Paul dan Nadila nampak seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan malam minggunya, setelah makan malam tadi Romy menyuruh Paul untuk mengantarkan Nadila pulang sebab dia yang akan menghabiskan malamnya bersama dengan Salsa dan Aca.
Romy dan Salsa pun tadi sudah memberi tahu masalah mereka yang akan kembali bersama. Tentu saja Paul berada dalam pihak yang sangat senang, dia adalah orang yang sedikit banyaknya tau bagaimana Hancurnya Romy selama Salsa meninggalkannya.
Saat ini Paul dan Nadila duduk berdua di pinggiran pantai dengan memakan salah satu kuliner khas di daerah makassar, itu permintaan Nadila sebab makanan tersebut adalah kesukaannya
"Ngga ada yang lo mau makan atau beli lagi kan?" Tanya Paul
Jujur saja, Nadila tidak suka mendengar panggilan dan juga nada ketus Paul sekarang, dia rindu bagaimana pria itu dulu sangat lembut jika berbicara padanya.
Nadila menggeleng lemah "Paul, aku nggak ngerepotin kamu kan kalau nebeng pulang?"
"Ngerepotin lah, tapi itu perintah dari abang gue. Bisa di usir gue kalau sampai nggak nganterin lo pulang" Alasan yang sebenarnya tak masuk akal, bagaimana mengantar Nadila bisa pria itu sebut merepotkan, sedang rumah yang mereka tempati saja posisinya berhadapan.
Nadila hanya diam, ini bukan kali pertama Paul dengan semua ucapan tajam untuknya, wanita itu mencoba memahami bahwa semuanya tak seperti dulu lagi.
"Maaf" ujarnya.
Mengingat bagaimana Kecelakaan yang menimpa Paul dulu, membuat Nadila merasa sangat bersalah, bagaimana pun secara tidak langsung dia ikut andil sebagai penyebab kecelakaan pria itu.
Dan malam ini, Nadila memberanikan diri meminta maaf, walaupun nantinya Paul tak menerima maafnya atau bahkan tak peduli lagi, setidaknya Nadila menjadi pihak yang bersalah sudah menurukan ego untuk memohon maaf.
"Untuk apa?" Nada Pria yang biasanya terdengar hangat itu kini berubah dingin dan datar.
Nadila menoleh menatap Paul yang sepertinya enggan untuk menatapnya, pria itu memandang luas pantai dihadapannya, seolah disana ada sesuatu yang lebih menarik di banding Nadila.
Objek favoritenya empat tahun yang lalu.
"Untuk semuanya, untuk kesalahanku dan semua yang terjadi sama kamu, aku dengan tulus meminta maaf" jawab Nadila, gadis itu juga mencoba tenang kala si lawan bicara bersikap demikian.
"Aku udah lupain, lagian nggak penting juga" jawab Paul, semuanya masih sama dari mimik wajah dan suaranya, tak ada yang berubah.
Tak langsung merespon, jawaban Paul seolah mencuri semua kata yang dipersiapkan Nadila untuk dikeluarkan. Tidak penting? Menurut Paul semuanya tidak penting, sedangkan Nadila hidup beriringan dengan rasa bersalah selama empat tahun ini.
Nadila menatap Paul lekat, walau netranya tak bertemu langsung dengan pria disampingnya itu, mencoba mencari masih adakah sosok Paul yang tersisa dari empat tahun yang lalu.
"Kamu berubah" ucap Nadila kembali
Mendengar itu, tatapan yang tadinya fokus kedapan akhirnya menoleh menatap Nadila, pandangan mereka bertemu, beberpa detik namun berefek luar biasa untuk keduanya.
Paul pihak yang lebih dulu memutuskan tatapan yang seolah menyalurkan kerinduan, lalu detik selanjutnya kembali ke posisi semula, lurus memandangi laut malam yang masih terlihat indah.
"Nggak apa-apa, aku sadar berubahnya kamu sekarang penyebabnya adalah aku" ujar Nadila kembali, seolah tak tersinggung dengan diamnya Paul sejak tadi.
"Tapi apa kamu tidak bisa bersikap layaknya teman sama aku?" Sebagai perempuan yang pernah diratukan oleh Paul, perubahan pria itu sedikit banyaknya membuat Nadila tak terima, Paul bersikap Normal dihadapan Salsa dan Aca sedangkan ketika bersamanya, pria itu seolah dingin tak tersentuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romantik"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
