan senyuman hangatnya, lebih hangat dibanding untuk Wilda tadi. Namun sayangnya, mulut yang harusnya mengeluarkan keresahan hatinya, terkalahkan dengan air mata yang sudah jatuh disertai dengan isakan tangis gadis kecil itu.
"Loh, Aca kenapa nangis?sini sama ayah" lembut sekali suara Romy menanyakan keadaan putrinya, bahkan pria itu sampai menepikan mobilnya untuk berhenti agar dia bisa berbocara secara leluasa pada Aca.
Hitungan detik, Aca sudah pindah duduk di pangkuan Romy sambil menghadap ayahnya itu. Suara tangisannya masih ada, bahkan lebih keras dibanding tadi, seolah berada dipangkuan Romy adalah temoat Aca mengeluarkan semua air matanya.
"Aca sayang, maaf yah Ayah sudah buat Aca kesal" ucapan tulus dari Romy untuk Aca, pria itu benar-benar tidak tega melihat putri kesayangannya itu menangis karena dirinya.
Merasa Aca belum bisa berbicara sebab tangisannya masih enggan untuk berhenti, Salsa melempar telepati pada suaminya, memberikan pesan bahwa biarkan dulu sampai Aca bisa meredamkan tangisnya sendiri.
Romy menurut, bagaimana pun Salsalah yang tau segalanya tentang Aca. Empat tahun menghadapi Aca dalam segala versinya, pasti istrinya itu tidak diragukan lagi dalam hal seperti ini.
Aca yang masih setia dalam tangisannya, namun perlahan menempelkan wajahnya ke dada milik ayahnya. Romy menyambut, dia memberikan pelukan yang hangat untuk sang buah hati.
Tak masalah bajunya mungkin sudah penuh dengan air mata, atau bahkan ingus dari anaknya sendiri, asalkan Aca merasa nyaman berada bersamanya, apapun Romy akan lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
