Double date

2.5K 235 26
                                    

Malam ini seperti ketakutan Salma sebelumnya, Paul akan menerornya untuk menagih janjinya perihal Pesan suara Nadila. Melalui sambungan vidio call nampak wajah Paul yang sudah sangat kesal disana.

"Sabar dong ul, ini gue baru nyari strategi buat nyuruh el" Entah sudah kata sabar berapa kali dilantunkan Salma untuk Paul, tapi dasarnya Paul yang memang memiliki kesabaran yang setipis tisu di bagi 10 itu tetap saja tantrum

Bagaimana bisa Salsa melakukannya sekarang sedangkan Nadila lagi membantu ibunya menyiapkan makan malam, bisa-bisa bukan hanya kemarahan dari Nadila saja yang Salsa terima tapi juga dari ibunya.

"Lo udah berapa kali yah ngibulin gue, awas aja kalau sampai yang ini lo ngibulin gue lagi"

Seolah menantang, Salma menampilkan pandangan mematikannya untuk Paul "Nggak usah banyak gaya lo, temen lo cuman gue nggak usah banyak bertingkah"

Fokus Paul teralihkan setelah melihat abangnya memasuki kamar "Ul, kamu punya gunting?

"Ada bang, tunggu aku ambilin" jawab Paul lalu beralih dari tempatnya dan mengabaikan vidio call Salsa

Pipi Salsa bersemu, mendengar suara samar dari Romy saja bisa membuatnya berbunga-bunga seperti saat ini, apalagi jika dirinya benar-benar melakukan vidio call dengan Rony, bisa-bisa setiap setrika dia akan mencapture wajah tampan milik pria idamannya itu

"Ul, aku tuh baru selesai masak, setelah itu tadi aku juga bersih-bersih terus bantu ayah urus kebunnya terus sekarang mau belajar" ujarnya Salsa dusta, dia hanya menjalankan aksinya, dia tau jika Paul mengaktifkan mode loudspeaker di Hp nya yang otomatis saat dia bicara Romy dapat mendengarkannya.

"Brisik lo Salsaaaa" teriak Paul yang baru saja mengambil sebuah gunting di laci meja belajar miliknya

Sedangkan Romy, tak menghiraukan Salsa sedari tadi, dia masih asyik bermain di handphonenya

"Ini bang" Paulpun memberikan gunting yang di minta Rony, setelahnya abangnya itu keluar dari kamar

"Pencitraan lo jelek" cemoohnya setelah kembali melihat wajah Salsa di layar handphonenya

Salsa langsung mematikan panggilan telfonnya yang membuat Paul mendengus kesal "dasar nggak punya sopan santun emang ni anak"

***
Sebenarnya bukan tanpa alasan Salsa langsung mematikan vidio callnya dengan Paul, perempuan cantik itu akan memulai misinya untuk mendapat ucapan semangat dari Nadila untuk Paul

"El, ayolahhh sekali ini aja" Pinta Salsa kembali, sebab sebelumnya dia sudah mengutarakannya tadi sore yang tentu saja tidak diindahkan oleh Nadila

Nadila tak menghiraukan Salsa, memilih mengambil buku dalam tasnya dan membawanya kemeja belajar miliknya

"Pliss bantuin aku El" Salsa tak gentar, diapun menghampiri Nadila ke meja belajarnya walaupun saat itu kembarannya sudah mulai membaca buku tebal bercover hitam.

"El, ayo dong bantuin aku" pintanya sekali lagi

Nadila terusik dengan suara Salsa yang sedari tadi, dirinya beralih menatap wajah memohon kembarannya

"Kamu kan yang kasi nomor aku ke Paul?"

Skak

Belum juga dapat voice note, ini malah dapat ceramah dari Nadila, Nadila sendiri sudah tau jika Salsa lah pelakunya

"Kenapa nggak minta izin dulu Er, nomor WA itu privasi asal kamu tau" Lanjut Nadila menasehati

"Maafin aku yah, tapi Paul orang baik ko dia nggak bakalan sebarin nomor kamu" Salsa mengaku salah, meminta maaf yang tulus pada Nadila

If it is YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang