Berkisah tentang kehidupan Daniel dan kawan kawan setelah Perang melawan Andres. Apa semuanya sudah kembali baik baik saja? Apa hidup mereka sudah kembali tenang? Tidak ada yang tau. Mereka semua telah melewati berbagai macam kebahagiaan dan kehilan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Acara makan makan dan kumpul bersama di Villa masih berlanjut hingga sore hari, pukul 4 sore para anak muda itu membersihkan Villa secara gotong royong--kecuali para gadis. Dari mulai menyapu, mengepel lantai, cuci piring bahkan memangkas rumput liar yang mulai memanjakan di halaman belakang Villa. Jika begini mereka ingat masa masa SMA saat masih tinggal bersama di Villa, menjalankan piket mingguan dan kerja bakti.
Sementara para pria kerja bakti, para gadis berkumpul di Ruang Tengah sambil mengobrol santai. Rana yang sudah bangun tidur pun ikut bergabung dengan kakak kakak cantik nya, Sean juga mengajari Karina cara mengepang rambut karna gadis itu tidak bisa melakukan nya sendiri. Sedangkan Valerine duduk diam sembari memperhatikan Laras bermain game, gadis bali itu tiduran dengan paha Valerine sebagai bantalnya.
"Lo sama Jo udah berapa tahun, ras?" Tanya Valerine pada Laras.
Laras menjawab. "Kayak nya setahun, kak. Ngga tau juga sih lupa hehe~" Cengirnya lucu. Laras memang memanggil Valerine dengan 'Kakak' karna ia merasa segan.
"Tapi keluarga Jonathan baik sama lo? Udah pernah ketemu Ibu nya?"
Laras menggeleng.
"Jo ngga pernah mau ngajak gue ketemu sama Ibu nya, dia cuma pernah ngajak gue ke makam Bunda. Jo bilang Ibu nya ya cuma Bunda Fanni" Laras menghentikan permainan nya, dia bangkit dan merubah posisinya duduk disebelah Valerine.
"Ternyata dia masih belum berdamai sama masa lalunya"
Valerine sangat menyayangkan sikap Jonathan yang tidak mau berdamai dengan masa lalunya, tapi dia juga tidak ingin menyalahkan Jonathan karna semua terjadi bukan karna kemauannya. Sampai hari ini Jonathan memang belum bisa memaafkan dan menerima Cassandra sebagai Ibu nya, pria itu hanya membuka sedikit ruang dihati nya untuk Giovani.
"Tapi kalo gue jadi Jo juga pasti ngelakuin hal yang sama, val. Bayangin aja gimana marah dan kecewa nya seorang anak yang bahkan belum ada dosa sama sekali waktu itu?" Yoshita ikut bergabung dengan pembicaraan mereka berdua.
"Gue setuju, ta. Tapi sayang juga kalo Jonathan ngga bisa damai sama keluarga nya, apalagi dia masih punya Adik" Timpal Diandra.
Mereka mengangguk menyetujui ucapan Diandra, Joanna masih remaja dan Jonathan sudah mulai dewasa--tidak mungkin mereka selamanya hidup dalam ketidak-harmonisan keluarga.
"Lo sendiri? Gimana sama Arthur?"
Diandra mendadak diam dengan pertanyaan Valerine. Jujur dia tidak tau harus menjawab bagaimana, Arthur sering sekali menemui nya diam diam didepan rumah tanpa berniat masuk. Diandra tau karna pernah tidak sengaja melihat Arthur berdiri diluar pagar rumah nya dalam waktu yang cukup lama.
"Menurut lo gue harus terima dia?" Diandra bertanya balik pada Valerine.
"Tergantung gimana hati lo. Jangan terima dia cuma karna kasihan, itu sama aja nyakitin perasaan Arthur"