Bertemu Rania

3.2K 445 40
                                        

Ruang tamu dengan luas yang sederhana itu kini dipenuhi dengan dua keluarga yang sama-sama masih bingung dengan versi masing-masing, sementara itu si biang kerok hanya tersenyum canggung mendapati tatapan-tatapan menakutkan dari orang-orang yang berada disana.

Ayah Abu sudah menggunakan baju kemeja rapi walaupun dirinya masih setia dengan sarungnya, Ibu Nita tetap dengan dasternya dan Refal yang sudah berpakaian dengan kaos oblong dan celana jeansnya, tidak lupa gadis yang akan dilamar Paul sudah rapi dengan pakaian gamis terbaiknya, walaupun masih cukup bingung dengan situasi yang terjadi.

"Maaf pak raka, apakah yang di ucapkan Aca tadi adalah benar, bahwa kedatangan pak Raka bersama keluarga disini untuk melamar putri saya?" tanya Ayah abi, situasinya cukup membuatnya malu, jika benar keluarga besannya ini datang untuk melamar putri, bukankah sangat memalukan tanpa jamuan persiapan seperti sekarang.

"Iya pak Abi, maaf sebelumnya ini salah saya yang tak memastikan terlebih dahulu dengan putra saya mengenai niat melamar putri bapak, saya kira dia sudah membicarakan perihal ini pada Nadila sebelumnya" jawab Papa Raka

Tidak sepenuhnya salahnya, namun sebagai kepala keluarga dia merasa abai tak memastikan terlebih dahulu pada Paul untuk rencananya itu, pria paru baya itu fikir dengan Paul yang dengan lantang memintanya untuk melamar  anak orang, berarti putranya itu sudah berbicara sebelumnya pada Nadila.

Mama Rosa sejak tadi memberikan cubitan-cubitan kecil pada Paha paul, wanita itu mengomel tanpa suara pada putranya sebab merasa dipermalukan seperti ini.

Padahal mama Rosa sudah dengan semangat memilih seserahan untuk calon menantunya, namun ternyata hari ini Paul tak bisa memastikan dia diterima. Bagaimana kalau Paul ditolak, bukankah jadi sangat memalukan.

"Tidak mengapa pak Abi, kami hanya merasa tak ada persiapan sama sekali menyambut keluarga bapak. Istri saya tidak memasak banyak, juga rumah kami tak ada persiapan sama sekali"

Kedua kepala keluarga itu saling melemparkan maaf atas kekeliruan yang terjadi, sedangkan si pembuat masalah terus saja menatap Nadila dengan senyuman penuh harapnya. Tak memikirkan yang lain, sebab ini memang rencananya dari awal, walaupun tadi Aca sempat mengacaukan.

Sementara Nadila hanya diam, dia tidak menyangka bagaimana dengan beraninya Paul datang melamarnya walaupun dirinya tak menjawab apa-apa, apalagi pria itu kini membawa rombongan keluarga yang berpakaian rapi lengkap dengan seserahannya.

Apakah dia harus menerima walaupun dirinya sendiri tak yakin dengan Pria yang datang melamarnya, ataukah harus menolak walaupun dia sudah mulai mengerti perasaanya sendiri, bahwa dirinya sendiripun memiliki perasaan pada Paul.

Salsa dan Romy hanya diam saja, membiarkan para orang tua mengambil perannya, Salsapun juga sempat kaget saat mengetahui bahwa Paul belum mendapat izin dari Nadila untuk melamar secara formal seperti ini, namun mengingat bagaimana tingkah ajaib sahabatnya itu, Salsa memaklumi.

Refal selaku kakak laki-laki dari Nadila juga tak membuka suara, pria itu dengan anteng memangku Aca yang sejak tadi memainkan beberapa gelang yang cukup banyak ditangan pria itu. walaupun tak mengenal dekat dengan Paul, tapi dia merasa Paul adalah pria baik dan cocok untuk adiknya.

Lagi pula Refal menyukai konsep berani yang dilakukan Paul, tak ada salahnya kan pria menunjukan keseriusannya langsung seperti ini, walaupun terkesan menjebak namun tak ada masalah selagi Paul bisa bertanggung jawab dengan adiknya.

"Paul, ayah mau dengar dari mulut kamu langsung nak, apakah benar kamu menginginkan putri ayah untuk menjadi pendamping hidup kamu?" Ayah Abi menoleh pada Paul, walaupun sebelumnya Paul pernah mengatakan tentang rencananya melamar Nadila, namun Ayah Abi tidak menyangka akan secepat ini pria itu bergerak.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang