Mas siapa yah?

3.5K 527 143
                                        

Salah satu hal yang sangat Romy syukuri adalah bersatunya kembali dia dengan istri dan anaknya. Salsa dan Aca merupakan anuegrah terindah untuk hidupnya.

Menghabiskan hari dengan keduanya adalah sesuatu yang dulunya sangat dia impikan, beruntung Tuhan masih memberikan kesempatan. Romy akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik, juga akan menyiapkan telinga mendengar dua ocehan wanita yang memiliki sifat yang hampir sama itu.

Seperti malam ini, saat Salsa sedang melaksanakan shalat isya sendiri, sebab Romy sudah lebih dulu berjamaah di mesjid, Aca kembali dengan ocehananya yang sangat merdu ditelinga Romy.

"Ayah, Aca tadi main sama Kala terus kalanya jatuh pas lari, eh dia malah nangis" seperti biasa, segala kegiatan Aca akan selalu diceritakan pada Romy dan nama yang paling sering terucap dari mulut Aca adalah nama Kala.

"Kan anak laki-laki nggak boleh nangis, iyakan ayah?" lanjutnya meminta pendapat.

Agaknya bukan hanya Salsa yang akan selalu dimintai pendapat atau persetujuan dari Aca sekarang, Romypun akan diperlakukan sama oleh anak perempuannya itu.

"Yah nggak apa-apa dong nak, mungkin Kalanya sakit pas jatuh makanya dia nangis" jawab Romy, memberikan pengertian pada Aca

Lagian siapa yang bilang cowok ngga boleh nangis? Air matakan diciptakan bukan hanya untuk perempuan saja. Aca tidak tau saja bahwa ayahnya bahkan pernah menangis hampir setiap hari.

"Oh gitu yah? Tapi kala jadi nggak ganteng lagi karena nangis, ingusnya keluar banyak ihhhh" wajah Aca meringis kala mengingat bagaimana Kala saat menangis tadi.

Kali ini Romy juga ikut meringis, bukan karena membayangkan kondisi Kala seperti yang diucapkan Aca, tapi mode posesifnya menyala saat anak gadisnya itu memuji laki-laki lain

Walaupun usianya masih terbilang dini, namun Romy tetap saja tak suka.

"Aca nggak boleh muji-muji cowok lain selain Ayah" protesnya, memberi pemahaman pada anak perempuannya bahwa dialah pria satu-satunya yang bisa dipuji oleh anak gadisnya itu, yang lain Romy tak akan izinkan.

Aca berkedip polos, merasa heran dengan keberatan Romy yang tiba-tiba "Emang kenapa ayah? Kala memang ganteng ko, kalau Aca cantik"

"Pokoknya Aca nggak boleh bilang Kala ganteng lagi, yang ganteng di hidup Aca itu cuman ayah, nggak ada yang lain" tidak marah ko, Romy masih berbicara dengan lembut

"Tapi om gantengkan, ganteng ayah?" Tiba-tiba saja teringat Paul yang saat ini bahkan sedang memperjuangkan cintanya.

"Om ganteng?" Romy menepuk jidat, benar juga, nama Paul bahkan ada title ganteng dibelakang namanya yang diberikan adiknya itu sendiri.

Jika sudah begini, Romy sulit mencari Alasan lagi.

"Ya udah kalau om ganteng boleh, selain itu nggak boleh yah sayang" Romy memilih mengalah saja, toh Paul adalah adiknya

Dibanding mendengar petuah Romy, Aca lebih tertarik memegang kumis tipis yang tumbuh diatas mulut Ayahnya, merasa heran mendapati seperti itu sebab dia tak punya.

Tidak sampai disitu saja, tangan mungilnya juga memencet hidung Romy, karena merasa bentuknya berbeda dengan yang Aca punya

"Hidung ayah tinggi banget, Aca juga mau punya hidung tinggu supaya Aca gampang nafasnya" ucap Aca memegang hidungnya sendiri.

Romy terkekeh, ucapan Aca ramdom Aca selalu sukses menghiburnya "Nggak ada hubungannya dong sayang, lagian hidung Aca kan mancung kaya punya ayah"

"Nah kalau matanya Aca itu baru mirip ibu" lanjutnya

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang