Mencuri Pelukan

4.1K 445 134
                                        

Romy menenangkan diri di taman belakang rumahnya, mencoba menjernihkan fikirannya dari semua yang terjadi hari ini. Pria itu menyesal kembali, sebab membuka luka lama istrinya bahkan mungkin menorehkan luka baru.

Merasa dirinya gagal dalam menjaga perasaan Salsa, Romy mengutuk dirinya telah berinteraksi lebih lama dengan Rania dirumah sakit tadi, harusnya dia bisa lebih tegas pada wanita itu, bagaimanapun Salsa pernah terluka karenanya.

Tak mungkin bisa di ulang, kali ini Romy mencoba menyiapkan diri dari semua amarah Salsa padanya, dia yakin wanita itu akan merajuk lebih parah dibanding saat dia cemburu pada Wilda tempo hari.

Ah, padahal baru semalam dia bisa bermesra-mesraan dengan istrinya itu, hari ini kembali di uji lagi.

Romy berjanji akan menempuh apapun usaha untuk Salsa bisa memaafkannya dan membuang semua tuduhan-tuduhan dari wanita itu, dia mengerti bahwa wanita kesayangannya itu tak akan luluh hanya dihadapi dengan diam saja, namun harus ada tindakan agar Romy bisa membuktikan.

Setelah merasa cukup tenang, Romy memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan akan berusaha membicarakan perihal masalahnya dengan Salsa, semoga saja istrinya itu sudah bisa diajak bicara dalam keadaan tenang.

Sementara itu, di dalam kamar sudah ada Aca yang baru saja masuk menemui ibunya, matanya sembab sebab mengkhawatirkan kondisi Salsa yang tak bisa dilihatnya sejak tadi, terakhir dia hanya melihat ibunya itu jatuh pingsan tepat di hadapannya.

Aca berjalan dengan cepat naik ke ranjang dimana Salsa sedang berbaring di atasnya, gadis kecil itu langsung memeluk ibunya dengan tangisan yang perlahan pecah kembali.

"Ibuu, Aca sedih karena tadi ibu jatuh terus tidur di lantai"

Salsa mengusap punggu putrinya itu, untung saja Salsa sudah menghapus air matanya terlebih dahulu sebelum Aca menghampirinya, jika tidak, bisa dipastikan anaknya itu semakin sedih melihatnya menangis.

"Ibu nggak apa-apa nak, cuman kecapean aja tadi" jawab Salsa, namun tak ulung membuat tangisan anaknya itu reda.

"Ibu capek karena Aca nakal yah?"

Salsa mendengarnya lantas mengencangkan dekapannya pada Aca, mengerti bahwa Aca akan selalu menyalahkan dirinya sendiri jika melihat Salsa kecapean ataupun jatuh sakit.

Aca  sejak dulu selalu menjadi anak baik yang penurut, mengerti bahwa hanya tinggal berdua dengan Salsa membuatnya cukup mengerti memposisikan dirinya menjadi anak baik yang gampang di urus

"Nggak dong, Aca nggak nakal kok. Anak ibukan selalu baik"

Aca menatap wajah ibunya saat mendengar ucapan Salsa, Salsapun demikian, wanita itu memberikan senyuman penenang untuk anaknya, walaupun di mata Aca masih terlihat kesedihan namun tangisannya mulai reda perlahan.

"Tadi gimana dirumah nenek? Aca senang?" Salsa mencoba mengalihkan pembicaraan, jika terus dilanjutkan maka Aca akan terus dengan kesedihan melihatnya sakit

Aca mengangguk antusias, sepertinya hendak menceritakan bagaimana harinya dirumah Ayah Abi, namun detik selanjutnya Aca menggeleng lemah, raut wajahnya berubah murung kembali.

"Kenapa sayang?"

"Aca senang, tapi Aca juga sedih karena kepikiran sama ibu" jawabnya.

"Ibu nggak apa-apa nak, lihat nih ibu udah sehat, udah bisa ciim Aca yang banyak kaya gini" Salsa melabuhkan beberapa kecupan di semua sisi di wajah putrinya, tak berhenti sampai Aca tertawa geli karenanya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, Aca sudah tertawa bahkan terbahak-bahak karena Salsa juga menggelitik di bagian perut anaknya, keduanya larut dalam canda dan tawa sampai dering telfon Salsa menghentikan mereka.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang